Jenaka Sang Penyair

  • Whatsapp
Avatar Facebook

Barisan.co – Syahdan, Abu Nuwas al-Hasan, seorang penyair besar pada masa Dinasti Abbasiyah. Ia terkenal dengan kecerdikannya. Harun al-Rasyid berkali-kali ingin mengalahkannya, tapi tak pernah menang.

Dalam suatu kesempatan, sang khalifah ingin menguji kelihaian penyair favoritnya itu. “Kamu harus ikut mereka mandi di sungai Furot, Irak! Dan, yang  balik idak bawa telur akan dihukum mati.”

Bacaan Lainnya

Ya, ada empat pengawal Harun al-Rasyid, semuanya membawa telur sebelum masuk ke sungai. Hanya Abu Nuwas yang tak membawa telur. Padahal jelas, bagaimana mungkin mencari telur ayam di dalam sungai. Semua yang turut menyaksikan, terlebih Harun al Rasyid, yakin Abu Nuwas bakal kalah.

Namun, Abu Nuwas tetap tenang. Lalu dipanggillah semua orang yang sudah masuk ke sungai dengan membawa telur. Hanya Abu Nuwas yang datang dengan tangan kosong, seraya berkata, “Saya ini kan ibarat ayam jantan, jadi tidak bisa bertelur.”

Konon, Harun al-Rasyid terpaksa mengangguk heran, “Kok bisa orang secerdas ini!”

Jadi, Harun al-Rasyid sudah kehabisan akal untuk mengalahkan kecerdikan Abu Nuwas. Malah ia sangat menyukai Abu Nuwas. Selain menghibur, juga sebagai kawan cerdas bermain tebak-tebakan , Termasuk saat ditanya, “Di mana letak tengah bumi?”

Abu Nuwas menancapkan kayu, lalu, “Ini dia letak tengah bumi. Kalau tak percaya silakan ukur sendiri!”

Begitulah. Sehingga  kisah Abu Nuwas menjadi legenda. “Meskipun sebagian kisahnya fiktif, tapi saya punya kitab Abu Nuwas. Berisi cerita-cerita fiktif. Tapi tetap menarik dibaca. Saya suka pada sisi ilmiahnya.” ujar Gus Baha.

Ada filosofi di balik humor kisah Abu Nuwas. Semisal ini, Gus Baha menuturkan, pada suatu pesta, Abu Nuwas datang dengan memakai baju jembel. Baju orang awamlah. Akibatnya, ia diusir. “Ini undangan buat orang-orang perlente, orang-orang khusus, terpandanglah pokoknya. Jadi tidak mungkin kamu dapat undangan.” Kata penjaga pesta.

Abu Nuwas terusir. Dan, pulanglah dia. Kemudian, balik lagi ke pesta dengan memakai jas jubah bagus, celana bagus. Ia pun lantas disambut dengan penuh hormat. Penuh kehangatan. Ia dipersilakan makan dan minum sepuas mungkin.

Abu Nuwas kemudian mengambil anggur, dan dituang ke kantong jasnya. Berikut kantong celananya. “Ini semua untukmu, saya tak berhak.”

Abu Nuwas mengambil makanan, juga sama, ditumpahkan dalam kantong jasnya. Ke dalam kantong celananya. “Ayo jubah, ayo celana, makanlah! Ini hakmu. Karena kamulah yang sebetulnya disambut bukan aku.”

Orang-orang yang menyaksikan mengira Abu Nuwas itu gila. Nyaris digelandang keluar. Lantas si penyair itu pun menjelaskan, “Tadi saya datang, tapi diusir lantaran pakai baju-celana biasa. Namun, setelah ganti kostum, saya pakai jas dan celana bagus yang berharga mahal, saya disambut hangat. Saya dipersilakan makan. Dipersilakan minum. Berarti yang diundang ke pesta ini bukan saya, melainkan jas dan celana bagus ini.”

Akhirnya, orang-orang yang mengerumuni Abu Nuwas sadar, dan salah seorang dari mereka berkata, “Betapa bodohnya kami. Saya kira kamu gila, ternyata sebaliknya, justru teramat pintar.”

“Jadi kalau kapan-kapan kamu pakai jas, dan disambut hangat, maka yang berhak makan itu jasmu. Semua makanan itu adalah hak jasmu.” kelakar Gus Baha. “Itu aslinya pelecehan kan! Dan, betapa bodohnya orang-orang masa kini. Menghormati orang karena atribut luar yang dipakai. Menghargai karena baju yang dikenakan, bukan orangnya.”

Abu Nuwas, yang hidup pada abad ke-8, seolah mengingatkan kita hari-hari ini. Kemudian diceritakan pula oleh Gus Baha, suatu ketika Harun al-Rasyid berjalan-jalan, dan melihat ada seorang perempuan lagi mandi. Dulu model kamar mandi itu terbuka, sehingga sang khalifah bisa melihat rambut perempuan itu. Lalu dia memejamkan matanya, tapi tetap saja, teramat sangat membekas dalam benaknya. Dia tahu perempuan itu cantik. Dia tidak bisa tidur semalaman. 

“Zina nggak berani, melupakan nggak bisa.” ungkap Gus Baha. Intinya, bingunglah sang khalifah terkenal di Dinas Abbasiyah itu. “Mau poligami pun rasanya tak pantas. Lha wong sudah beristri empat. Sudah tak bisa nambah pokoknya.” lanjut Gus Baha.

Akhirnya, Harun al Rasyid memanggil semua pujangga yang ada di kota Thus dan sekitarnya. Termasuk Abu Nuwas. Semua penyair datang  dan membacakan syair. Namun, tidak ada yang bisa menenangkan sang khalifah. Hingga giliran Abu Nuwas, dan langsung ia bersyair bahwasanya ada seorang lelaki yang tersiksa karena melihat perempuan. Si laki-laki itu tak bisa tidur. Hendak zina tidak berani, melupakannya pun juga tak sanggup.

Harun al Rasyid, di tengah-tengah Abu Nuwas membacakan syair, bertanya: “Kamu ngintip ya?”

“Tidak, tidak.” jawab Abu Nuwas.

Semenjak itu, Harun al-Rasyid yakin bahwa Abu Nuwas itu mukhasyafah. Abu Nuwas itu hebat. Ia bisa membaca sesuatu di balik hijab. Semenjak itu Harun al Rasyid mengagung-agungkan Abu Nuwas. Kemudian, Abu Nuwas terkenal sebagai penyair besar, dan sekaligus sufi hebat.

Ada ungkapan terkenal dari Abu Nuwas: “Derajatku ini sudah seperti gelas putih yang bersih dan berisi air. Sekira orang melihat, seperti air tanpa gelas, atau sebagaimana gelas tanpa air. Jadi kewalianku  dan kegilaanku itu telah menyatu.”

Benar-benar Abu Nuwas al-Hasan, seorang jadzab, sekaligus pintar. Namun, Harun al Rasyid juga pintar. Sampai-sampai Gus Baha pun mengirim fatihah kepada Harun al Rasyid. Gus Baha merasa masih berutang jasa pada Harun al Rasyid.

“Saya belum pernah melihat khalifah seperti Umar ibn Abdul Aziz, maksudnya selain sahabat Nabi saw, kalau sahabat sudah jelas derajatnya di atas beliau. Harun al-Rasyid adalah seorang raja. Yang namanya raja, ada saja sombongnya.  Sesaleh-salehnya raja, tetap saja raja. Sesaleh apa pun raja, tetap saja duduknya di atas singgasana. Dan kalau Musthofa menghadap, pasti duduknya di bawah. Karena dia raja, meskipun saleh.”

Suatu hari, sebagaimana diceritakan dalam kitab al-Manhaj al-Sawi, menghadaplah seorang penceramah yang sok suci, sok benar, kepada Harun al Rasyid. “Saya mau mengkritik Anda atas kesalahan-kesalahan Anda. Dan, kritik saya ini sangat pedas, sangat keras. Tolong jangan diambil hati! Jangan tersinggung!”

Harun al Rasyid menjawab santai, “Wahai mubalig bodoh! Apa alasanmu marah kepadaku dengan tanpa etika seperti itu? Bukankah Allah telah mengutus orang yang jauh lebih baik dari kamu, dikirim kepada orang yang lebih buruk dari aku. Allah mengutus Nabi Musa berdakwah kepada Firaun. Sekalipun begitu, Nabi Musa tetap diharuskan sopan kepada Firaun. Harus berbicara dengan baik dan halus! Lalu kamu yang bukan siapa-siapa, berbicara kepadaku sambil marah-marah? Hai orang bodoh, pulanglah! Otak bodoh kok kepingin menasehatiku.”

Kemudian, si mubalig itu meminta maaf kepada Harun al-Rasyid, “Ternyata Anda lebih pintar dari saya.”

“Maka, kiai yang sering kali memakai kekerasan harusnya mikir. Kurang hebat apa Nabi Musa! Dan, lebih buruk mana kemaksiatan sekarang dengan perbuatan Firaun. Itu pun Nabi Musa tetap diharuskan sopan kepada Firaun.” imbuh Gus Baha.

Ya, Harun al Rasyid, murid Imam Malik. Tak aneh, dia paham filosofi al-Quran. Dia pintar. Dia hanya kalah oleh Abu Nuwas. Berhadapan dengan orang jadzab itu ia kerepotan. Pernah, Harun al Rasyid mengadakan sayembara: “Siapa pun yang punya cerita yang bisa membuatku tidur, akan saya beri hadiah.”

Lalu datang seorang ahli cerita 1001 Malam. Dia bercerita dengan asyiknya. Ketika sudah pukul 23.00, “Lho saya kok tidak bisa tidur, berarti kamu gagal. Karena tak bisa menidurkanku.” potong Harun al Rasyid.

Berikutnya datang  lagi seorang ahli cerita, dan ceritanya memang mengasyikkan. Dan lagi-lagi, hingga larut malam, Harun al Rasyid tetap tak bisa tidur, diusirlah orang tersebut. Terakhir dipanggillah Abu Nuwas.

“Ada semut,” Abu Nuwas memulai cerita, “masuk ke telinga. Semut itu penasaran apa isi telinga. Setelah masuk, baunya busuk, semut itu pun keluar. Setelah keluar, ia masih penasaran, masuk lagi ke dalam telinga. Dan, ternyata tetap menemu bau busuk, lalu keluar.  Begitu di luar, ia penasaran lagi, lalu masuk dan keadaan tetap sama, keluar lagi.”

Lama-lama, kata Harun al Rasyid, “Ceritamu nggak mutu sama sekali, mending saya tidur.”

Dan, sang khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyah itu pun tidur, tak tahan dengan cerita Abu Nuwas yang menjemukan. Sehingga, otomatis, Abu Nuwaslah pemenangnya.

Demikian.

Supardi Kafha
Latest posts by Supardi Kafha (see all)

Pos terkait