Barisan.co
Tak ada hasil
Lihat semua hasil
Barisan.co
Tak ada hasil
Lihat semua hasil
Barisan.co
Tak ada hasil
Lihat semua hasil
Beranda Kolom Mata Budaya

Kembali Ke Memorandum Dewan Kesenian

:: Eko Tunas
26 Januari 2022
dalam Mata Budaya
Memorandun Dewan Kesenian Semarang

Pagelaran seni di halaman kantor Dewan Kesenian Semarang/Foto: Barisan.co

Bagi ke FacebookCuit di TwitterBagikan ke Whatsapp

Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Kesenian Semarang, mengapa memorandum perlu sebagai pegangan Dewan Kesenian. Sebab dari kecenderungan gelombang bentuk seni baru, mesti merujuk pada UU..


BARISAN.CO – SABTU 29 Januari 2022, Dewan Kesenian Semarang (Dekase) mau menggelar Musda. Rembug itu akan memilih Ketua baru, setelah periode Handry TM. Dipastikan tiga calon dan 150-an pelaku seni akan duduk satu ruang. Adin Salahadin, anak muda yang mandegani komunitas seni budaya Hysteria di Semarang mberung di FB, kelompoknya tidak diundang.

“Kalau saya pribadi tidak diundang nggak pateken, tapi Hysteria sudah berkiprah delapan belas tahun, mengapa tidak mendapat undangan. Bagaimana kriteria diundang dan tidak diundang? Sungguh ora cetho!”

Kita mulai dari pertanyaan, apa itu Dewan Kesenian (DK). DK adalah lembaga kesenian bentukan dan kepanjangan tangan pemerintah dalam pengelolaan kesenian. Bersamaan kemenangan orde baru, dunia kesenian (modern) mengalami satu gelombang kreativitas tak terbendung.

Satu gelombang seni modern mendunia, yang tidak bisa diantisipasi melalui lembaga pemerintah yang ada, Debdikbud atau Pariwisata. Maka perlu dibentuk satu lembaga khusus, semi pemerintah, yang bisa nataki gelombang kesenian baru itu.

BACAJUGA

puisi puasa

Puisi Puasa dan Puisi Idul Fitri

4 April 2022

Maka untuk yang pertama dibentuklah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang sekaligus sebagai pengelola Taman Ismail Marzuki (TIM), dengan ketua pertama Umar Kayam. Setelah itu bermunculan DK-DK di kota-kota Indonesia. Mengantisipasi hal itu maka pemerintah mengadakan Kongres DK se Indonesia I di Ujung Pandang. Dari kongres itu dihasilkanlah Memorandum DK, sebagai kitab panduan DK-DK se-Indonesia.

Mengapa memorandum perlu sebagai pegangan DK. Sebab dari kecenderungan gelombang bentuk seni baru, mesti merujuk pada UU, untuk tidak meninggalkan bentuk-bentuk seni asli (kesenian rakyat atau tradisional). Dan atau pengembangan seni asli itu, sebagai dasar kreativitas yang mungkin.

Bahwa, menjaga bentuk asli berbeda dengan usaha pelestarian. Yang dimaksud pelestarian adalah menumbuh kembangkan, atau atas makna lestari itu. Dari itu muncullah kreativitas sebagaimana Bengkel Teater Rendra yang menggali ketoprak untuk pementasan “Perampok” atau “Panembahan Reso”, Teater Kecil Arifin C Noer dengan gaya tengul atau lenong, atau Teater Mandiri Putu Wijaya dengan roh drama gong Bali atau rangda.

Kreativitas dalam bidang kesenian lain, tak terkira pula. Misalnya pertunjukan musik Swara Mahardika Guruh Soekarno Poetra, Depot Musik Bandung Harry Roesli, hingga Kiai Kanjeng Emha Ainun Nadjib. Pun dalam seni rupa, dari Nasirun hingga Heri Dono. Tentu lebih tereksplor adalah jagat seni tari, dari Huriah Adam hingga Sardono W Kusumo.

Ada silang sengkarut langkah Dewan Kesenian, manakala mereka tidak merujuk pada memorandum. Itu sebabnya, antaralain, banyak DK yang mengalami pasang surut dalam langkahnya. Antara lain karena, dalam aktivitasnya mereka tak ubahnya Event Organizer (EO) yang asal menyelenggarakan even dari karya pengurus sendiri. Tidak bagaimana mengantisipasi kreativitas yang termaktub dalam memorandum.

Pasang surut juga terjadi karena perbedaan dana yang diterima setiap DK berbeda. Itu mengingat dana DK memang dari APBD. Contoh misal dana 2021 untuk DK Tegal mencapai 400 juta. Tapi untuk Pekalongan dan atau Jepara, kurang dari 50 atau 100 juta. Silang sengkarut nilai dan teknis ini yang kiranya perlu diteguhkan dalam kongres mendatang.

Tak lain untuk menjawab persoalan itu, hingga pertanyaan-pertanyaan yang — misalnya — membuat DK Solo pernah vakum karena membubarkan diri. Termasuk pertanyaan Adin Hysteria di awal tulisan ini bisa terjawab, sehingga tidak muncul dugaan yang menjadi pokok atau dasar referendum: jangan sampai DK dipolitisir atau dipolitikisasi. Atawa dengan bahasa romantis: supaya tidak ada dusta di antara seniman. [Luk]

Editor: Lukni
Topik: Dewan Kesenian SemarangHysteria SemarangKesenianUmar Kayam
Eko Tunas

Eko Tunas

Eko Tunas, budayawan, tinggal di Semarang.

POS LAINNYA

Ellya
Mata Budaya

Ellya dalam Lakon Monolog “Bidadari Kesepian”

15 Mei 2022
puisi puasa
Mata Budaya

Puisi Puasa dan Puisi Idul Fitri

4 April 2022
ibu uun
Mata Budaya

Ibu Uun, Semangat yang Tak Pernah Surut

26 Maret 2022
Teater RSPD
Mata Budaya

Teater RSPD dan Eti Sudarman

22 Maret 2022
kuaci matahari sufi
Mata Budaya

Kuaci Matahari Sufi

21 Maret 2022
menata hati
Mata Budaya

Menata Hati

20 Maret 2022
Lainnya
Selanjutnya
Cara Menjaga Organ Pernapasan

Cara Menjaga Organ Pernapasan, Masih Bisa Bernapas Normal?

Presiden Resmikan Proyek DME, Saatnya Ucap Sayonara pada LPG?

Presiden Resmikan Proyek DME, Saatnya Ucap Sayonara pada LPG?

TRANSLATE

TERBARU

Kolaborasi dan Ekosistem, Penopang Model Bisnis Bank Digital

Kolaborasi dan Ekosistem, Penopang Model Bisnis Bank Digital

20 Mei 2022
ekspor beras DKI Jakarta

Peristiwa Bersejarah, DKI Jakarta Ekspor Perdana Beras ke Arab Saudi

20 Mei 2022
Kesusastraan jawa

Kesusastraan Jawa, Tinjauan Umum dan Jenisnya

20 Mei 2022
Polusi Membunuh 9 Juta Orang di Dunia Tiap Tahunnya

Polusi Membunuh 9 Juta Orang di Dunia Tiap Tahunnya

20 Mei 2022
Surplus/Defisit (Rp Triliun), 2000-2022

Surplus/Defisit (Rp Triliun), 2000-2022

20 Mei 2022
berharaplah kepada allah

Berharaplah Kepada Allah, Hati Jadi Tenang

20 Mei 2022
Fakta-fakta Seputar Minyak Goreng Curah yang Batal Dilarang Penjualannya

Ekspor Kembali Diizinkan Meski Harga Minyak Goreng Masih Tinggi, Bukti Ketidakbecusan Menteri Jokowi

20 Mei 2022

SOROTAN

Kasus Ruhut Sitompul
Opini

Kasus Ruhut, Waktu yang Tepat Rekonsiliasi

:: Yayat R Cipasang
16 Mei 2022

Kasus Ruhut Sitompul

Selengkapnya
Penyakit Mulut dan Kuku Kembali Mewabah Gegara Tergiur Impor Ternak Murah

Penyakit Mulut dan Kuku Kembali Mewabah Gegara Tergiur Impor Ternak Murah

11 Mei 2022
Ganjar Little Jokowi

Ganjar Little Jokowi, Untung atau Buntung?

8 Mei 2022
politik kadal gurun

Kisah Kecebong, Kampret dan Kadal Gurun

6 Mei 2022
Benarkah Bule Itu Pasti Kaya? Tidak!

Benarkah Bule Itu Pasti Kaya? Tidak!

5 Mei 2022
Kesalehan Sosial dan Islamophobia

Jilbab, Kesalehan Sosial dan Islamophobia

1 Mei 2022
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks Artikel

BARISAN.CO © 2020 hak cipta dilindungi undang-undang

Tak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Terkini
  • Senggang
  • Fokus
  • Opini
  • Kolom
    • Esai
    • Analisis Awalil Rizky
    • Pojok Bahasa & Filsafat
    • Perspektif Adib Achmadi
    • Risalah
    • Kisah Umi Ety
    • Mata Budaya
  • Sastra
  • Khazanah
  • Katanya VS Faktanya
  • Video

BARISAN.CO © 2020 hak cipta dilindungi undang-undang