Scroll untuk baca artikel
Ragam

Kenapa Allah Bersumpah dengan Ciptaannya?

Redaksi
×

Kenapa Allah Bersumpah dengan Ciptaannya?

Sebarkan artikel ini
kenapa allah bersumpah dengan ciptaannya
Ilustrasi foto/Pexels.com

Allah Swt. bersumpah demi Tin, Zaitun, bukit Sinai, dan kota yang aman

BARISAN.CO – Tatkala Allah Ta’ala bersumpah dengan ciptaan-Nya, berarti ciptaan-Nya tersebut dimuliakan. Dan surah At-Tin, salah satu yang menunjukkan hal ini.

“Wat-tini waz-zaitun(i), wa thuri sinin(a), wa hadzal-baladil-amin(i). Demi Tin dan Zaitun, dan bukit Sinai, dan kota yang aman.” (At-Tin: 1-3).

Allah Swt. bersumpah demi Tin, Zaitun, bukit Sinai, dan kota yang aman. Nah, kata “tin” mengacu pada buah atau pohon, yang bisa berarti simbol tentang tujuan manusia dalam meniti sekian banyak jalan.

Demi buah Tin, seperti yang dikatakan Dr. Zuhaili, karena buah tersebut merupakan nutrisi dan obat.

Ia dikatakan nutrisi karena merupakan makanan yang lembut cepat dicerna, tidak menumpuk di lambung, dapat melembutkan tabiat, mengurangi air liur, membersihkan dua ginjal, menghilangkan kencing batu, menggemukkan badan, serta membuka lubang hati dan limpa.

Sehingga jelaslah, jika dibudidayakan, buah ini dapat menjadi buah yang paling baik, lezat dan sehat, yang sampai sekarang masih ada.

Sebaliknya, dalam keadaannya yang tak terpelihara, tak lebih hanya sebagai biji yang kecil, hambar dan kadang penuh ulat dan belatung belaka.

Demikianlah kiranya manusia, dalam keadaannya yang paling baik, punya satu tujuan yang mulia. Sebaliknya, bakal menjadi yang paling buruk, menjadi “yang serendah-rendahnya”.

Kemudian mengenai zaitun, juga merupakan buah, rempah-rempah, dan obat. Zaitun banyak digunakan untuk bahan pengobatan.

Zaitun juga dapat disarikan menjadi minyak yang merupakan kebutuhan sebagian besar manusia. Hal ini acap sebagai simbol keagamaan, sebagai perumpamaan cahaya Tuhan.

Jadi, “Tin” dan “Zaitun” merupakan simbol dari negeri-negeri tempat pohon-pohon tersebut banyak dijumpai, yakni, negeri-negeri yang berbatasan dengan bagian timur wilayah Mediterania, khususnya Palestina dan Suriah.

Di negeri-negeri itulah, para nabi keturunan Ibrahim yang disebutkan dalam Al-Quran, hidup dan menyebarkan ajaran.

Dua jenis pohon itu dapat dipandang sebagai kiasan bagi ajaran-ajaran keagamaan yang disuarakan melalaui serangkaian panjang orang-orang yang memperoleh wahyu Allah, yang mencapai puncaknya pada nabi kaum Israil terakhir, Nabi Isa a.s.

Berikutnya bukit Sinai, ya, di bukit inilah Taurat diturunkan kepada Musa, di mana keagungan Allah pun dinampakkan. Cuma, adakah orang-orang Israil itu kemudian dengan setia menaati ajaran Taurat? Entahlah.

Yang terang, “bukit Sinai” menekankan secara khusus kerasulan Nabi Musa a.s. karena hukum agama yang berlaku sebelum dan hingga kedatangan Nabi Muhammad Saw.—dan yang dalam hal-hal esensinya juga mengikat Nabi Isa diwahyukan kepada Nabi Musa pada sebuah bukit di gurun Sinai.

Sekali lagi “thuri sinin(a)” adalah isyarat kepada masa syariat Musa a.s. dan munculnya sinar tauhid di muka bumi setelah sekian lama bumi ini diwarnai era keberhalaan.

Nabi-nabi setelah Nabi Musa a.s. selalu menyerukan kepada kaum masing-masing untuk senantiasa berpedoman kepada syariat tersebut sampai datang Nabi Isa a.s.

Kemudian setelah lama berlalu kaum Nabi Isa a.s. dilanda oleh penyakit rohani sebagaimana yang telah melanda umat-umat terdahulu, seperti perselisihan dan perpecahan dalam agama, menghapus sinar agama dengan berbagai bentuk bid’ah, dan menyembunyikan esensi dengan takwil, serta mencipta ajaran baru yang sama sekali tak berakar.

Allah Swt. pun menganugerahkan kepada manusia sebuah babak baru yang menghapus sejarah kelam masa silam, sejarah penuh kebodohan, dengan menghadirkan Muhammad Saw. di Makkah, yang diisyaratkan sebagai “baladil-amin(i)”.

Itulah “kota yang aman”, yang tak diragukan lagi mengarah pada kota Makkah, tempat Muhammad Saw. sebagai penutup para nabi, lahir dan menerima panggilan Tuhan di sana.

Kota Makkah sedemikian disucikan. Kalau kita runut dari sejarah, seperti paparan Dr. Husain Mu’nis, pada zaman jahiliah pun sifat kesucian Makkah sangat dihormati, lantaran ada Ka’bah. Tidak boleh ada peperangan di sekitarnya.

Tetapi di kota ini juga, dengan segala hubungan sucinya, Nabi Muhammad Saw. dikejar dan diusir oleh penduduknya, dan berhijrah ke Yatsrib. Dan untuk sementara Makkah pernah menjadi ajang penyembahan berhala dan perbuatan dosa. Ada kontras: yang baik dan yang buruk.

Namun demikian, apa pun itu, Makkah tetaplah sebagai tempat berpijarnya api Islam. Makkah adalah “wa hadzal-baladil-amin(i)”. Allah Azza wa Jalla menyifatinya dengan al-amiin.

Syahdan, dengan membicarakan sekilas simbol-simbol itu, sudah jelas bahwa semua ini mengacu pada cahaya Allah atau wahyu, yang menawarkan tujuan yang paling mulia kepada manusia, sebagai pedoman hidup.

Ayat 1 hingga ayat 3 mengarahkan perhatian kita pada kesatuan etika fundamental yang mendasari ajaran-ajaran yang sejati dari keseluruhan tiga fase sejarah agama monoteis. Yang secara kiasan dipersonifikasikan oleh Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan Nabi Muhammad Saw. [Ardi Kafha]