Scroll untuk baca artikel
Blog

Ketimpangan Meningkat Dilihat dari Simpanan Masyarakat di Bank Umum

Redaksi
×

Ketimpangan Meningkat Dilihat dari Simpanan Masyarakat di Bank Umum

Sebarkan artikel ini

Analisis bisa pula dilakukan atas rekening tiering nominal yang lebih dari satu miliar rupiah (>1 M). Mencakup tiga kelompok dari data LPS, yaitu:

  • 1M < N ≤ 2M
  • 2M < N ≤ 5 M
  • N > 5 M

Kelompok >1 M ini memiliki nilai sebesar Rp4.390 triliun dari 612.798 rekening pada akhir Maret 2021. Nilainya meningkat sebesar 5,11% dalam kurun tiga bulan terakhir. Nilainya pada akhir Desember 2020 sebesar Rp4.176,61 triliun.

Pada tiga kelompok yang termasuk kategori > 1 M itu, laju kenaikan nominal sedikit lebih cepat dari jumlah rekening, sehingga rerata meningkat. Rerata pada Oktober 2014 sebesar Rp5,91 miliar, naik menjadi Rp6,61 miliar pada Oktober 2019, menjadi Rp 6,96 miliar pada Oktober 2020, dan menjadi Rp7,16 miliar pada akhir Maret 2021.

Data distribusi simpanan bank umum semacam ini antara lain berguna untuk mengukur risiko industri perbankan. Dapat dikatakan bahwa makin terkonsentrasi pada satu kelompok yang berjumlah sedikit pihak, maka risiko meningkat. Risiko berupa kemungkinan penarikan bernilai besar dalam waktu singkat. Biasa dikenal sebagai risiko DPK.

Distribusi DPK berdasar nominal selama beberapa tahun terakhir tampak makin terkonsentrasi. Kelompok > 1 miliar yang memiliki nilai simpanan sebesar 63,62% dari total DPK, hanya dimiliki oleh 0,18% dari total rekening. Meski tidak ada informasi resmi untuk publik, dapat diduga bahwa tiap pihak memiliki lebih dari satu rekening. Rata-ratanya diprakirakan lebih banyak dari kelompok ≤100 juta rupiah.

Bahkan, khusus kelompok >5 miliar yang menguasai 49,5% dari total nilai DPK, hanya terdiri dari sebanyak 109,95 ribu. Umpama rata-rata satu pihak memiliki 10 rekening, maka hanya ada 11 ribu pihak.

Sayangnya, LPS tidak memublikasi tentang distribusi DPK menurut kategori pemilik, seperti individu, perusahaan, lembaga, dan Pemerintah. Berdasar data 10 tahunan yang lalu, sekitar 56% rekening adalah rekening indivudu atau perorangan. Rekening pemerintah berporsi relatif kecil, dari sisi jumlah maupun nominalnya.

Data distribusi DPK ini sebenarnya dapat digunakan sebagai salah satu indikator pemerataan atau ketimpangan ekonomi. Sifatnya sebagai data distribusi kekayaan.

Contoh data distribusi kekayaan yang terkenal adalah yang dihitung dan dipublikasi oleh Credit Suisse, dengan cakupan jenis kekayaan yang lebih banyak. Terlampau mengedepankan indeks gini yang berbasis data pengeluaran sebagai ukuran ketimpangan, dapat menyamarkan kondisi yang riil.

Analisis atau perspektif melihat data distribusi DPK dalam hubungannya dengan ketimpangan, perlu mengingat satu hal. Yaitu, kepemilikan perusahaan dapat dipastikan cenderung beririsan dengan kelompok perorangan dengan tier simpanan bernilai besar. Hampir bisa dipastikan, perusahaan lebih banyak dimiliki oleh kelompok tersebut.