Edukasi

Body Shaming: Masalahnya dan Dampaknya

Anatasia Wahyudi
×

Body Shaming: Masalahnya dan Dampaknya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: magazine.job-like.com.

BARISAN.COBody shaming semestinya menjadi sisa-sisa peradaban yang layak ditinggalkan. Namun kenyataan bicara lain. Hal itu masih dengan mudah ditemui sekarang.

Body shaming menyerang baik itu laki-laki maupun perempuan, dengan caranya masing-masing, dan memberikan tekanan psikis terkait bentuk tubuh yang ideal.

Sering kita mendengar ejekan pada orang-orang karena tubuhnya dianggap tidak memenuhi standar tertentu. Pada umumnya, perempuan lebih sulit memenuhinya terutama saat memiliki ukuran payudara maupun bokong yang rata.

Penelitian Universitas Bradley berjudul “Project Body” mengukapkan adanya perbedaan dampak yang dihadapi oleh perempuan dan laki-laki terkait body shaming, yaitu:

  1. Laki-laki kemungkinan lebih rentan mengalami gangguan makan tipikal dan penyalahgunaan zat dibandingkan perempuan.
  2. Laki-laki cenderung lebih santai dan perempuan lebih merasa malu menghadapi penilaian mengenai bentuk tubuhnya.
  3. Laki-laki pada umumnya lebih puas dengan penampilan fisiknya, namun penelitian lainnya menyebut laki-laki akan berjuang keras saat dibilang terlalu kurus maupun terlalu gemuk.

Sebuah gerakan DoSomething.org menilai orang yang tidak bahagia dengan bentuk tubuhnya dan tidak mencari informasi nutrisi sehat dapat mengalami gangguan makan. Diperkirakan, sekitar 91 persen perempuan merasa tidak puas dengan tubuhnya dan melakukan diet untuk mencapai bentuk ideal. Akan tetapi, tidak semua diet yang dilakukan itu sesuai anjuran.

Seperti belum lama ini muncul diet tanpa sayur yang digagas Tya Ariestya. Tentu saja, cara diet tersebut salah karena ada berbagai zat vitamin dan serat yang diperlukan oleh tubuh dari sayuran.

Namun, sayangnya hanya 5 persen perempuan yang memiliki bentuk tubuh yang sering digambarkan di media. Selain itu, perbandingan rasio antara perempuan dan laki-laki menderita anoreksia dan bulimia adalah 10:1.

Penelitian DoSomething juga menunjukkan bahwa sekitar 40 persen perempuan mempertimbangkan melakukan operasi kosmetik di masa mendatang sedangkan laki-laki sebesar 20 persen.

Bagi kebanyakan orang, bentuk tubuh ideal bagi laki-laki bukan hanya dari ukuran tinggi dan berat, namun juga otot yang terbentuk. Sedangkan perempuan lebih sulit memiliki tubuh ideal karena standarnya selalu berubah seperti ada anggapan bahwa perempuan itu bukan hanya memiliki BMI yang sesuai, namun juga ukuran payudara dan bokong yang sesuai. Ini menyebalkan.

Perempuan dan laki-laki perlu untuk menerima diri mereka termasuk bentuk tubuhnya. Tidak ada salahnya dengan diet dan berolahraga, asal sesuai dengan anjuran. Sayangnya, beberapa tayangan tentang diet maupun olahraga terlalu ekstrim untuk dilakukan hingga menyebabkan pelakunya harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

Tentu ada baiknya untuk tidak menahan diri di hadapan makanan. Makan saja asal dibatasi. Begitu pun dengan berolahraga, lakukan. Namun jangan berlebihan karena seperti diketahui apapun yang dilakukan berlebihan tidak baik untuk kesehatan.

Seperti yang pernah disampaikan oleh RM BTS: “Saya memiliki banyak kesalahan, dan saya memiliki lebih banyak ketakutan, tetapi saya akan merangkul diri saya sekuat mungkin, dan saya mulai mencintai diri saya sendiri secara bertahap. Sedikit demi sedikit.” Mencintai diri sendiri bukan hanya menerima kelebihan, namun juga kekurangan diri sendiri. Bukankah begitu arti cinta yang sebenarnya?

Mulai kini, terima diri sendiri, jika ingin perbaiki bentuk tubuh, lakukan saja. Dan bagi siapapun yang menjadi pelaku body shaming, ingatlah bahwa lidah maupun jari kita yang mengeluarkan kata-kata itu menyakiti orang lain. [dmr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *