Scroll untuk baca artikel
Blog

Ketua Turun Tangan: Mahasiswa Itu Penyuara Hati Nurani Rakyat

Redaksi
×

Ketua Turun Tangan: Mahasiswa Itu Penyuara Hati Nurani Rakyat

Sebarkan artikel ini

“Ketika ada sesuatu yang memang tidak masuk akal, dirasa melenceng, serta tidak sesuai konstitusi, mereka pasti menyuarakannya. Faktanya, kemarin itu mereka berkonsolidasi, membangun jejaring, dan lain-lain. Jadi turunnya bareng-bareng ke lapangan,” M. Chozin Amirullah (Ketua Turun Tangan)

BARISAN.CO – Pada Senin (11/4/2022), ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) berdemo di depan gedung DPR. Ada pun tuntutan mahasiswa yang disampaikan, seperti wacana perpanjangan masa jabatan presiden, mendesak untuk menunda dan mengkaji ulang IKN Nusantara, menuntut penyelesaian konflik agraria, hingga meminta agar presiden dapat menstabilkan harga serta kesediaan barang pokok di pasaran.

Ketua Turun Tangan, M. Chozin Amirullah mengatakan, demo yang terjadi itu sebagai bentuk aspirasi dari mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa itu penyuara hati nurani rakyat.

“Ketika ada sesuatu yang memang tidak masuk akal, dirasa melenceng, serta tidak sesuai konstitusi, mereka pasti menyuarakannya. Faktanya, kemarin itu mereka berkonsolidasi, membangun jejaring, dan lain-lain. Jadi turunnya bareng-bareng ke lapangan,” kata Chozin kepada Barisanco, Sabtu (16/4/2022).

Dalam aksi mahasiwa kemarin terdapat spanduk yang cukup menarik, salahsatunya bertuliskan: “Lebih baik bercinta 3 ronde daripada harus 3 periode.”

Pria asal Pekalongan ini berkomentar bahwa itu hanya gimmick saja dan tidak merusak substansi dari tujuan demo itu sendiri.

Sedangkan, beberapa orang cenderung menganggap demo itu hanya menghabiskan waktu karena kebanyakan suara-suara mereka tidak didengar. Oleh karena bagi mereka itu hanya akan menghabiskan waktu dan tenaga semata.

Akan tetapi, Chozin menyampaikan, didengar atau tidak itu bukan soal.

“Aspirasi itu harus disampaikan setidak-tidaknya dicatat oleh sejarah bahwa ketika ada penguasa membuat kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan hati nurani rakyat, maka rakyat bersuara. Itulah demokrasi di kita,” lanjut Chozin.

Pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini kemudian mengutip sebuah pepatah.

“Kejahatan itu terjadi bukan hanya karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi juga karena banyak orang baik yang diam. Anak-anak yang demonstrasi itu tidak memilih diam, mereka menyuarakan itu. Bisa jadi sekarang nyaris tak terdengar, tetapi sejarah menulis dan suatu saat pasti ada dampaknya,” jelas Chozin.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Chozin telah aktif sebagai aktivis. Dia bahkan sempat turun ke jalan saat demo besar-besaran tahun 97/98.

Saat ini, dia telah dikarunia tiga putri yang masih kecil. Saat ditanya, apakah kelak jika anak-anaknya kelak mengikuti jejak ayahnya akan diberi izin berdemo, Chozin menjawab asal itu sesuai dengan hati nurani mereka, dia akan mendukungnya.

“Penyampaian gagasan atau aspirasi sebenarnya bisa dilakukan dengan banyak cara. Demo hanya salahsatunya. Dulu, mungkin saya ikut demonstrasi, tapi mungkin anak saya nanti variasinya lebih banyak lagi. Tidak harus demo juga, tetapi intinya menyampaikan gagasan dan aspirasinya,” ujarnya. [rif]