Ketegangan geopolitik Timur Tengah memicu alarm ekonomi global pakar strategi di Bekasi mendorong masyarakat beralih ke emas sebagai tameng krisis.
BARISAN.CO – Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal Maret 2026 memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi global. Potensi penutupan Selat Hormuz jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) dinilai dapat mengguncang harga energi dan memperburuk tekanan inflasi di berbagai negara.
Ketegangan geopolitik tersebut juga berdampak langsung pada pasar keuangan internasional. Lonjakan premi risiko global mendorong investor melepas aset berisiko dan beralih ke instrumen lindung nilai (safe haven). Volatilitas pasar diperkirakan meningkat seiring ketidakpastian arah konflik dan respons kebijakan ekonomi negara-negara besar.
Situasi ini menjadi pembahasan utama dalam diskusi Dewan Pakar Pusat Kajian Manajemen Strategik (PKMS) menjelang acara buka puasa bersama di Sekretariat PKMS, Kota Bekasi, Rabu (6/3/2026) malam.
Founder PKMS, H. Siswadi Abdul Rochim, MBA, menyatakan bahwa gejolak global berpotensi menekan nilai mata uang dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Nilai aset dalam bentuk uang sangat rentan terkoreksi drastis ketika tekanan inflasi dan ketidakpastian global meningkat,” ujarnya.
Menurut Siswadi, dalam kondisi seperti ini masyarakat perlu mempertimbangkan instrumen penyimpanan nilai yang relatif stabil. Ia merekomendasikan logam mulia, khususnya emas, sebagai pilihan strategis untuk tabungan, investasi jangka panjang, maupun persiapan biaya ibadah haji.
“Dalam situasi krisis, emas cenderung mempertahankan nilainya dan bahkan meningkat. Ini berbeda dengan uang kertas yang daya belinya dapat tergerus inflasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, investasi emas berlandaskan prinsip perlindungan nilai (hedging), stabilitas jangka panjang, serta ketahanan terhadap depresiasi mata uang. Secara historis, emas dipandang sebagai aset aman yang mampu menjaga daya beli riil dalam jangka panjang.
Selain itu, emas memiliki tingkat likuiditas tinggi karena mudah dicairkan menjadi uang tunai. Instrumen ini juga tidak secara langsung bergantung pada kebijakan moneter bank sentral, sehingga dinilai memberikan rasa aman dan fleksibilitas finansial.
“Emas bukan untuk spekulasi jangka pendek, melainkan untuk membangun disiplin menabung secara bertahap dan menjaga kestabilan kekayaan,” tegas Siswadi.
PKMS menilai bahwa dalam menghadapi potensi perlambatan ekonomi global, masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan dan memperkuat strategi perlindungan aset. Diversifikasi investasi, terutama ke instrumen berbasis nilai riil seperti emas, dinilai menjadi langkah antisipatif di tengah ketidakpastian.
Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah pakar dan akademisi, antara lain Drs. Imam Trikarsohadi, MSi; Dr. Abdul Khoir; Dr. Haris Budiono; Drs. Toto Subekti, MSi; Drs. Cucu P, MSi; Dr. Titi; Hans Muntahar; Ir. Sunu Pramono Budi, MM; Chotim Wibowo; serta pakar lainnya.
PKMS berharap masyarakat tidak panik, namun bersikap rasional dan terukur dalam menyikapi dinamika global yang terus berkembang. []









