Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, kualitas dan kuantitas tidur yang buruk dapat membuat seseorang mengalami kebutaan.
BARISAN.CO – Jumlah tidur yang dibutuhkan tiap orang tergantung pada berbagai faktor, terutama usia. Khusus orang dewasa, idealnya diperlukan 7 jam atau lebih.
Bagi mereka yang tidur di bawah 7 jam setiap malam secara teratur akan berpengaruh pada kesehatan yang buruk termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.
Selain kuantitas, kualitas juga perlu dijaga. Kualitas tidur yang baik memiliki beragam karakteristik. Antara lain, segera tertidur setelah naik ke tempat tidur dalam waktu 30 menit atau kurang, biasanya sepanjang malam bangun tidak lebih dari sekali, jika bangun akan tertidur kembali dalam waktu 20 menit, dan saat bangun akan merasa pulih dan berenergi di pagi hari.
Sementara itu, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan, tidur yang buruk dapat menempatkan orang pada risiko yang lebih besar untuk kehilangan penglihatan akibat glaukoma.
Mengutip Study Finds, para peneliti di China menyebut, terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur, mengalami kantuk di siang hari, insomnia, dan mendengkur semuanya dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini.
Glaukoma adalah kondisi mata yang umum di mana saraf optik, yang menghubungkan mata ke otak, mengalami kerusakan. Ini dapat menyebabkan kebutaan total jika tidak diobati cukup dini.
Penyakit ini merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan dan kebutaan. Diperkirakan, akan memengaruhi sekitar 112 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2040.
Para peneliti dari China tersebut mempelajari 409.053 orang dari Biobank Inggris, semuanya berusia antara 40 dan 69 tahun ketika merekrut mereka antara tahun 2006 dan 2010. Masing-masing orang telah memberikan rincian tentang perilaku tidur masing-masing.
Mereka menggunakan informasi tentang pola tidur ini serta informasi latar belakang tentang usia kelompok, jenis kelamin, gaya hidup, berat badan, etnis, pencapaian pendidikan, dan tempat tinggal mereka. Setelah memantau peserta selama lebih dari 10,5 tahun, tim mengidentifikasi 8.690 kasus glaukoma.
Penderita glaukoma ini cenderung berusia lebih tua dan lebih umumnya berjenis kelamin laki-laki. Mereka juga lebih mungkin perokok dan memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes daripada mereka yang tidak mengidap penyakit tersebut.
Mereka yang tidur di atas atau di bawah tujuh hingga sembilan jam, 8% lebih mungkin menderita glaukoma. Sedangkan, mereka yang insomnia 12% lebih mungkin mengalami masalah penglihatan. Orang yang mendengkur memiliki peluang 4% lebih besar dan orang yang sering mengantuk di siang hari memiliki risiko 20% lebih besar terkena penyakit ini.
Pendengkur dan mengantuk di siang hari 10% lebih mungkin menderita glaukoma, sementara insomnia dan mereka yang memiliki pola durasi tidur pendek atau panjang 13% lebih mungkin memilikinya.
Mengapa masalah tidur menyebabkan penyakit mata?
Studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open menemukan, banyak penjelasan potensial untuk itu.
Tekanan pada mata saat berbaring merupakan faktor kunci dalam perkembangan glaukoma. Juga, berulang kali mengambil oksigen tingkat rendah, yang merupakan akibat dari mendengkur dan sleep apnea, dapat merusak saraf di mata.
Insomnia juga dapat berperan. Hormon tidur mereka yang menderita insomnia tidak sinkron dapat memengaruhi mata. Depresi dan kecemasan juga sering berjalan beriringan dengan insomnia dan dapat meningkatkan tekanan mata internal.
Namun, para peneliti mengakui, ada potensi glaukoma itu sendiri dapat memengaruhi pola tidur, bukan sebaliknya.
Para peneliti menyimpulkan, karena perilaku tidur dapat dimodifikasi, temuan ini menggarisbawahi perlunya intervensi tidur untuk individu yang berisiko tinggi glaukoma dan skrining oftalmologis potensial di antara individu dengan masalah tidur kronis dalam mencegah glaukoma.
“Temuan ini menggarisbawahi perlunya terapi tidur pada orang yang berisiko tinggi terkena penyakit ini serta pemeriksaan mata di antara mereka yang memiliki gangguan tidur kronis untuk memeriksa tanda-tanda awal glaukoma,” tambah peneliti.
Glaukoma adalah penyebab utama kehilangan penglihatan dan kebutaan. Berdasarkan studi prevalensi, diperkirakan 79,6 juta orang akan menderita glaukoma pada tahun 2020. Jumlah ini kemungkinan akan meningkat menjadi 111,8 juta orang pada tahun 2040.
Setidaknya, setengah dari mereka yang menderita glaukoma saat ini tidak menyadarinya. Di beberapa negara berkembang, 90% glaukoma tidak terdeteksi.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Opthamology mengungkapkan, glaukoma yang tidak terdeteksi sangat lazim di komunitas yang beragam di seluruh dunia dan mungkin lebih umum di Afrika dan Asia. Pada tahun 2020, sekitar 44 juta kasus Glaukoma Sudut Terbuka Primer (POAG) tidak terdeteksi, di mana sekitar 77% berasal dari penduduk Afrika dan Asia.
Dalam kebanyakan kasus, kebutaan dapat dicegah dengan kontrol dan pengobatan yang tepat. Sayangnya, banyak individu yang tidak menyadari adanya glaukoma. Kesadaran yang lebih baik dapat mencegah kecacatan visual pada banyak orang.
Kehilangan penglihatan akibat glaukoma sangat berdampak pada kemandirian banyak orang yang merupakan bagian dari populasi yang menua ini. Selain dampak glaukoma pada kehidupan pribadi, ada beban ekonomi yang meningkat pada masyarakat.
Alasan di balik kasus glaukoma yang tidak terdeteksi bukan hanya masalah pendapatan dan pembangunan negara, yang terkait dengan infrastruktur perawatan kesehatan yang lebih kuat, akses ke layanan kesehatan berkualitas, dan hasil kesehatan lebih baik. Sebaliknya, ilmuwan berpendapat, penyebabnya berasal dari interaksi kompleks dari banyak faktor seperti kekurangan individu, komunitas, dan tingkat kebijakan.





