PENGGIRINGAN opini saat ini bisa dikatakan sudah melewati fase-fase kritis, dimana bangsa dan negara dihadapkan pada persoalan global yang dinamakan krisis demokrasi (Crisis of Democracy). Berbagai isu global selalu dihubungkan dengan bagaimana pentingnya opini politik.
Dalam penggiringan opini publik yang berorientasi politik, sering kita baca kebijakan pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama, sering menjadi sorotan yang kemudian memunculkan kerentanan berpolemik. Apa yang disyaratkan dalam agama sering berbenturan dengan konteks sosial. Tetapi ini adalah sebuah kedinamisan pemikiran dari seseorang yang harus disadari secara bijak, bahwa manusia kadang khilaf lisan.
Sejak merebaknya wabah Covid-19, orang dihadapkan pada musuh yang tidak mampu dilihat dalam keterbatasan penglihatan manusia. Pertentangan gagasan, kemudian melahirkan rasa takut, cemas dan panik hingga pada pertentangan klimaks antara satu dengan yang lainnya saling mencurigai. Dalam situasi semacam ini, apakah pemikiran kapitalis mampu untuk menyelamatkannya!? Bisa iya, bisa tidak. Apa yang dihadapi adalah sebuah dimensi ruang ketidakpastian, tidak bisa diukur secar matematis logika manusia.
Virus Corona berjalan dengan kaki dan dengan tangannya (baca: sel hidup), tanpa takut siapa itu manusia yang mampu membangun kapitalis. Dan manusia pun, dimana-mana atas nama bangsa dan negara, berperang melawan virus ini. Sebuah pertempuran yang begitu dashyat hingga sudah memakan ribuan orang meninggal. Siapa yang menjadi panglima perang atau pemimpin bagi manusia? Maka secara rasional, adalah kekuatan simultan dari seluruh elemen bangsa.
Kekuasaan, sepertinya sudah bermakna “didewakan”, meski kita sendiri lebih suka disebut bermartabat dalam kodrat manusiawi. Bagaimana meraba konsep dewa pada zaman yang telah maju dan dikatakan zaman di atasnya modern. Para ahli, ilmuwan dan pakar menyebut dengan era globalisasi. Semua instrumen banyak dikendalikan oleh alih teknologi. Nalar dan logika manusia seakan mampu menembus langit, hingga dalam kekuasaannya menjadi “seolah-olah seperti Tuhan”..
Konstelasi pemikiran manusia seperti dewa yang turun dari langit, kemudian membentuk kekuatan yang melibatkan orang banyak untuk membantunya. Membangun sebuah dinasti, apa yang disebut sebagai kapitalisme. Dimana terjadi pemanfaatan bahasa retorika, yang begitu cepat menyebar akibat dampak kemajuan iptek.
Kita baru sadar, bahwa ada dimensi ruang yang tak mampu dijangkau manusia secara cepat dan dengan keterbatasan kasat mata. Pandemi, bukanlah barang gaib, bukan dewa yang muncul begitu saja tanpa sebab akibat. Maka ketika wilayah Wuhan di China terserang wabah ini, semua mata dunia seakan terbuka lebar dan fungsi nalar logika manusia menjadi terbatas (sempit). Dimana-mana muncul rasa ketakutan, cemas, panik hingga entitas manusia seperti kehilangan kekuasaannya.
Dalil pembenaran pikiran manusia menghadapi ujian dan cobaan. Dimana kita harus mencari perlindungan!? Semua bangkit untuk mencari dimanakah sejatinya yang dikatakan Tuhan sebagai tempat berlindung, meski hanya dalam wujud doa. Mungkin kita terlalu absurd dalam memaknai, bahwa ada lakon di balik catatan antara politik dan pandemi.
Kita, melihat bencana yang berposisi sebagai objek penderita ini mulai kehilangan nalar, mulai goyah dengan apa yang dititipkan sebagai amanat orang beragama (mengenal Tuhan). Prinsip humanisme (kemanusiaan) tidak lagi dianggap dalil untuk memanusiakan manusia. Meski kurang etis untuk disebutkan, orang-orang yang meninggal karena terkena Virus Corona tak ada bedanya seperti sampah. Sekalipun semua manusia ketika meninggal, bermartabat dengan sebutan mayat.
Entah kapan, kondisi yang dialami seperti saat ini, menjadi sebuah cerita sejarah. Dimana-mana orang menjadi lakon hidup, seakan kita membaca nukilan cerita wayang yang dimainkan oleh para dewa. Masa dimana sebuah peradaban yang melahirkan berbagai versi cerita, sebuah cerita fiksi yang tersusun alur tokoh, protagonis dan antagonis, dan dibumbui kisah asmara, sehingga menjadi rebutan para dewi. Kita secara refleks, kadang merindukan manifestasi sejarah yang berkultur. .
Cerita wayang ini bukanlah perang masa kini, yang lebih banyak melibatkan pertarungan dua jagoan, yang akhirnya dari perseteruan menjadi tokoh sentral dalam menjaga nilai budaya. Nilai itu adalah sebuah kemerdekaan (kebebasan) dan keadilan terhadap ruang-ruang kreatif pemikiran. Sangat musykil jika dalam keterbatasan lingkungan akan menghasilkan bentuk-bentuk kebebasan dan keadilan..
Ada masa dimana fase berat bisa kita lewati, dimana banyak terjadi perubahan, baik fisik maupun metafisik. Hanya sayangnya, simbol-simbol hakiki kebenaran sering menjadi samar. Apa yang kita takutkan dengan revolusi zaman, begitu drastis menyusup ke dalam ruang pemikiran manusia. Sebuah evolusi untuk mempertahankan nilai-nilai manusia, kemudian mengembangkan menjadi sebuah wujud yang bernilai (bermartabat), selalu saja dihadapkan pada hitungan untung-rugi kekuasaan.
Entah, yang kemudian menjadi simbol keagungan literasi, mencoba meraba zaman dengan friksi pemikiran, yang kemudian menyingkirkan friksi budaya, karena dianggap nilai-nilai yang ada di budaya hanya ilmu statis, tak mampu bergerak. Dalam teori politik pun, tak akan mungkin bisa dipungkiri, bahwa teori bagaimana mempertahankan kekuasaan dan melebarkan sayap kekuasaan menjadi sebuah rumus kapitalisme (meski ini tidak absolut).
Dalam framing zaman atau era, perubahan-perubahan yang mengiringinya senantiasa berbanding lurus dengan pertumbuhan makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Masa, dimana beberapa pakar juga menyebutnya dengan era digital, sebuah fase dimana peran dan fungsi budaya mulai ditinggalkan. Artinya, ruang kreatif harus mampu bersinergi dengan musuh kapitalis, terutama kapitalis teknologi. Maka, mengulik peradaban zaman, penguasaan zaman adalah ruang kreatif bagi bagi para kapitalis.
Tentu, tulisan ini secara keseluruhan tidak bermakna bahwa peredaran orbit waktu adalah ruang yang mengendalikan kapitalisme. Tetapi ruang waktu yang dikatakan peredaran masa atau zaman yang terstimulus oleh kemampuan subjek dalam mengendalikan perubahan-perubahan, termasuk revolusi di dalamnya, yakni manusia sebagai objek pelaku. Maka secara linear, ruang global adalah tempat dimana kefanaan materi sebagai subjek yang mendorong terjadinya proses penguasaan atau kapitalisme.
Sehingga apa yang dinamakan lakon dalam penguasaan kapitalisme, adalah manifestasi kemajuan pemikiran yang akhirnya dikait-kaitkan dengan dinamika politik. Tetapi dalam hukum normatif, sering kita salah dalam memahaminya. Kebebasan pemikiran adalah ruang kreatif secara subjektif, bukan sebagai objek pelaku (objektif). Batasan ini terkadang menimbulkan presisi yang beragam, hingga sering kebebasan pendapat atau beropini menjadi justifikasi sosial.
Akhirnya, apa yang dikatakan sebagai lakon sebagaimana judul di atas bukanlah konsep dalang yang menunggu pementasan panggung. Tetapi lakon yang senantiasa menghidupkan ruang kreatif pemikiran, dan sedikit rentan dengan ketersinggungan entitas manusia dalam membangun sebuah kapitalisme kekuasaan politik.





