Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Makna Kebahagiaan Menurut Al-Farabi, Absolute Good atau Kebaikan Puncak

Redaksi
×

Makna Kebahagiaan Menurut Al-Farabi, Absolute Good atau Kebaikan Puncak

Sebarkan artikel ini

Al-Farabi mendefinisikan kebahagiaan dengan absolute good sebagai kebaikan puncak karena kebahagiaan adalah tujuan hidup.

BARISAN.CO – Setiap orang berusaha mendapatkan kenikmatan, kesenangan, cinta, kepuasan maupun kecukupan yang disebut kebahagiaan. Banyak para filusuf membahas tema kebahagiaan, seperti Imam Al-Ghazali dalam bukunya Kimia Sa’adah, begitu juga dengan Al-Farabi.

Al-Farabi memiliki nama lengkap Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi (870-950). Ilmuwan dan filusuf Islam ini membahas tema kebahagiaan dalam kitab Tahsil Sa’adah.

Menurut Al-Farabi kebahagiaan itu sulit dikondisikan, akan tetap setiap orang berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperoleh. Sebab setiap kondisi dalam rentan waktu sering mengalami perubahan, bahkan ketika orang berfikir dan inderanya mendapatkan sesuatu yang beda sehingga acapkali mengubah arti kebahagiaan.

Banyak para tokoh mendefinisikan hakikat kebahagiaan, namun yang didapatkan hanya arti yang tidak absolut. Al-Farabi menjelaskan bahwasanya ciri dari kebahagiaan itu adalah Absoulte Good artinya kebaikan puncak.

Lebih lanjut Al-Farabi dalam kitab Risalah Tanbih al-Sa’adah menyampaikan bahwa kebahagiaan adalah kebaikan yang diinginkan untuk kebaikan itu sendiri. Makna yang terkandung dalam pernyataan tersebut sesungguhnya yakni bahwasanya setiap orang melakukan kebaikan dengan motif karena suka melakukan kebaikan. Begitu juga sebaliknya, ada motif dari kebaikan tersebut, yakni ingin pamer atau ada nilai kesombongan di dalamnya.

Sementara, makna absolute good sebagai kebaikan puncak karena kebahagiaan adalah tujuan hidup. Bahkan menjadi tujuan akhir dari segala apa yang dilakukan manusia. Artinya setiap apa yang dilakukan berupa kebaikan tujuannya untuk mendapatkan kebahagiaan.

Kebaikan itu berupa sikap, tindakan maupun perilaku. Misalnya orang menjadi jujur, ikhlas dalam memberikan sesuatu, atau suka menolong dengan sesama bahkan rajin dalam ibadah hakikatnya karena ingin bahagia.

Hakikatnya semua yang dilakukan manusia adalah kepura-puraan, atau apa yang dilakukan dalam hidup ini adalah parodi. Sebab menurut Al-Farabi sasaran tembak dari parodi tersebut cuma satu yakni ingin mendapatkan kebagaiaan.

Parodi hidup tersebut entah itu disadari atau tidak, tidak ada orang mencari kesusahan selama dia masih sadar atau waras. Misalnya saya ingin depresi, ingin sakit ataupun mendapatkan masalah banyak. Tentu ini hanya ada pada kisah drama, yang sesungguhnya fitranya ingin mendapatkan kebahagiaan.

Selanjutnya makna dari absolute good tersebut yakni bahwa fitrah seseorang pastinya ingin mendapatkan bahagia dan kalau sudah bahagia maka ia telah menyelesaikan dan puncaknya tidak ingin apa-apa sesudai itu maka itulah absolute good.

Absolute Good atau kebajikan puncak itu kabahagiaan ketika seseorang jujur, tekun, sabar hakikatnya finalnya adalah tekun, rajin, sabar dan ujungnya yakni ingin bahagia.

Al-Farabi sosok filusuf yang senantiasa berusaha menemukan hakikat dari kebahagiaan yang kemudian bahwasanya kebahagiaan adalah absolute good dan menikmati kebahagiaan pada arti yang sesungguhnya.

Di akhir hidupnya Al-Farabi menjalani laku zuhud dan menyumbangkan hartanya kepada fakir dan miskin. Menurutnya semua manusia dapat merasakan kebahagiaan, tapi apabila manusia ingin berbuat jahat, ingin hidup  hanya dalam berbagai macam pertempuran dengan keinginan-keinginan yang  dibuat oleh diri mereka sendiri, mereka tidak akan bisa lepas dari kesengsaraan. Semua kebahagiaan yang ada didunia tidak lain adalah hasil dari keinginan dan keringanan.

Sesungguhnya Allah Swt merancang manusia untuk bahagia, agar mendapatkan kebahagiaan. Apa yang ada di langit dan di bumu tujuannya untuk kebahagiaan manusia.