Memahami Feminisme dan Kesetaraan Gender di Era Modernisasi

  • Whatsapp

BARISAN.CO – Pembicaraan mengenai gender merupakan topik yang  selalu menarik untuk dibahas. Gender sering diidentikkan hanya dengan jenis kelamin, padahal maknanya jauh lebih luas daripada itu. Gender merupakan konsep budaya yang digunakan untuk membedakan peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam struktrur kehidupan masyarakat. Gender adalah kajian utama dalam feminisme.

Perspektif feminisme erat kaitannya dengan konsep gender. Banyak feminis kontemporer memiliki pandangan yang sama mengenai definisi dalam perbedaan gender. Secara historis, perbedaan antara pria dan wanita biasanya dianggap berasal dari biologi. Tapi ketika kaum feminis menggunakan istilah gender, mereka umumnya tidak mengacu pada perbedaan biologis antara pria dan wanita, tetapi untuk menjelaskan karakteristik budaya yang dibentuk dan didefinisikan terkait dengan maskulinitas dan feminitas.

Bacaan Lainnya

1. Kehadiran Feminisme & Kesetaraan Gender

Source: gvi.co.uk

Kehadiran feminisme pada dasarnya bukanlah sebuah gerakan balas dendam demi meruntuhkan eksistensi laki-laki dalam kiprahnya menjalankan sistem dan struktur sosial maupun dunia. Gerakan feminis adalah murni mengedepankan aspek kesetaraan peran dan hak dalam mengaktualisasikan diri sebagai kebutuhan manusia yang paling puncak. Kesetaraan tersebut mencakup bidang politik, ekonomi, budaya, ideologi dan lingkungan. Kesetaraan inilah yang sering kita sebut dengan istilah “Kesetaraan Gender”.

Perbedaan biologis biasanya dijadikan alasan untuk membedakan perempuan dan laki-laki dalam banyak hal. Dalam gender, sifat, peran dan posisi mengalami proses dikotomi, yang meliputi sifat feminin untuk perempuan dan sifat maskulin untuk laki-laki, peran domestik untuk perempuan dan posisi dominan untuk laki-laki. Pembedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan melalui perbedaan biologis ini kemudian mendapat pembenaran oleh sistem patriarki.

Perwujudan kesetaraan gender belum teralisasi dengan baik. Ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi pemandangan yang sering terlihat hingga hari ini. Hal ini karena budaya dan idiologi patriarki yang masih sangat kental dan mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat.

Ketidaksetaraan gender  adalah hal yang menunjukkan ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan. Secara riil, ketidaksetaraan gender merupakan tantangan utama di tingkat lokal, nasional dan global. Tidak hanya mempengaruhi kehidupan individu laki-laki dan perempuan, tetapi ketimpangan antar gender juga menghambat pembangunan ekonomi.

2. Kesetaraan Gender Penting Untuk Pembangunan Ekonomi

Source: gvi.co.uk

Kesetaraan gender masuk dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Perwujuduan pembangunan berkelanjutan. bergantung pada mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan, dan memberikan kesempatan yang sama untuk pendidikan dan pekerjaan.  UN Women melaporkan bahwa di negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), setengah dari pertumbuhan ekonomi selama 50 tahun terakhir ini disebabkan oleh anak perempuan yang memiliki akses pendidikan yang lebih baik. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penurunan kesenjangan antara jumlah tahun sekolah yang diterima anak perempuan jika dibandingkan dengan anak laki-laki. 

Terlepas dari hal tersebut, di hampir semua negara di dunia, perempuan masih menghadapi hambatan dalam hal memperoleh pekerjaan. Bank Dunia melaporkan bahwa banyak perempuan di seluruh dunia masih dilarang oleh undang-undang untuk bekerja di pekerjaan tertentu . Di 18 negara, pria secara hukum dapat melarang istrinya bekerja. Selain itu, perempuan menghadapi kendala seperti pelecehan seksual. Bahkan ketika perempuan bekerja, kesenjangan upah berdasarkan gender membuat mereka tidak berpenghasilan sebanyak laki-laki. Secara global, wanita hanya mendapatkan sekitar 81 sen untuk setiap dolar yang diperoleh pria.

Sebagai kesimpulan, pembicaraan tentang gender dalam era modernisasi saat ini tidak lagi mempertanyakan atau mempersoalkan posisi wanita: apakah dia mulia atau hina?, apakah ini manusia nomor dua dalam struktur masyarakat?, apakah ia pantas atau tidak pantas mengembang tugas-tugas sosial kemasyarakatan?, akan tetapi pembicaraan itu hendaknya diarahkan pada bagaimana memanfaatkan wanita pada kedudukan yang wajar dan bagaimana mengemban aneka tugas dan berbagai tugas sosial kemasyarakatan. []

Penulis: Adila Kesi Thian
Editor: Thomi Rifa’i

Redaksi
Latest posts by Redaksi (see all)

Pos terkait