Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Memberi Makan Ruh

Redaksi
×

Memberi Makan Ruh

Sebarkan artikel ini

Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya ….” (Hud: 61).

Jadi, sesungguhnya jalan yang telah ditetapkan-Nya, pertama, mempraktikkan penghambaan kepada Allah sebagaimana rukun Islam. Kedua, memakmurkan bumi, secara materiil maupun peradaban, yang mendatangkan kebahagiaan manusia, baik individu maupun masyarakat, menyebarkan cinta dan kasih sayang, dan seterusnya.

Sehingga, sekali lagi kalau kita renungkan, betapa zalim kita yang malahan sibuk menghabiskan waktu yang 24 jam ini, hanya untuk mengatur dan mengurusi perkara yang sudah dijamin Allah. Kita berpaling dan mengabaikan untuk menunaikan segala yang dituntut berupa amal wajib maupun amal sunah.

Perintahkan kepada keluargamu untuk mendirikan salat dan sabar melaksanakannya. Kami tidak akan meminta rezeki darimu, bahkan Kami yang memberi rezeki kepadamu.” (Thaha: 132).

Alhasil, terhadap pertanyaan benarkah rezeki telah dijamin, saya berani memberi jawaban: benar. Maka berikutnya, kegigihan kita dalam memperoleh apa yang dijamin oleh Allah, kesibukan kita dalam menjalani usaha-usaha lahiriah yang bersifat duniawi, hingga memalingkan kita dari beragam kewajiban dan tugas keagamaan yang dititahkan Tuhan adalah benar-benar tercela.

Maka tak aneh akhirnya, Syekh Abdullah asy-Syarqawi, grand syekh dari Universitas al-Azhar Mesir, jauh-jauh turut mengingatkan, jangan sampai kita lupa untuk terus berusaha memberi makan ruh dengan zikir-zikir, dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan malah serius memberi makan yang lainnya, yang jelas sudah menjadi wewenang Tuhan.