Puisi

Mendiang – Puisi Ardhi Ridwansyah

Avatar
×

Mendiang – Puisi Ardhi Ridwansyah

Sebarkan artikel ini
mendiang
Ilustrasi: Unsplash/Joshua Sortino

MENDIANG

Mengendus aku seperti anjing,
Di malam-malam kelabu,
Aroma misterius menguar,
Pada lantai kamar tidur berceceran tinta,
Usai menulis puisi tentang cinta.

Semerbak kemboja mengetuk hidung,
Mengajak raga terlelap dengan mata mengatup,
Namun kepala bersafari ke padang savana nan hijau,
Menatapmu yang kukuh berdiri,
Lalu memandangku dengan pedih.

Semakin nyata mata itu seolah berkata,
Melalui air mata isyarat sendu datang menyapa,
Sedang aku hanya terpaku, melihat seorang wanita,
Menanam kesedihan dengan senyum penuh kepalsuan.

Jakarta, 2022

TERLALU MABUK UNTUK BERCINTA

Jemala usang menjadi sarang,
Bagi tarantula beranak pinak,
Memintal jaring membuat pening,
Pikiran tak lagi bening.

Sebab telah tewas satu botol anggur merah semalam,
Dan begitu bisingnya tawa yang keluar dari mulut pendosa,
Menjalar dalam ingatan sebagai neraka dengan setan,
Meringkuk pada sepasang mata yang tak mampu berkata-kata.

Lagu disko menendang telinga,
Jemari binal para wanita berdada ranum,
Meneroka tubuh menuai peluh dari bibir penuh keluh.
Hendak bercinta pada malam riuh,

Namun mata ini memerah senja ingin cepat tertidur,
Menunda desah demi melenyapkan resah,
Yang bergelimang di dada.

Jakarta, 2022

NOSTALGI(L)A

Monster itu bernama kenangan,
Yang bermata merah mendengus geram,
Bergigi runcing bersayap api,
Meringkuk dalam kepala yang sepi.

Kau tebar tawa yang dulu,
Sempat termaktub di bangku taman,
Terserak menjadi dedaunan kering,
Yang menguning ditelan waktu.

Genggaman itu,
Seolah lagu sendu,
Yang terus mengalun di telinga,
Sebagai kesyahduan atas kisah,
Yang membatu; kita tak lagi satu.

Sebab cerita yang alurnya tercipta,
Dari lelahku dan lelahmu,
Pada sebuah buku,
Kini tersisa kutu,
Menggerogoti kertas lusuh.

Dan kita mengenang segala kasih,
Dalam puisi yang sempat
Terangkai kala tetes air mata,
Bersua hujan Jakarta,
Menuai kata-kata,
Tanpa makna cinta.

Jakarta, 2022

DOA-DOA TAK BERGEMING

Pada malam yang rapuh,
Kusematkan doa-doa di kasur,
Yang penuh tanda tanya.

Menerka angan pada waktu,
Yang terus melaju selayaknya perahu,

Mengarungi lautan dengan cuaca sendu,
Ada badai ia hancur berkeping,
Sedang rinai memecah hening,
Jadi doa-doa yang tak bergeming.

Jakarta, 2022

Ardhi Ridwansyah

Ardhi Ridwansyah; kelahiran, Jakarta, 4 Juli 1998. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Termasuk 115 karya terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi 2021.
Puisinya juga dimuat di media seperti labrak.co, litera.co.id, kawaca.com, Majalah Kuntum, Majalah Elipsis, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian Fajar, koran Pos Bali, Riau Pos, Suara Merdeka, Radar Madiun, Radar Banyuwangi, Radar Kediri, Nusa Bali, dan Suara Sarawak (Malaysia).
Instagram: @ardhigidaw. WhatsAap: 087819823958.