Edukasi

Mendidik Anak Agar Lebih Mandiri

A. Ramdani
×

Mendidik Anak Agar Lebih Mandiri

Sebarkan artikel ini
Anak lebih mandiri
Ilustrasi: Upat Upat Bumi

BARISAN.CO – Orang tua kebanyakan menjadi “perpanjangan tangan” anak dalam melakukan berbagai aktivitas. Sehingga proses mendidik kemandirian anak sering kali terhambat, membuat ketergantungan anak terhadap orang tuanya lebih kuat dan lama. Anda harus mulai melatih mereka berupaya melakukan kegiatannya sendiri, sehingga proses kemampuan anak untuk mandiri jadi lebih cepat dan baik. Karena kemandirian akan membuat anak lebih percaya diri, dan membantu mereka belajar lebih baik di masa berikutnya.

Beberapa pakar psikologi anak dan parenting berpendapat bahwa sesungguhnya anak-anak sejak kecil memiliki kemandirian dalam dirinya. Pernah Anda memperhatikan anak-anak dini usia melakukan banyak hal dengan usaha sendiri?

Kemudian kita melihat itu sebagai sesuatu yang “berbahaya”. Misalnya turun dari baby walkernya sendiri untuk mengambil mainannya yang terjatuh. Mengambil sesuatu dari atas meja yang mereka bisa menjangkaunya. Ada anak berjalan keluar rumah untuk mengeksplorasi apa yang ia lihat baru dan menarik untuk dirinya, kemudian terjatuh di undakan lantai atau tersangkut keset kaki.

Sebagai orang tua tentu penting memperhatikan gerakan anak-anak yang baru bisa merangkak, atau berjalan, karena kita berpikir gerakan mereka yang bebas itu berbahaya.

Mendukung dan mendorong mereka untuk bebas melakukan gerakan penting sebagai latihan kemandirian sejak dini usia, karena;

  1. Ini mempromosikan kepercayaan diri dan harga diri serta motivasi dan ketekunan.
  2. Ini menumbuhkan rasa senang, percaya diri, dan memungkinkan anak Anda merasa memiliki kendali atas hidup mereka.
  3. Ini memberi anak Anda keberanian mencoba tanpa takut salah. Kelak hal itu bermanfaat   untuk kecerdasan intelektual mereka dan membangun hubungan sosial serta  berkontribusi pada lingkungannya.
  4. Ini mengembangkan tingkat kesadaran diri dan kepekaan mereka terhadap orang lain yang mengajarkan mereka untuk membantu orang-orang di sekitar mereka.
  5. Ini mengajarkan mereka motivasi diri  karena mereka memiliki kebebasan untuk menemukan alasan mereka sendiri untuk mencapai sesuatu.
  6. Ini memberi mereka keyakinan bahwa mereka kompeten dan mampu menjaga diri mereka sendiri yang membuat mereka tahan terhadap tantangan eksternal.
  7. Hal ini memungkinkan mereka untuk menjadi pembuat keputusan yang baik karena mereka memiliki kebebasan untuk mempertimbangkan berbagai pilihan sebelum memilih yang mereka rasa terbaik.
  8.  Ini mengembangkan kualitas vital lainnya seperti kesabaran, konsentrasi, menolong diri sendiri, kerja sama, disiplin diri dan kepercayaan diri.
  9. Ini memberi mereka kebebasan untuk mengalami hidup sepenuhnya dan belajar banyak pelajaran penting. 
  10. Itu membuat mereka bahagia dan sehat karena mereka merasakan pencapaian dan kesuksesan yang luar biasa sebagai akibat langsung dari tindakan mereka sendiri, bukan karena dibantu orang lain.

Bagaimana memberi kepercayaan kepada anak untuk bisa belajar mandiri?

Sebagai catatan penting untuk diperhatikan oleh setiap orang tua, bahwa terbiasa melakukan (membantu) hal-hal untuk anak Anda yang dia mampu lakukan sendiri mengirimkan pesan yang tidak disengaja bahwa Anda tidak percaya pada kemampuannya.

Ini kadang-kadang disebut “ketidakberdayaan atau ketidakmampuan yang dipelajari” bagi anak. Belajar dari siapa?  Tentunya dari orang tua atau orang lain yang bertindak mengambil alih apapun yang sebenarnya Anak bisa melakukannya sendiri. Berikut adalah beberapa  tips untuk mendidik anak-anak agar lebih mandiri:

1. Berikan pernyataan yang positif 

Kalimat “kamu belum boleh jalan ke luar rumah tanpa ada Mama, bahaya, karena kamu masih kecil, nanti jatuh”.  Merupakan redaksi yang membuat anak Anda merasa tidak mampu, tidak berdaya kecuali ada Mamanya di dekatnya. Anda bisa menggunakan kata positif seperti, “Mama percaya kamu sudah bisa berjalan dan mau main di luar rumah, akan lebih baik jika kamu beritahu Mama dahuku jika ingin ke laur rumah yaa”.

2. Identifikasi peluang

Buatlah daftar hal-hal yang bisa dia lakukan sendiri.  Perhatikan sudut ruangan yang Anda nilai  merupakan area paling riskan, lakukan antisipasi pengamanan fisik jika menurut Anda itu membahayakan gerakannya. Tawarkan jika memang ia ingin mencoba sesuatu yang bisa dilakukannya sendiri, seperti memakai kaus kaki, memasukkan mainan  ke tempatnya  (beberapa orangtua kadang ingin cepat semuanya rapih maka mereka memgambil alih pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan anak dengan sedikit arahan).

3. Buat sasaran prioritas

Atasi satu kegiatan pada satu waktu, sehingga Anda tidak membuatnya kewalahan. Atau boleh sedikit membantu sekiranya dia nampak amat kesulitan. Hal ini agar tidak membuatnya jera melakukan sendiri dan gagal, lalu frustasi.