Rasa ingin tahu anak bisa dikembangkan, salah satunya, dengan mengajak mereka jalan-jalan ke lingkungan mudah terjangkau orangtua.
MENGAJAK berjalan-jalan, bepergian atau piknik berarti mengajak anak merasakan lingkungan yang berbeda-beda. Bentuk, warna, orang-orang dan suasana bervariasi akan lebih menstimulasi otak dibanding dengan lingkungan yang homogen atau serupa. Hal itu membuat lebih banyak informasi yang diterima dan terus diolah otak anak-anak.
Kegiatan ini jangan diartikan mesti piknik ke tempat wisata yang cukup butuh biaya. Tentu boleh dan bagus saja jika sesekali demikian. Namun, aktivitas ini bisa saja hanya ke lingkungan yang mudah terjangkau orang tua.
Misalnya, persawahan, sungai atau kali kecil, pasar, stasiun kereta api, kebun binatang, dan lain-lain. Sedapat mungkin merupakan lingkungan bersuasana lain dengan keseharian.
Pengalaman saya kadang hanya di dekat rumah atau toko usaha, namun bersengaja menciptakan suasana berbeda. Anak-anak diajak mengamati dan bermain di parit depan toko yang merupakan bagian dari saluran irigasi persawahan daerah situ. Tentu dengan kesiagaan menjaga keamanan mereka.
Dahulu, air jernih mengalir lancar di parit tersebut. Saya membawa dua buah ember cor yang merupakan barang dagangan toko. Pegangan ember diikat dengan tali rafia. Mereka diajak bermain dengan menghanyutkan ember di parit, sambil memegangi talinya dan kemudian menariknya secara perlahan.
Ternyata, mereka merasakan sensasi dari cukup beratnya air di ember dan karena arus yang kuat. Mereka terus melakukan berulang kali. Selanjutnya diberi tantangan bertanding. Pemenangnya adalah yang mendapat air paling banyak.
Pada suatu kali bermain di parit, sandal Adli hanyut dan kami pun berlari berusaha mencegat di tempat yang lebih jauh. Mereka melihat ada batu kecil yang juga hanyut namun berjalan jauh lebih lambat dibandingkan sandal tadi.
Mereka menanyakan sebabnya. Saya menjelaskan bahwa dorongan air membuat sandal yang lebih ringan hanyut lebih cepat. Batu itu diambil dan diberikan kepada mereka agar merasakan perbedaan beratnya dengan sandal. Dan kebetulan ada batu yang lebih besar dan berat, yang tidak hanyut.
Kadang mereka diajak memetik bunga-bunga di sekitar rumah. Sesekali dirangkai atau hanya untuk bermain mereka. Ada satu tanaman yang mempesona Ira, yaitu daun talas. Walaupun telah disiram air, daunnya tidak basah. Dia heran dan bertanya mengapa bisa demikian. Saya jelaskan daunnya ada lapisan serupa lilin yang membuat dia tahan air.
Berjalan-jalan di pantai saat piknik yang pertama amat menarik perhatian mereka adalah hamparan air yang sangat banyak dan ombak yang bergulung. Berbagai pertanyaan mereka ajukan.
Secara tak sengaja, kami diterjang ombak yang cukup besar. Padahal, kami terbilang sudah berada di bagian yang cukup aman dari ombak-ombak kecil dan sedang. Air mencapai ke pinggang saya, ke pundak Ira dan menyentuh kepala Adli. Mereka saya pegang erat, namun baju kami basah kuyup. dan sandal pun hanyut.
Tentu saja mereka terkejut, namun tampak senang karena ombak besar hanya berlangsung sekali, dan merasa dipegang erat. Pertanyaan tentang ombak pun beruntun keluar dari mulut mereka. Begitu pula tentang banyak hal baru yang mereka lihat. Ada kerang, batu koral, batu karang, dan undur-undur yang berjalan mundur.
Tidak semua hal yang menjadi perhatian dan ditanyakan anak-anak bisa saya jawab. Namun, seperti biasa berterus terang tentang ketidaktahuan, lalu membesarkan hati mereka dengan kemungkinan akan dipelajari nanti. Akan dicari di buku, dipelajari di sekolah, atau ditanyakan kepada guru.
Salah satu akibat positifnya setelah piknik, Adli mulai semangat berangkat sekolah. Dia sempat sering malas bangun ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Di pasar tradisional ketika diajak berbelanja, hampir semua anak saya terus bertanya dan menunjuk barang-barang yang semula tidak ketahuinya. Mereka juga bertanya mengapa pasarnya becek dan bau. Mereka tampaknya membandingkan dengan mini market yang kadang kami kunjungi.
Abahnya terbilang sering membawa anak-anak ke stasiun kereta api atau ke daerah dekat stasiun. Adli dan Akram sangat senang melihat kereta api, dan seolah tak pernah bosan. Kadang abahnya membawa mereka naik kereta api sampai Solo, yang berjarak sekitar 60an kilometer dari Yogya. Istirahat dan main sebentar di stasiun Solo, kemudian kembali lagi.
Sekalipun sadar tentang perhatian anak-anak pada banyak hal yang membuat mereka bertanya nyaris tanpa henti, saya sempat tidak menyangka pengamatannya kadang pada hal yang sangat detail. Saya pun terdorong untuk terus belajar dan menyiapkan diri, terutama dengan membaca buku-buku dan majalah.
Pada suatu hari, abahnya membelikan peta dunia dan menempelkannya di dinding. Akram yang belum pernah melihat, bertanya “Apa itu?” Ketika dijawab, “Peta Dunia” pertanyaan terus berlanjut. “Ini gambar apa?” Dijelaskan perlahan tentang nama-nama benua, lautan dan lain sebagainya.
Akram tertarik dengan perbedaan warna pada peta tersebut. Dia berulang kali menunjuk serta terus bertanya. Kebetulan yang sering ditunjuknya benua Afrika. Oleh karena gambar dan tulisan di peta tampak terlalu kecil, saya mengambilkan buku ATLAS. Saya bukakan halaman yang berisi peta Afrika, dan menjelaskan sesuai keterangannya.
“Warna hijau menunjukkan dataran rendah, sedang warna kuning merupakan dataran tinggi. Makin tinggi dekat gunung, warnanya menjadi coklat,” antara lain saya katakan.
Dapat diduga dia akan bertanya tentang warna biru. Dijelaskan bahwa itu laut, ditambah tentang biru tua artinya laut yang lebih dalam dibanding yang biru muda.
Oleh karena sudah mengalami dengan kakak-kakaknya, saya sudah menduga berbagai pertanyaan lanjutan dan cukup siap melayani pertanyaan Akram. Dia masih asyik memperhatikan benua Afrika, lalu berkata, “Ada garis-garis, Mi” katanya. “Garis-garis yang putus-putus merupakan batas negara,” sahut saya.
Tampak Akram mengalihkan perhatiannya pada benua Australia, sambil menunjuk “Angka di atas nggak sama dengan angka bawah, Mi?”.
Ternyata dia menunjuk angka yang tertera di garis bujur benua Australia bagian utara dan bagian selatan. Saya bilang, “Sama kok, angkanya 120 derajat bujur timur.”
Dia bersikeras mengatakan tidak sama, sambil menarik garis di angka tersebut dari atas ke bawah. Ternyata yang dimaksud adalah tidak lurus, melainkan agak miring.
Saya kesulitan menjelaskan disebabkan bumi berbentuk bulat pepat maka garis bujurnya tampak melengkung di peta atau buku atlas. Ira yang sudah kelas 6 SD mencoba membantu menjelaskan, namun masih sulit ditangkap anak seusia Akram.
Saya pun minta maaf dan berjanji akan menjelaskan jika sudah ada alatnya. Suami saya kemudian membelikan Globe, meski hanya berukuran kecil. Dengan alat peraga itu, bentuk bumi tampil bulat dan soal garis bujur cukup bisa dijelaskan. [dmr]
