Merdeka Belajar: Merdeka Bermain adalah Fitrah Pendidikan

  • Whatsapp
Merdeka belajar
Ruang belajar PAUD Cahaya Ilmu di masa pandemi covid-19

BARISAN.CO – Pandemi covid-19 telah memberikan hikmah bagi sistem pendidikan. Sebelumnya anak berangkat pagi pulang sore, datang ke sekolah. Saat ini anak belajar di rumah atau sistem virtual. Bahwasanya pendidikan merupakan proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan perubahan.

Saat anak belajar di rumah, terjalin hubungan proses belajar mengajar antara orang tua dan anak. Pendidikan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan belajar di lingkungan rumah. Meski secara virtual masih melibatkan belajar yang dilaksanakan sekolah yakni guru memberikan tugas kepada anak didiknya.

Masa anak atau anak usia dini didirikan sebagai usaha mengembangkan seluruh segi kepribadian anak dalam rangka menjembatani pendidikan keluarga ke pendidikan sekolah. Sehingga pendidikan keluarga menjadi titik awal proses pembelajaran. Maka peran keharmonisan keluarga dan peran orang tua sangat besar.

Ketua Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Jawa Tengah, Dedy Andrianto mengatakan saatnya memberikan peran terbaik di masa terbaik. Pandemi Covid-19 telah memaksa kita untuk melakukan perubahan yakni mengubah cara pandang, cara dengar, berkomunikasi, dan tentunya cara belajar.

Dedy menambahkan, kita harus memulai new habbit. Dulu sebelum pandemi anak belajar di luar ruangan sangat senang sekali. Ini membuktikan ternyata anak kita suka dengan alam semesta atau tadabur.

“Secara otomatis anak berhubungan langsung dengan alam semesta, lingkungan sosial. Sehingga panca indera anak berfungsi dengan baik,” tuturnya.

Dedy saat ini juga sebagai Ketua Yayasan Samudera Ilmu menyampaikan bahwa pendidikan anak dunianya adalah bermain. Mereka suka bermain. Bahwa dunia anak usia dini, memang dunianya adalah bermain dan eksplorasi menggunakan panca inderanya. Kemudian menggunakan untuk membaca, mendengar seluruh ciptaan.

Dulu pembelajaran fokus belajar di kelas. Anak bermain menunggu saat waktu istirahat tiba. Di pandemi Covid-19 konsep pendidikan luar menjadi konsep yang seteril. Mereka merdeka bermain.

“Merdeka belajar, bukan konsep baru. Tapi dalam pendidikan Islam inilah fitrah. Anak merdeka bermain, bermain yang diberikan Allah untuk manusia, tegas Dedy.

Fitrah anak

Anak dilahirkan suci atau fitrah. Maka pendidikan menjadikan manusia kembali ke fitrahnya. Kegiatan belajar-mengajar juga berdasarkan pada fitrah manusia.

Dedy mencontohkan, fitrah anak adalah bermain. Rasulullah saat shalat, cucunya bermain menaiki punggung Rasulullah. Rasulullah menunggu sejenak, sehingga cucunya turun dari punggungnya.

“Ternyata Rasulullah diberikan penyadaran tentang kemerdekaan belajar,” lanjutnya.

Dedy berpesan, perlu ditekankan dalam pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yakni pertama,  kebiasaan (habitus) yakni pembiasaan berkaitan dengan akhlak, karakter, pembiasaan hidup sehat, sosial emosional. Kedua, interaksi yakni komunikasi yang terbuka, memotivasi anak saat bermain. Bahwa alam atau sekitar rumah dan lingkungan kita adalah sumber belajar terbaik.

Nur Khasan dan Dedy Andrianto di kantor SDI Cahaya Ilmu Semarang

Sementara itu, Ketua Yayasan Telaga Bakti Semesta, Nur Khasan mengatakan fitrah anak dan dunia anak adalah bermain dan bergembira. Jadi pembelajaran yang disampaikan hendaknya memperhatikan fitrah mereka.

“Sistem pendidikan hendaknya juga harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian. Sebagaimana pesan bijak Bestari, didiklah anakmu sesuai dengan perkembangan zaman,” lanjutnya.

Khasan menambahkan, oleh sebab itu dibutuhkan pembimbing atau guru yang benar-benar berkompeten. Adanya guru yang berkompeten, maka pendidikan anak akan semakin terjamin.

Media pembelajaran saat pandemi covid-19, Khasan menyampaikan pendidikan diselenggarakan di rumah memberikan pengertian pendidikan keluarga adalah yang pertama dan utama. Sedangkan media pembelajaran bagi anak adalah setiap apa yang ada di rumah dan lingkungannya.

“Tidak ada sampah yang ada adalalah barang belum bermanfaat,” terangnya.

Ninik Ambarwati dari Taman Akademi Semarang menyatakan pada prinsipnya media belajar dapat disajikan secara menarik sebagai upaya menumbuhkan motivasi belajar anak.

Sebab motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat dan kebutuhan anak. Motivasi intrinsik yang berarti dorongan rasa ingin tahu, keinginan mencoba dan sikap mandiri anak didik menjadi landasan bagi guru menentukan pola motivasi ekstrinsik. Sehingga tujuan pembelajaran efektif.

“Dengan demikian dibutuhkan keterlibatan intelek-emosional anak dalam proses interaksi edukatif,” ujar Ninik.

Penulis: Lukni

Redaksi

Pos terkait