“Meningkatnya produk pemutihan kulit di Nigeria begitu mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan epidemi kanker kulit di masa depan. Produk pemutih merusak DNA dan sekali rusak, maka kanker kulit dapat terjadi.”Dr Folakemi Cole-Adeife (panitera senior dermatologi di RS. Pendidikan Universitas Negeri Lagos)
BARISAN.CO – Di seluruh dunia, orang berkulit terang dianggap lebih unggul daripada kulit gelap. Ini mengakibatkan negara seperti Nigeria pun menjadi korban dari bleaching (pemutihan) yang telah menjadi bagi banyak orang di sana.
Berdasarkan laporan kontroversial Badan Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2011, diperkirakan sebanyak 77,3 persen perempuan Nigeria secara teratur menggunakan produk pencerah kulit. Meski, laporan itu dikritik berbagai pihak, namun para ahli percaya bahwa jumlahnya terus meningkat.
Laporan itu juga mengungkapkan, Nigeria memimpin daripada Togo (59 persen), Afrika Selatan (35 persen), dan Senegal (27 persen). Parahnya, obsesi memutihkan kulit ini diasumsikan oleh orang Nigeria sebagai tanda kecantikan, status yang lebih tinggi, dan superioritas.
Laporan Aljazeera mendukung temuan WHO tersebut. Laporan Aljazeera menemukan Nigeria memiliki persentase perempuan tertinggi yang menggunakan produk perawatan pemutih kulit di dunia. Sedangkan dalam laporan lainnya, VOA menyebut lebih dari 70 juta orang Nigeria menggunakan produk pencerah kulit.
Industri kecantikan di Nigeria bernilai lebih dari US$4 miliar menggambarkan betapa layaknya industri ini di Nigeria. Biaya produk perawatan kulit berkisar N2000 hingga N200000 tergantung pada merek dan potensi produknya.
Ojota, sebuah kota di Lagos, yang dikenal sebagai pusat kimia negara bagian Lagos mengalami lonjakan penjualan eceran produk perawatan dan bahan kimia dalam beberapa tahun terakhir.
Di Afrika, belum ada kepastian waktu tepatnya produk itu masuk. Namun, Yaba Blay, dosen politik tubuh hitam dan politik gender di North Carolina Central University, dalam wawancaranya kepada Byrdie menyebut munculnya produk itu di Afrika ketika negara-negara di sana memperoleh kemerdekaannya. Yaba menyampaikan perempuan kulit putih menggunakan bahasa whiteness sebagai cara mereka mengomunikasikan kemurnian. Keyakinan ini kemudian diekspor ke Afrika dan sekitar masa kemerdekaanlah, produk ini mulai meledak.
“Negara-negara Eropa ini membanjiri tempat-tempat kolonial dengan produk mereka dan menggunakan warna putih sebagai cara untuk menjual produk. Orang-orang berusaha untuk mendapatkan beberapa tingkat kekuasaan dan hak istimewa terkait dengan kulit putih,” kata Yaba di tahun 2018 lalu.
Namun, hal berbeda justru ditemukan oleh feminis Bibi Bakare-Yusuf hal lain dari penelitiannya. Bibi menemukan di Nigeria, mereka sangat meremehkan orang kulit putih. Dia menambahkan segala jenis prosedur kosmetik yang dilakukan oleh manusia adalah bagian dari pencarian kesempurnaan dengan merusak penampilan alaminya.
Selama penelitiannya, Bibi juga menemukan banyak dari mereka yang menolak mengaku telah memutihkan kulitnya karena tindakan itu sering dikaitkan dengan mereka yang tidak berpendidikan.
Bahaya Produk Pemutih Kulit
Di balik pro-kontra awal mula produk pemutih ini menjadi hits, faktor pemicu meningkatnya efek samping dari praktik berbahaya ini pun tidak terhindari. Banyak perempuan mengalami perubahan warna yang mengganggu, kontras, dan bintik-bintik gelap. Buku-buku jari, lutut, dan siku memiliki warna yang berbeda. Lebih buruknya lagi, banyak pengguna beralih dari produk organik ke pil dan suntikan gluthathione demi mendapatkan warna kulit yang diimpikan.
Gluthatione adalah antioksidan alami yang ditemukan dalam sel tubuh manusia untuk menetrakan radikal bebas, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mendetokfikasinya. Itu membuat melanin berubah menjadi lebih terang dan menonaktifkan enzim tirosinase yang membantu menghasilkan pigmen kulit. Namun begitu, para ahli mengungkapkan metode apa pun yang dipilih pengguna, pemutihan kulit dapat mengancam jiwa dan komplikasi berbeda termasuk kanker.
Representasi media dan kurangnya edukasi publik menjadi faktor pemicu peningkatan tajam dari praktik berbahaya tersebut. Di Nigeria, standar kecantikan yang sering dipromosikan oleh media dan perusahaan periklanan secara gamblang menegaskan warna kulit yang terang lebih diinginkan sehingga baik perempuan dan laki-laki terbujuk untuk memutihkan warna kulitnya. WHO sendiri memperingatkan, pemutih kulit dapat merusak hati dan ginjal, psikosis, kerusakan otak pada janin, dan kanker.
Mengutip Vanguard News, panitera senior dermatologi di RS. Pendidikan Universitas Negeri Lagos, Dr Folakemi Cole-Adeife mengatakan, ada peningkatan tajam dalm jumlah komplikasi orang dengan pemutihan kulit di sana.
Menurut Folakemi, bleaching bisa menjadi penyebab komplikasi seperti infeksi berulang, stretch mark, dan dalam beberapa kasus bisa sistemik tergantuk dari produk yang digunakan. Pemutihan kulit juga dapat meningkatkan kadar gula darah dan beberapa diantaranya bisa memengaruhi ginjal dan menemoatkan seseorang pada peningkatan risiko terkena kanker kulit.
Folakemi menjelaskan, meski pada tahap awalnya kulit tampak bagus, namun setelah beberapa tahun kemudian, kulit akan mulai memburuk dan menjadi lebih buruk.
“Meningkatnya tingkat pemutihan kulit di Nigeria begitu mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan epidemi kanker kulit di masa depan. Produk pemutih merusak DNA dan sekali rusak, maka kanker kulit dapat terjadi,” ungkap Folakemi.
Dia menyebut kulit gelap adalah adaptasi alami untuk perlindungan matahari.
“Orang yang lebih sedikit memiliki melanin membantu menyerap sinar matahari yang berbahaya untuk mencegahnya menembus ke dalam kulit dan menyebabkan kerusakan,” tutur Folakemi.
Folakemi menambahkan ini menjadi alasan orang yang hidup dengan albinisme tidak memiliki melanin sehingga lebih berisiko terkena kanker kulit dan termasuk juga orang bule karena sedikitnya melanin yang dimiliki.
Para ahli pun bersepakat perlu adanya upaya kolektif untuk mengakhiri stereotip dan anggapan keliru yang populer bahwa kulit putih dan cerah lebih menarik.
Konon, laki-laki di sana mendambakan perempuan berkulit cerah sehingga membuat perempuan berasimiliasi dengan standar yang diinginkan oleh laki-laki untuk meningkatkan peluangnya untuk menikah.
Depigmentasi mempertahankan ilusi bahwa kulit yang lebih terang akan memungkinkan mereka menemukan pekerjaan yang lebih baik dan memudahkan untuk merayu. Ironinya, masyarakat kelas bawah juga menginginkan produk pemutih. Yang pada akhirnya, produk-produk ilegal dan murah merebak di pasaran sehingga menyebabkan kerusakan di kulit yang tidak bisa diperbaiki.
Sedangkan, dermatologist di Abuja, Dr Racheal Inuwa menyampaikan tren perubahan warna kulit pada diri dan bayi pada perempuan lebih mengkhawatirkan. Menurutnya, penting bagi regulator untuk mengatur impor produk perawatan kulit yang tidak terdaftar ke dalam negeri. Dia menyebut banyak orang yang tidak mengetahui komposisi kimia dalam krim dan minyak yang mereka gunakan, beberapanya mungkin mengembangkan penyakit yang mengancam jiwa tanpa disadari.
Aktris Kenya di kancah internasional, Lupita Nyong’o yang tampik apik di Black Panter menyampaikan dalam wawancaranya dengan majalah mode Vogue mengatakan dia tidak bisa lari dari asal-usulnya. Sehingga, Lupita menyebut penerimaan dan kepuasaan diri sendiri adalah kunci untuk kehidupan yang sukses.
Terlepas dari hasrat keinginan untuk mengubah bentuk tubuh termasuk warna kulit, sekali lagi, seperti yang disampaikan oleh Lupita Nyong’o seharusnya manusia perlu untuk menerima dan berpuas diri terhadap asal-usul dan bentuk dari dirinya sendiri. Tak peduli seberapa banyak tren kecantikan yang merebak saat ini, alangkah baiknya untuk memikirkan ulang bahaya dibaliknya. [rif]





