Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

OXFAM: Ketimpangan Ekstrem Selama Pandemi Meningkatkan Kekerasan Ekonomi

Redaksi
×

OXFAM: Ketimpangan Ekstrem Selama Pandemi Meningkatkan Kekerasan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

“Pandemi telah mengungkapkan secara terang-terangan motif keserakahan dan peluang melalui cara politik dan ekonomi yang menjadi indikasi kekerasan ekonomi terhadap ketidaksetaraan ekstrem.”Gabriela Bucher, Direktur Eksekutif Oxfam Internasional.

BARISAN.CO – Selama pandemi, ketimpangan terus berlanjut. Ini dapat terlihat dari rilis Oxfam yang menemukan sepuluh orang terkaya di dunia melonjak signifikan.

Laju lipatgandanya kekayaan mereka mencapai US$15.000/detik atau US$1,3 miliar per harinya selama dua tahun pandemi. Padahal pandemi telah mengakibatkan menurunnya pendapatan 99 persen umat manusia dan lebih dari 160 juta orang terpaksa menjadi miskin.

Direktur Eksekutif Oxfam Internasional, Gabriela Bucher mengatakan jika sepuluh orang terkaya itu kehilangan 99,999 persen kekayaannya esok hari, mereka masih akan lebih kaya dari 99 persen umat manusia di dunia ini.

“Mereka sekarang memiliki kekayaan enam kali lebih banyak daripada 3,1 miliar orang termiskin,” kata Gabriela.

Dalam laporan terbaru “Inequality Kills” yang terbit pada 17 Januari 2022, menjelang Agenda Davos Forum Ekonomi Dunia, Oxfam menyebut ketidaksetaraan berkontribusi pada kematian setidaknya 21.000 orang setiap harinya atau satu orang setiap empat detiknya.

Temuan konservatif itu berdasarkan kematian secara global akibat kurangnya akses ke perawatan kesehatan, kekerasan berbasis gender, kelaparan, serta kerusakan iklim.

Pajak

Gabriela melanjutkan, tidak ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki kesalahan kekerasan dari ketidaksetaraan ini dengan merebut kembali kekuatan para elit dan kekayaan ekstrem termasuk melalui perpajakan. Yakni dengan mengembalikan uang itu ke ekonomi riil demi menyelamatkan nyawa.

Menurut angka yang di peroleh dari majalah Forbes,

Mengutip data dari majalah Forbes, kekayaan Elon Musk meningkat 10 kali lipat menjadi US$294 miliar dalam 20 bulan pertama pandemi. Sedangkan pendiri Amazon, Jeff Bezos naik 67 persen menjadi US$203 miliar dan pendiri Microsoft meningkat 31 persen menjadi US$137 miliar.

Kekayaan miliarder telah meningkat drastis sejak awal pandemi, berbanding jauh dalam 14 tahun terakhir.

Pajak 99 persen satu kali atas rejeki nomplok sepuluh orang terkaya misalnya, dapat membiayai untuk menyediakan perawatan kesehatan universal dan perlindungan sosial, mendanai adaptasi iklim, dan mengurangi kekerasan berbasis gender di lebih dari 80 negara di dunia.

Gabriela juga menyindir miliarder dari perusahaan farmasi yang melakukan monopoli dan berdampak terhadap pemotongan pasokan ke miliaran orang. Pada akhirnya, perusahaan vaksin makin kaya dan pandemi enggan berakhir.

“Akibatnya, setiap jenis ketimpangan berisiko meningkat. Prediktibilitas itu memuakkan, konsekuensinya membunuh,” lanjut Gabriela.

Ketimpangan Ekstrem Bentuk dari Kekekerasan Ekonomi

Ketimpangan ekstrem adalah bentuk kekerasan ekonomi yang membuat kebijakan dan keputusan ekonomi melanggengkan kekayaan dan kekuasaan segelintir orang untuk memiliki hak istimewa. Hal ini berakibat pada kerugiaan langsung bagi sebagian orang biasa di seluruh dunia dan planet bumi.

Gabriela menegaskan kekerasan ekonomi ini secara akut melintasi garis rasial, terpinggirkan dan gender.

“Saat Covid-19 melonjak, ini berubah menjadi gelombang kekerasan berbasis gender, bahkan lebih banyak perawatan yang tidak dibayar menumpuk pada pada perempuan dan anak perempuan,” tegas Gabriela.

Pandemi telah membuat kesetaraan gender mengalami kemunduran. Perempuan secara kolektif kehilangan pendapatan US$800 miliar pada tahun 2020, dengan 13 juta lebih sedikit perempuan yang bekerja daripada tahun 2019.

Sementara itu, 252 laki-laki memiliki kekayaan lebih banyak daripada penggabungan satu miliar perempuan dan anak perempuan di Afrika, Amerika Latin, dan Karibia.

Ketimpangan antar negara juga diprediksi meningkat untuk pertama kalinya dalam satu generasi. Negara kaya memonolpoli perusahaan farmasi berimbas pada akses vaksin yang memadai. Sehingga negara-negara berkembang terpaksa memangkas pengeluaran sosial karena tingkat utang melonjak. Dan saat ini menghadapi prospek langkah-langkah penghematan.