Scroll untuk baca artikel
Blog

Pahit Nasib Kurir Paket di Balik Gurihnya Jasa Pengiriman

Redaksi
×

Pahit Nasib Kurir Paket di Balik Gurihnya Jasa Pengiriman

Sebarkan artikel ini

Pengemudi jasa pengiriman masuk ke dalam jenis pekerjaan paling berbahaya menurut tingkat kematian.

BARISAN.CO – Asia Pasifik diperkirakan mendominasi pasar jasa kurir global. Permintaan layanan pengiriman diprediksi tumbuh pesat di masa depan karena peningkatan e-commerce, populasi yang tinggi, lonjakan pendapatan, serta dukungan infrastruktur oleh pemerintah.

Di Indonesia, asumsi itu selaras dengan maraknya budaya belanja online. Sebuah survei dari Institute of Southeast Asian Studies di Singapura memperkirakan, 138 juta orang Indonesia atau sekitar setengah dari populasinya berbelanja online.

Sementara itu Mordor Intelligence memperkirakan, pasar kurir, ekspres, dan parsel Indonesia akan meningkat lebih dari 12,5 persen pada periode 2019 hingga 2028.

Pertumbuhan-pertumbuhan ini telah membuka peluang bagi banyak perusahaan logistik untuk menyediakan lebih banyak layanan jasa pengiriman.

Kurir Jadi Pekerjaan Paling Berbahaya

Menurut ramalan Courier Services Market, pasar layanan kurir bernilai US$381,00 miliar pada tahun 2021, dan diperkirakan mencapai US$658,3 miliar pada tahun 2031 atau meningkat 5,7% dari tahun 2022 hingga 2031.

Namun, meski tampaknya bisnis layanan kurir tampak menjanjikan, ada risiko-risiko kerja yang masih jadi benang kusut. Banyak kasus kurir meninggal yang pada umumnya disebabkan faktor kelelahan.

Tahun 2019 silam, seorang sopir pengiriman ‘M’ di Singapura yang sedang mengantarkan barang meninggal dunia karena kelelahan dan ditemukan tewas di dalam mobilnya.

Dua tahun kemudian, istri dari sopir pengiriman itu, Nur Syafiq membagikan kisahnya sehingga pengemudi lainnya mendapatkan rasa hormat dan empati yang layak didapatkan.

Sebagai kepala keluarga, M menikmati pekerjaan yang digelutinya selama 23 tahun karena dapat berinteraksi dengan orang baru setiap hari serta selalu bergerak. Namun, ini berarti dia kurang punya waktu untuk beristirahat.

Suatu ketika, M menceritakan kepada istrinya, dia dan rekan lainnya sering sakit kepala dan merasa tidak enak badan. M juga kesulitan mendapat hari libur, meski dalam kondisi seperti itu.

Menjadi kurir bukan pekerjaan mudah. Menurut Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja AS (OSHA), pengemudi pengiriman dan truk sebagai salah satu dari sepuluh pekerjaan paling berbahaya menurut tingkat kematian. Tingkat cedera fatalnya yaitu 25,8 per 100.000 pekerja.

Jam kerja yang panjang dan tekanan untuk melakukan pengiriman tepat waktu dapat menyebabkan kelelahan. Syafiq ingat saat M harus membawa 20 kotak paket satu per satu dan menaiki tangga ke satu lokasi pengiriman. Meski berat perjuangan mencari nafkah, beberapa pelanggan justru tidak selalu menghargai kerja keras mereka, ungkap Syafiq.

Rabu (15/6/2023) kejadian hampir serupa dengan M terjadi di Jakarta. Seorang kurir paket ditemukan tergeletak di Jakarta Barat. Di sampingnya, terparkir motor dengan paket yang menumpuk di atas jok belakangnya.

Kurir paket itu bernama Yulan Susilo (42) yang meninggal saat akan mengantarkan paket. Dari keterangan polisi, pihak keluarga menyampaikan, korban diketahui memiliki riwayat jantung.

Meski begitu, pihak kepolisian perlu mengusut kejadian itu. Mengingat ada faktor lain termasuk jam kerja berkepanjangan dan kelelahan bisa saja menjadi penyebab meninggalnya Yulan.

Pekerjaan ini sangat penting untuk arus barang dan jasa di seluruh negeri, pengusaha dan pengemudi mungkin tidak cukup memprioritaskan keselamatan mereka, yang menyebabkan kerugian.

Jadwal mereka yang padat dan permintaan yang tinggi, terutama di sekitar hari libur, pengemudi pengiriman sering kali terpaksa menempatkan keselamatan dan kesejahteraan mereka sendiri jauh di bawah keharusan bisnis.