Scroll untuk baca artikel
Kolom

Pelukis Katirin

Redaksi
×

Pelukis Katirin

Sebarkan artikel ini

PELUKIS Katirin memulai kariernya dari pelukis jalanan. Sejak menjadi pelukis model di Malioboro Yogya.

Pria Banyuwangi lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ini pernah menjadi guru SD. Jiwa seninya mengantar dia ke Bali. Lalu mendapat info ada kota seni lain, Yogya.

Di Malioboro dia melukis prabayar orang yang sedang duduk makan, atau pejalan yang pesan jasanya. Lukisannya realis tentu. Halus, mirip model, sesuai selera pasar.

Ibunya pernah memuji karyanya: seperti hasil sekolah melukis tingkat tinggi.

Terbuai seorang teman yang mau mendaftar sekolah seni, ia pun ikutan mendaftar Institut Seni Indonesia (ISI) jurusan seni rupa.

Tentu ia minta ijin ibunya. Sang ibu tak habis heran: lukisanmu sudah bagus kok mau sekolah lagi? Toh sang ibu merestui kemauan putera kesayangan.

Dia membiayai kuliahnya dengan hasil sebagai pelukis jalanan. Tentu dengan penuh keringat dan pengorbanan atas pertarungan idealisme dari bangku pendidikan seni.

Lima tahun kuliah di ISI, kebetulan satu lukisannya laku 2,5 juta rupiah. Sehingga bisa untuk membawa ibu dan keluarga di desa guna menghadiri wisudanya, dengan menyewa minibus.

Lukisan-lukisannya tentu berubah, praktik dari hasil pendidikannya. Tidak lagi realis, tapi abstrak ekspresionis. Sederhananya di mata sang ibu, lukisan coret moret dengan kesemrawutan warna.

Di tempat kosnya sang ibu kembali tak habis heran melihat lukisan lukisannya itu. Tidak seperti lukisannya yang pernah dipuji bunda piara piara akan daku.

Gerundel sang ibu: kamu kuliah lima tahun lukisanmu kok malah jadi jelek?

Kini dia menjadi pelukis yang karyanya diburu. Pernah pameran di beberapa negara, termasuk Israel. Bersanggar di lereng gunung Merapi, Art House Katirin. Rumah berdinding batu di atas batu, dipenuhi pajangan lukisan berharga ratusan juta.

Tidak dikabarkan, apa pendapat simbok.***