Scroll untuk baca artikel
Religi

Pengucapan Masyaallah Tabarakallah: Makna, Dalil, dan Penjelasan Lengkap

×

Pengucapan Masyaallah Tabarakallah: Makna, Dalil, dan Penjelasan Lengkap

Sebarkan artikel ini
masyaallah tabarakallah
Ilustrasi

Kalimat Masyaallah Tabarakallah merupakan ungkapan dzikir yang mengandung pujian sekaligus doa keberkahan.

BARISAN.CO – Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim kerap mendengar dan bahkan mengucapkan kalimat dzikir seperti Subhanallah, Masyaallah, atau Masyaallah Tabarakallah.

Namun, masih banyak yang bingung mengenai kapan waktu yang tepat mengucapkannya dan dalam situasi seperti apa kalimat-kalimat ini sesuai digunakan.

Artikel ini akan membahas secara lengkap tentang makna dan penggunaan kalimat Masyaallah Tabarakallah, dilengkapi dengan dalil Al-Qur’an dan hadits, agar mudah dipahami dan diamalkan.

Kalimat Subhanallah (سُبْحَانَ اللّٰهِ) berarti “Maha Suci Allah”. Kalimat ini merupakan bentuk tasbih yang menandakan pensucian Allah dari segala kekurangan.

Dalam praktiknya, kalimat ini sering diucapkan dalam dua konteks utama: sebagai dzikir rutin, terutama setelah shalat fardhu, dan sebagai respon terhadap sesuatu yang buruk, mengejutkan, atau menyedihkan.

Contoh penggunaan kalimat ini bisa terjadi ketika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti bencana, kemaksiatan, atau perilaku menyimpang.

Sedangkan kalimat Masyaallah (مَا شَاءَ ٱللَّهُ) secara harfiah bermakna “Apa yang dikehendaki Allah, itulah yang terjadi.”

Kalimat ini diucapkan saat melihat sesuatu yang indah, luar biasa, atau mengagumkan, baik berupa ciptaan, prestasi, maupun kenikmatan dunia.

Ucapan ini menegaskan bahwa keindahan atau keberhasilan tersebut adalah murni dari kehendak Allah, bukan semata-mata hasil usaha manusia.

Sebagai contoh, saat seseorang melihat rumah mewah, anak yang cerdas, tanaman yang subur, atau keberhasilan dalam pekerjaan, maka kalimat Masyaallah patut diucapkan sebagai bentuk kekaguman dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah.

Dalil Masyaallah Tabarakallah

Allah berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 39:

وَلَوۡلَاۤ اِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ‌ۚ

Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ‘Masyaallah, la quwwata illa billah’? (Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.” (QS. Al-Kahfi: 39)

Ayat ini menjadi dalil kuat bahwa kalimat Masyaallah adalah bentuk dzikir yang dianjurkan untuk diucapkan saat melihat sesuatu yang indah atau menakjubkan.

Apa Arti Masyaallah Tabarakallah?

Kalimat Masyaallah Tabarakallah (مَا شَاءَ ٱللَّهُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ) adalah gabungan dari dua pujian: “Masyaallah” (Apa yang dikehendaki Allah) dan “Tabarakallah” (Semoga Allah memberkahinya).

Jika digabungkan, kalimat ini menjadi ungkapan kekaguman yang juga mengandung doa agar diberi keberkahan.

Menurut para ulama, kalimat ini adalah bentuk adab yang sangat baik dalam Islam ketika menyaksikan kenikmatan pada diri sendiri atau orang lain.

Selain sebagai pujian terhadap ciptaan Allah, ucapan ini juga menghindarkan diri dari penyakit hati seperti iri dan dengki.

Dijelaskan bahwa Masyaallah menunjukkan pengakuan terhadap takdir Allah, sementara Tabarakallah menunjukkan harapan agar keberkahan menyertai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ، فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barang siapa memperbuat kebaikan kepada kalian, maka balaslah. Jika kalian tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia hingga kalian merasa telah membalasnya.” (HR. Abu Dawud)

Kalimat Masyaallah Tabarakallah dapat menjadi bagian dari doa kebaikan kepada sesama Muslim atas kenikmatan atau kelebihan yang dimilikinya.

Beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an juga mengandung pujian dan penyebutan kata Tabarakallah, antara lain:

Al-A’raf Ayat 54

تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

Ar-Rahman Ayat 78

تَبَارَكَ ٱسْمُ رَبِّكَ ذِى ٱلْجَلَـٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

“Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Al-Furqan Ayat 1

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya.”

Al-An’am Ayat 141

كُلُوا۟ مِن ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثْمَرَ وَءَاتُوا۟ حَقَّهُۥ يَوْمَ حَصَادِهِۦ ۖ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Makanlah dari buahnya bila telah berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya. Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Jawaban Jika Mendengar Kalimat Masyaallah Tabarakallah

Jika seseorang mengucapkan Masyaallah Tabarakallah kepada kita, ada beberapa balasan yang bisa kita ucapkan:

Jazakallah Khairan – Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

Barakallahu Fiik – Semoga Allah memberkahimu.

Balasan ini menunjukkan penghargaan terhadap doa dan pujian tersebut, sekaligus sebagai bentuk adab yang baik dalam Islam.

Manfaat dan Keutamaan Mengucapkan Masyaallah Tabarakallah

Mengucapkan Masyaallah Tabarakallah bukan hanya bentuk pujian dan doa, tetapi juga memiliki banyak manfaat spiritual:

  1. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah.
  2. Menghindarkan dari sifat hasad (iri) terhadap orang lain.
  3. Mendoakan keberkahan bagi orang lain dan dirinya sendiri.
  4. Memperkuat tauhid, karena mengakui bahwa segala keindahan adalah dari Allah.
  5. Menjaga lisan dengan dzikir yang baik, apalagi dalam kehidupan media sosial saat ini yang mudah memunculkan iri hati.

Kalimat Masyaallah Tabarakallah memiliki makna yang mendalam dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar ungkapan kekaguman, tetapi juga bentuk dzikir, doa, dan pengingat bahwa segala sesuatu yang menakjubkan adalah atas kehendak Allah semata.

Kalimat ini juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, menjaga hati dari iri, dan memperkuat hubungan sosial dengan sesama Muslim.

Mulai sekarang, biasakanlah mengucapkan Masyaallah Tabarakallah ketika melihat sesuatu yang mengagumkan, agar kekaguman itu menjadi pujian kepada Allah, bukan hanya decak kagum duniawi semata. []