“Jancoook!”
“Bajingaaaan!”
“ASUUUU!” umpat Darto berulang-ulang dengan suaranya yang menggelegar bak petir menyambar. Sembari berteriak-teriak demikian tangannya yang kurus itu dengan lincahnya mengayunkan aritnya ke rumput Tebon-tebonan yang ada di sekitarnya berdiri. Tak ayal lagi rumput-rumput setinggi 3 meter itupun terjerembab tak karuan terkena sabetan aritnya.
Rumput-rumput itu kocar-kacir bagai habis disergap angin puting beliung saja. Darto seperti orang kesurupan. Sinar matanya merah jalang. Raut mukanya terlihat beringas. Mulutnya terlihat menyeringai menunjukkan keempat gigi taringnya yang tajam. Sungguh berbeda dengan Darto yang biasanya. Jiwa Darto yang ramah, sabar serta nrimo sore itu entah telah menguap ke mana.
“Eling Kang! Nyebut Kang! Istigfar Kang!” teriak Turmini bertubi-tubi demi melihat kemarahan Darto suaminya yang sudah setengah kesetanan tersebut. Turmini berteriak-teriak tak kalah kerasnya demi ingin segera menyadarkan suaminya tersebut.
Namun lubang telinga Darto bagai telah tersumbat. Semakin Turmini berteriak mengingatkan agar Darto eling, sebanyak itu pula lelaki beranak tiga itu semakin kalap. Aritnya kian ganas membabat rumput Tebon-tebonan yang telah ia tanam. Untung saja Turmini tidak mendekat, andai saja ia mendekati Darto, boleh jadi arit itu juga akan membabat dirinya.
Sementara itu di langit sebelah barat, telah berganti warna menjadi merah. Jilatan warnanya seperti hendak menggambarkan kemarahan Darto. Angin senja semilir membelah rumput Tebon-tebonan di ladang Darto. Desaunya bagai menyuarakan bait-bait mantra senjakala.
Dartopun akhirnya jatuh terkulai keletihan. Tubuhnya tergolek begitu saja di atas rumpun rumput yang terbabat oleh aritnya barusan. Keringat mengucur deras dari sekujur badannya. Matanya terpejam. Mulutnya terkatup rapat. Nafasnya tak lagi memburu.
Hati-hati sekali Turmini segera menjumput arit yang terpental jatuh tak jauh dari tubuh Darto. Diamankannya benda berbahaya itu jauh dari jangkauan suaminya.
Sedetik kemudian tangan Turmini telah terlihat sibuk mengelap muka Darto dengan selendangnya yang telah ia basahi dengan air kendi yang ia bawa. Mulutnya terlihat berkomat-kamit membaca mantra. Perempuan itu tampak dengan sabar mengelap tubuh suaminya yang basah oleh peluh keringat tersebut.
“Ling eling sekeling keling. Dudu sono keling. Ling eling bakale bening,” bisik Turmini berulang-ulang.
“Istigfar Kang! Kabeh iku wis ginaris! Awake dewe iki mung balung kere, dadi ya kudu nrimo ing pandum,” ucap Turmini lembut. Ajaib! Entah karena mantra Turmini atau entah karena apa, perlahan Darto membuka matanya. Kini sorot matanya sudah tak seperti tadi. Lelaki itupun segera duduk dan meminta maaf kepada Turmini.
“Aku khilaf Tur,” ucap Darto singkat. Nada bicaranya seperti tak bertenaga sama sekali.
“Kita ini sudah ditakdirkan menjadi wong melarat. Jangan heran kalau terus-terusan dibohongi oleh para pejabat. Itu sudah bagian dari garis hidup kita Kang! Jadi ya kudu eling,” sambung Turmini kembali sembari mengajak Darto pulang.
Setengah senja telah menginjakkan kakinya di padang rumput milik Darto ketika sepasang suami istri itu berjalan menyusuri pematang ke arah perkampungan. Di depan langkah Darto,Turmini terlihat menuntun beberapa dombanya. Punggungnya terlihat menggendong beberapa buah terong dan kacang panjang.
Sementara Darto berjalan di belakangnya menyungggi rumput Tebon-tebonan untuk pakan domba-dombanya esok hari. Suara muadzin Parmin yang cempreng itu telah memenuhi langit kampung. Suaranya mengusir heningnya padang rumput milik Darto. Pertanda Maghrib telah masuk.
Kabar tentang Darto yang berteriak-teriak kesetanan di padang rumput miliknya segera menyebar bak bau terasi yang dibakar. Entah siapa yang telah memulai menyebarkannya. Yang jelas dari hari ke hari kabar burung itu semakin beragam saja bumbunya. Mulai dari kere munggah balai, kesurupan, kualat, gila hingga kerasukan roh penunggu kuburan cina. Semuanya enak untuk dinikmati karena telah diolah dengan memadukan takhyul, gugon tuhon, politik serta konspirasi para elit.
“Sudah dibilang kalau rumput yang ditanam Darto itu rumput wingit kok ya nekat. Kualat sakiki! Kapokmu kapan!” ucap Wagiyem sambil membilas cucian bajunya di pancuran sungai pagi itu. Di sampingnya terlihat Lastri hanya menyimak perkataan Wagiyem.
“Masak ya ada rumput wingit?” tukas Lastri menyela tak percaya . Perempuan yang pernah menjadi TKW di Taiwan itu tak sedikitpun percaya omongan Wagiyem.
“rumput Tebon-tebonan yang ditanam Darto asalnya dari sana itu,” terang Wagiyem sembari jemarinya menunjuk ke arah kuburan cina yang dimaksud. Ketika mata Lastri mengikuti arah telunjuk Wagiyem barusan, pandangan Lastri segera menangkap deretan kuburan di atas bukit yang ditunjuk Wagiyem tersebut. Tak urung, bulu kuduk Lastri tiba-tiba saja meremang. Ia ikut-ikutan disergap rasa takut.
Tak seorangpun tahu siapa yang dahulu telah memulainya. Cerita tentang kewingitan kuburan cina di seberang kampung itu seakan-akan telah menyatu dengan kehidupan warga dukuh Milir. Kata orang-orang tua , di komplek pekuburan cina itu sering terlihat seekor ular naga raksasa dan seorang kakek-kakek yang selalu berjalan mondar-mandir dari ujung ke ujung komplek pekuburan.
Namun cerita-cerita takhyul itu justeru membuat Darto penasaran. Iseng-iseng ia seringkali justeru menyambangi komplek pekuburan cina tersebut. Kebetulan ladangnya terletak persis di bawahnya. Di pekuburan itu pula Darto menemukan aneka rumput liar. Iseng-iseng ia mengawinkan beberapa bunga rumput yang ada lalu menanamnya kembali.
Entah karena kebetulan atau karena berkat campur tangannya, Darto malah mendapatkan jenis rumput baru. Daunnya sedemikian lebat, cepat tumbuh dan sangat disukai oleh ternak dombanya. Dari situlah Darto lantas menyulap sebagian tegalannya yang selama ini hanya ditumbuhi rumput liar. Ia menggantinya dengan rumput yang ditemukannya tersebut.
Rumput itu ia beri nama Tebon-tebonan. Selain karena tumbuh tegak mirip dengan Tebu, rumput itu batangnya juga terasa manis kalau dikunyah-kunyah. Bedanya kalau rumput Tebon-tebonan itu memiliki kulit batang yang lebih lunak dan daun yang lebih lemas ketimbang tebu. Dan berkat rumput itu pulalah ternak Darto berkembang baik.
Dan sebagaimana lumrahnya, keberhasilan Darto beternak dan menyilangkan rumputpun segera menyebar ke seluruh penjuru kecamatan. Berkali-kali ia didatangi oleh petugas penyuluh peternakan, mahasiswa dan peneliti dari kota. Alhasil nama Darto kian melambung. Namun begitu sebenarnya Darto justeru merasa repot.
Setiap ada tamu, pekerjaannya mestilah terbengkalai. Belum lagi jika harus mengeluarkan minuman atau panganan. Pendek kata kebutuhan dapurnya jadi membengkak padahal pendapatannya tetap. Sudah demikian para tamunya itu seperti tak peduli sedikitpun dengan terbatasnya dompet Darto. Boro-boro memberikan amplop kepada Darto, membawa gula atau Teh saja tidak. Dasar orang kota, ucap Darto suatu ketika saking jengkelnya.
Kalau tidak salah petaka itu dimulai ketika Suatu pagi di sebuah pertemuan desa, petugas penyluh peternakan menyampaikan bahwa ia ingin mengangkat keberhasilan Darto. Ia ingin Darto dinobatkan sebagai petani ternak pelopor. Rupanya nasib baik sedang berpihak pada lelaki melarat yang tak pernah menamatkan sekolahnya tersebut. Darto oleh panitia hari tani nasional dianggap memenuhi kriteria sebagai petani ternak pelopor.
Roda nasibpun rupanya tengah berada di atas. Seminggu yang lalu petugas penyuluh peternakan mendatangi rumah Darto. Ia mengatakan bahwa Darto mendapat undangan dari panitia nasional hari tani. Darto akan diberi penghargaan dan hadiah karena telah dianggap berjasa memajukan dunia peternakan.
Berkali-kali Darto menolak untuk menghadiri undangan tersebut. Dan sebanyak itu pula Darto terus dibujuk serta ditakut-takuti kalau sampai berani untuk tidak datang di hari peringatan tersebut.
“Pak Darto nanti akan mendapatkan penghargaan langsung dari Bapak Presiden,” bujuk penyuluh peternakan yang mengantar undangan untuk Darto tersebut.
“Bapak penyuluh saja yang datang,” jawab Darto ringan. Ia seperti tak bergembira sama sekali dengan undangan tersebut.
“Kok saya yang harus datang? Bukankah rumput Tebon-tebonan itu temuan Pak Darto?” timpal penyuluh peternakan tersebut sambil geleng-geleng kepala. Petugas penyuluh tersebut mungkin heran dengan sikap Darto yang sedemikian itu.
“Akui saja kalau itu temuan Bapak. Beres masalahnya. Saya ikhlas kok!” jawab Darto lugu.
Setelah mengalami bujuk rayu yang panjang, akhirnya Dartopun bersedia berangkat ke Jakarta ditemani oleh petugas penyuluh peternakan tersebut. Gubernur, Bupati, Kepala Dinas Peternakan, Camat dan Pak Kades juga kecipratan undangan. Alasannya karena pejabat-pejabat tersebut dianggap telah berhasil membantu memajukan dunia peternakan di daerahnya. Yang bekerja keras Darto tetapi yang mendapat pujian justeru orang lain. Ironi memang! Demikian ucap Kadir ketika mendengar berita bahwa Pak Kades dan pejabat di atasnya juga dimintai untuk mendampingi Darto guna menerima penghargaan.
Sore itu selepas turun dari pesawat, Darto segera bergegas diajak menginap di hotel. Petugas penyuluh meminta uang saku yang diberikan oleh Pak Bupati kepada Darto. Alasannya untuk membayar biaya hotel. Padahal biaya penginapan telah ditanggung oleh panitia. Dartopun manut saja. Darto yang terbiasa tidur di atas dipan bambu dan hanya beralas tikar pandan, malam itu tak dapat memejamkan matanya walau hanya sekejap. Dingin Ac dan empuknya kasur kamar hotel justeru menyiksanya.
Bahkan ketika sarapan pagi tiba, perutnya terasa ingin muntah. Lelaki melarat yang tak biasa sarapan itu disodori aneka kue dan panganan yang tidak hanya asing namanya tetapi juga rasanya. Walhasil, pagi itu ia hanya sarapan teh manis dan dua potong kerupuk. Karena seluruh makanan yang ada tak sedikitpun sesuai dengan lidah Darto.
Sebelum Jam 08.45 pagi, Darto sudah duduk di kursi yang disediakan oleh panitia. Ia hanya dapat celingukan ketika satu persatu tamu mulai berdatangan. Satu setengah jam kemudian barulah upacara peringatan hari tani nasional itu dimulai. Perutnya mulai keroncongan. Berkali-kali ia ingin melepas sepatunya karena tak terbiasa memakai sepatu. Ada rasa gatal yang gimana gitu. Ia juga merasa ada yang luka di telapak kakinya. Maklumlah ia tidak pernah bersepatu.
Benar saja dugaan Kadir. Ketika Darto diberi hadiah dan penghargaan, Pak Kades hinggan pak Gubernur juga kecipratan pujian dan hadiahnya. Dan lagi-lagi Darto hanya bisa pasrah ketika petugas penyuluh meminta kembali uang saku dari panitia yang tadi diterimanya. Kali ini katanya untuk biaya konsumsi.
“Pak Darto, hadiah yang berupa tabungan dari Pak Presiden ini hanya bisa diambil kalau Saya dan Pak Bupati tanda tangan. Untuk mendapatkan tanda tangan Pak Bupati, Pak Kades dan Pak Camat juga harus tanda tangan terlebih dahulu,” ucap Pak Dinas ketika menyambangi kamar tempat Darto menginap.
“Buku tabungan ini biar Saya saja yang simpan. Semuanya biar diurus saja oleh petugas penyuluh lapangan Saya ini,” sambung Pak Dinas lagi sembari berpamitan. Lelaki itu lalu mengedipkan isyarat kepada petugas penyuluh peternakan yang mendampingi darto.
“ikuti saja petunjuk Pak Dinas. Pasti beres!” timpal Pak Kades dan Pak Camat serasa berbarengan. Entah dari mana kedua pejabat itu tiba-tiba telah muncul juga di kamar tempat Darto menginap.
“Bagaimana Pak? tanya petugas penyuluh peternakan tersebut sembari membarengi langkah Pak Dinas keluar dari kamar Darto. Suaranya dibuat serendah mungkin sehingga lebih mirip berbisik. Rupanya petugas penyuluh peternakan itu belum memahami arti kedipan Pak Dinas barusan.
“Masing-masing dari kita dapat bonus. Kamu pindah kamar saja. Mumpung jauh dari anak istri,” jawab Pak Dinas setengah berbisik pula.
“Pakailah sepuasmu. Kita semua sudah menikmati bonusnya sejak kemarin. Layanannya pasti lebih istimewa daripada yang ada di rumah,” imbuh pak Kades yang mantan Babinsa itu dengan senyumnya yang penuh arti. Petugas penyuluh yang mendampingi Darto itupun segera memahami apa yang dimaksud oleh Pak Dinas dan Pak Kades barusan. Wajahnya juga mendadak sumringah.
“Nanti malam Pak Darto tidur sendirian ya, Saya ada rapat!” pamit petugas penyuluh peternakan tersebut sembari bergegas meninggalkan Darto yang masih belum habis rasa bingungnya. Berbarengan dengan itu, ketiga pejabat yang lain telah terlebih dahulu meninggalkan kamar Darto.
Sepulang dari Jakarta. Di kantong baju Darto hanya tersisa uang sebesar 500 ribu saja. Semuanya lantas ia serahkan kepada Turmini. Dan perempuan itu segera saja berbelanja ke pasar. Malamnya ia unndang tetangga kanan kiri untuk kenduri. Tetanggapun senang. Habis sudah uang hadiah dari Presiden. Darto tetaplah darto yang melarat.
Sementara itu tabungan hadiah dari Presiden telah raib dibagi-bagi untuk Pak Kades, pak Camat, Pak Dinas dan petugas penyuluh peternakan yang menemani darto. Lumayan. Bisa untuk membeli selimut yang bolong.
