EsaiKolom

Perasaan Seorang Lelaki Ketika Nonton “Blonde”: Muak!

Yayat R Cipasang
×

Perasaan Seorang Lelaki Ketika Nonton “Blonde”: Muak!

Sebarkan artikel ini

Monroe yang hamil di luar nikah dan ingin merawat bayi tersebut sampai lahir harus menyerah pada kebiadaban industri Hollywood.

BARU kali ini menonton film beraduk sekaligus antara jengkel, marah dan geram tetapi tetap tak beranjak menontonnya sampai tuntas hampir tiga jam. Sama sekali bukan karena bejibun adegan polos dari bintang utamanya aktris kelahiran Kuba, Ana de Armas.

Blonde adalah kisah tragis tentang model, penyanyi dan bintang film yang menjadi simbol seks pada zamannya, Marilyn Monroe yang memiliki nama lahir Norma Jeane.

Sejak menit awal menonton film yang diproduseri Brad Pitt dan didistribusikan Netflix ini, sejatinya sudah membuat jengkel. Suguhan seorang ibu yang tidak waras karena ditinggal pacarnya setelah hamil kemudian mengurus seorang putri dalam kondisi depresi, sudah bisa ditebak hasilnya. Anak yang sempat akan dibunuh di bak mandi ini sudah pasti sarat traumatik dan terbawa sampai perilaku saat dewasa.

Begitulah kehidupan Marilyn Monroe dalam film hibrid fiksi dan kisah nyata ini. Film berdasarkan novel karya penulis veteran yang juga profesor di University of California, Berkeley, Joyce Carol Oates.

Karena memiliki kisah hidup yang penuh trauma sejak belia, Monroe yang memiliki kecantikan dan sensualitas yang berlebih pada zamannya justru bukan menjadi berkah tetapi jadi bencana hingga ajalnya yang berujung kematiannya karena overdosis pada usia muda, 36 tahun.

Lelaki yang menjadi penggemarnya dimana pun seolah ingin menerkamnya sekaligus memilikinya. Belum lagi industri yang sangat kejam. Monroe yang hamil di luar nikah dan ingin merawat bayi tersebut sampai lahir harus menyerah pada kebiadaban industri Hollywood. Itulah kejamnya aborsi saat itu.

Kerinduannya pada sang ayah yang hanya dapat dilihatnya lewat foto menyebabkan Monroe belakangan selalu menikahi laki-laki yang lebih tua. Kepada suaminya itu Monroe selalu memanggilnya Dady.

Monroe yang berharap para suaminya tersebut menjadi pelindungnya sebagai pengganti ayah yang sangat dirindukannya, alih-alih menjadi oase justru malah menjadikannya sebagai subjek kepuasan seksualitas dan banyak mengaturnya.

Sebagaimana Monroe yang kontroversial, filmnya juga mengundang kontroversi apakah itu dari keluarga atau juga dari para kritikus film.

Pihak keluarga menyebut film tersebut penuh kebohongan dan tidak menggambarkan Monroe yang sebenarnya. Kontroversi lainnya juga terkait adegan vulgar Monroe dengan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

Apakah adegan seperti itu nyata atau tidak? Tidak ada yang pasti. Dan mungkin akan menjadi rumors yang abadi. Seperti halnya dugaan Monroe yang melakukan aborsi lebih dari satu kali.

Pesan moralnya sangat jelas, industri hiburan dan film Hollywood memang bermuka dua. Bisa membuat seseorang makmur tetapi juga memakan korban ekploitasi.

Mungkin masih segar dalam ingatan, seorang produser film kenamaan Harvey Weinstein yang dihukum seumur hidup karena melecehkan aktris-aktris dan memperkosanya. Korban pelecehan itu tidak tanggung-tangung di antaranya Angelina Jolie dan Gwyneth Paltrow.

Ana de Armas mengaku semua adegan telanjangnya dalam film Blonde dilakukan dengan penuh penghayatan dan dilakukan dengan sadar. Pun, Ana de Armas mengaku tidak merasa dieksploitasi termasuk siap menerima konsekuensinya bila semua adegan topless-nya viral di media sosial.