Sebuah percakapan santai di Orlen Heritage Salatiga berubah menjadi ruang refleksi tentang cara manusia menikmati hidup dari syukur sederhana hingga keberanian mengubah jalan hidup.
BARISAN.CO – Sore itu, halaman belakang Orlen Heritage terasa hangat dan hidup. Puluhan orang mengisi bangku-bangku kayu yang tertata rapi di depan panggung kecil untuk mendengarkan, berbagi cerita, dan berbicara tentang satu pertanyaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia memaknai hidup yang dijalaninya.
Ruang percakapan itu bernama All You Can Talk, inisiatif dari yang berkolaborasi dengan Orlen Heritage. Tema yang diangkat sore itu “Enjoy Life to the Fullest” terasa akrab dan relevan bagi beragam orang yang hadir.
Acara dibuka dengan pemutaran video pendek. Di layar, beberapa orang dari latar belakang berbeda membagikan pandangan mereka tentang menikmati hidup.
Ada yang memaknainya sebagai kemampuan untuk pandai mensyukuri sesuatu sekecil apa pun yang diberikan kehidupan.
Ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan untuk bersenang-senang bersama keluarga dan teman-teman, serta menghadapi berbagai persoalan hidup dengan senyum, bahkan dengan tawa.

Host acara, Indra Soekma, kemudian membuka percakapan dengan sebuah refleksi tentang tempat acara itu berlangsung. Ia menyebut Orlen Heritage sebagai ruang yang selama ini mengulik dan merawat sejarah melalui koleksi mini museumnya.
“Di tempat ini biasanya kita melihat masa lalu,” katanya. “Tapi sore ini kita tidak sedang membicarakan sejarah. Kita sedang menciptakan sejarah kita sendiri.”
Indra lalu menyinggung bagaimana dalam sejarah, banyak gagasan besar justru lahir dari percakapan sederhana.
Pada abad ke-18, misalnya, ide-ide tentang kebebasan dan perubahan sosial yang kemudian memicu berkembang melalui diskusi-diskusi santai di kafe-kafe Paris. Orang-orang berkumpul, berbicara, dan bertukar pikiran tentang masa depan masyarakat.
“Sering kali perubahan besar dimulai dari percakapan kecil,” ujarnya.
Awalnya acara ini juga dijadwalkan menghadirkan dua tamu dari Prancis, Jean dan Marion. Keduanya sedang melakukan perjalanan lintas negara untuk mencari makna hidup bertemu orang baru, belajar budaya baru, dan melihat dunia dari dekat.
Namun sehari sebelum acara berlangsung, Marion mendapat kabar duka: pamannya meninggal dunia. Dengan berat hati keduanya harus kembali ke negaranya.
Meski tak bisa hadir langsung, mereka tetap mengirimkan video pendek untuk peserta yang hadir di Orlen sore itu.
Dalam video tersebut, Jean seorang lulusan arsitektur mengatakan menikmati hidup baginya adalah keberanian untuk keluar dari rutinitas, membuka diri pada pengalaman baru, serta berbagi momen indah bersama keluarga, sahabat, dan orang-orang yang baru ditemui dalam perjalanan.
Masih dalam suasana berduka, Marion menambahkan bahwa menikmati hidup tidak selalu berarti berada dalam keadaan menyenangkan.
“Bahkan dalam keadaan paling sulit, kita masih bisa menemukan cara untuk merasakan hidup,” katanya.
Di akhir video, Marion menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat hadir. Ia juga berharap suatu hari bisa kembali dan bertemu dengan orang-orang yang hadir dalam ruang percakapan itu.
Setelah video selesai diputar, Indra melontarkan pertanyaan yang menggeser arah diskusi.
Apakah hidup memang perlu dinikmati sepenuhnya?
Atau justru cukup dinikmati sebagaimana adanya?
Pertanyaan itu membuka percakapan panjang bersama , produser musik sekaligus vokalis Oniblu.
Ony bercerita tentang masa lalunya. Ia pernah bekerja di sebuah bank swasta dan dalam beberapa tahun berhasil mencapai posisi yang cukup tinggi. Kariernya berjalan cepat.
Namun di tengah pencapaian itu, ia merasa ada yang kurang.
Akhirnya ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan kembali menekuni musik, menulis lagu, membuat album, hingga melakukan tur bersama trio band yang ia bentuk.
“Menikmati hidup bagi saya sekarang sederhana,” kata Ony.
“Anak dan istri bahagia.”
Ia lalu menyebut sebuah doa yang sering ia panjatkan.
“Ya Tuhan, tutuplah mata dan telingaku dari nikmat orang lain.”
Ony menjelaskan maksudnya: agar ia tetap fokus pada kehidupannya sendiri dan tidak terjebak membandingkan dengan orang lain.
“Kalau terlalu sering melihat nikmat orang lain, kita bisa lupa mensyukuri nikmat kita sendiri,” ujarnya.
Menjelang magrib, suasana percakapan menjadi semakin interaktif. Beberapa peserta ikut menanggapi dan berbagi pengalaman mereka.
Percakapan kemudian akhiri dengan penampilan Oniblu. Trio asal Salatiga itu memainkan lagu-lagu dari album perdana mereka. Nada-nada blues yang kental mengalun membungkus lirik-lirik tentang cinta dan kehidupan.
Bagi sebagian yang hadir, penampilan itu terasa seperti reuni kecil. Ony kembali bermain bersama Joejoe dan Rony, formasi awal ketika band itu pertama kali terbentuk. Tepuk tangan dan tawa beberapa kali pecah di sela-sela lagu.
Acara kemudian ditutup dengan refleksi singkat dari Indra. Ia kembali pada pertanyaan yang diajukan sejak awal.
Menurutnya, hidup mungkin tidak selalu perlu dinikmati sepenuhnya.
“Barangkali yang lebih bijak adalah menikmati hidup sebagaimana adanya,” katanya.
“Seperti di meja prasmanan: tidak semua hidangan harus kita ambil dan kita makan, tidak semua rasa harus kita paksakan untuk kita cicipi. Cukup memilih yang perlu, mencicipi yang tersedia, dan menerima bahwa setiap orang memiliki selera serta porsinya masing-masing dalam menikmati hidup.” Imbuhnya
All You Can Talk merupakan bagian dari inisiatif Owahism Project yang berkolaborasi dengan Orlen Heritage, sebuah ruang kreatif yang juga menyimpan mini museum kecil tentang sejarah Salatiga.
Pemilik Orlen Heritage, akrab disapa Koh Wi mengatakan ia ingin tempat itu menjadi ruang yang bermanfaat bagi banyak orang.
“Hidup itu sangat singkat,” ujarnya. “Di sisa usia kita, sebisa mungkin melakukan sesuatu yang berguna.”
Ia berharap Orlen Heritage dapat terus menjadi tempat orang bertemu, berbagi gagasan, dan tumbuh bersama.
Sore itu, percakapan tentang hidup berakhir dengan musik, tawa, dan sejumlah pertanyaan yang mungkin masih dibawa pulang oleh para peserta. []







