Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Pikiran Negatif, Bias Informasi dan Bagaimana Mengatasinya

Redaksi
×

Pikiran Negatif, Bias Informasi dan Bagaimana Mengatasinya

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Salah satu kebiasaan baru orang yang sedang berada  di era media sosial sebagai kultur baru dalam berkomunikasi, menikmati informasi, hingga relaksasi menonton tayangan hiburan, adalah menatap layar, baik layar gawai, layar laptop, atau layar televisi.

Para ahli kesehatan mata menyebutkan bahwa keseringan menatap layar banyak berdampak pada apa yang diistilahkan sebagai Computer Vison Syndrome, sindrom penglihatan akibat layar komputer, atau tablet dan ponsel. Umumnya menimbulksn gejala penglihatan kabur, mata perih dan kering.

Tulisan sederhana tidak akan membahas CVS. Saya tertarik untuk mengeksplorasi tentang dampak psikologis tayangan atau apa yang kita tangkap dari layar sebagai “rekaman” di otak kita. Terutama tangkapan yang cukup sensitif, menggugah emosi dan memengaruhi cara berpikir, seperti pikiran negatif.

Layar ada di mana-mana di dunia modern. Apa yang ada di semua layar ini benar-benar apa yang dapat kita bayangkan. Berita gossip, info artis, koruptor tertangkap, eksploitasi anak, hingga komersialisasi doktrin agama. Film horor, film cinta, film perselingkuhan berseri dan lain-lain, bahkan adik presiden menikah dengan jaksa, adalah lintasan yang dilihat, dibaca, jadi bahan meme di grup whatsapp.

Kita perlu memahami, bahwa pikiran, perasaan, ingatan, dan sensasi itu seperti klip acara di layar. Beberapa  menyenangkan, dan itu membuat kita bahagia dan puas. Yang lain mengerikan, dan itu membuat kita cemas dan depresi. Namun, cepat atau lambat, mereka semua akan lenyap dari pandangan dan ingatan jangka pendek kita.

Karena secara tidak disadari, itu akan membuat kita terbawa dalam pikiran negatif jika terlampau melibatkan diri atas tayangan yang kita lihat, info yang kita dengar sepihak. Dan seperti layar, kesadaran itu tetap, namun kita lupa bahwa kita adalah kesadaran itu sendiri.

Dalam arti kita lupa kita bahkan ada. Karena kita  menjadi cerita dan klip di layar. Sesampai di sana, hidup adalah autopilot dan arah hidup didasarkan pada kebiasaan tanpa pikiran saja. Atau pikiran yang mengarahkan adalah sikap frustasi, atau negatif.

Apresiasi diri

“Apresiasi” berasal dari akar bahasa Latin yang berarti menetapkan harga – menentukan nilai. Ketika kita merasa penasaran, kita akan berhati-hati dalam proses itu. Jangan mengamati dan menggambarkan pengalaman untuk mengabaikannya, atau untuk mempercayainya – yang muncul  secara perlahan sehingga kita bisa berada apa adanya.

Mungkin kita akan melihat sesuatu dalam pengalaman yang baru atau berguna, mungkin tidak. Bersikaplah terbuka terhadap apa yang mungkin kita temukan. Di sisi lain kita akan belajar lebih banyak tentang sejarah dan kebiasaan pikiran kita sendiri. Bagaimanapun, itu tetap akan muncul.

Ketika kita dapat menikmati apa yang baik tentang diri kita sendiri, mengakui bahwa semua orang memiliki kekuatan dan juga kelemahan, kita membiarkan diri kita menikmati kebaikan kita tanpa menimbulkan perasaan arogansi dan memunculkan pikiran negatif terhadap apa yang kita lihat atau dengar.

Cobalah hal-hal berikut untuk mengatasi pikiran negatif:

1. Buat persepktif

Keterampilan memahami dengan berbagai oerspektif adalah hal yang luar biasa. Bahkan dalam konsep pendidikan, perspektif adalah evidence dalam struktur pemahaman yang baik besama keterampilan berpikir.

Betapa banyak informasi negatif membuat pembacanya berpikir negatif karena mereka hanya mampu memahami secara terbatas, tidak kreatif dan minim perspektif saat pikirannya menangkap sesuatu lewat indera.

Kekurangan memahami itu acapali membuat pemirsa layar yang menyajikan informasi nirbatas, belum tervalidasi, membuat kesimpulannya sendiri megikuti alur dari tayangan dan persepsi orang. Sebagian bisa menyebutnya sebagai tidak literate.

2. Pertanyaan kritis untuk diri sendiri.

Bertanya dan mempertanyakan diri bisa menjadi salah satu cara menghilangkan pikiran negatif. Melakukan hal ini dapat membantu kita menantang pemikiran negatif dan mengeksplorasi alternatif yang lebih bermanfaat dan realistis.

Meskipun pada awalnya sulit untuk berpikir dengan gaya baru ini, seiring waktu dan dengan latihan, pikiran positif dan rasional akan muncul lebih alami. Restrukturisasi kognitif dapat membantu kita menantang pikiran kita sendiri melalui langkah-langkah, termasuk:

  1. Menanyakan pada diri sendiri apakah pemikiran itu realistis?
  2. Pikirkan apa yang terjadi di masa lalu dalam situasi yang sama dan evaluasi apakah pikiran Anda sejalan dengan apa yang terjadi?
  3. Secara aktif menantang pemikiran dan mencari penjelasan alternatif.
  4. Pikirkan apa yang akan Anda peroleh versus apa yang akan Anda hilangkan dengan terus memercayai pikiran itu.
  5. Kenali apakah pikiran Anda sebenarnya merupakan hasil dari distorsi kognitif, seperti bias, hoaks, atau gosip?
  6. Pertimbangkan apa yang akan Anda katakan kepada teman yang memiliki pemikiran yang sama.

Sama seperti keterampilan lainnya, melatih diri untuk berpikir positif adalah seperti memberikan ruang atau alur bagi otak kita lebih banyak untuk emosi yang positif. Memberi ruang bagi pikiran dan perasaan yang sulit tentu membutuhkan waktu dan juga latihan. Ini bisa terasa canggung pada awalnya, tetapi akan menjadi lebih alami semakin sering Anda melakukannya. [Luk]