Scroll untuk baca artikel
Blog

Riwayat Pekok

Redaksi
×

Riwayat Pekok

Sebarkan artikel ini

Riwayat Pekok, sekarang saya baru merasakan kata pekok punya muatan. Bahkan muatan itu sekarang terpampang di depan mata.

SAYA sering mendengar istilah pekok. Saya menganggap pekok sekadar kata saja. Atau sekadar bahan guyonan ringan. Sebagaimana kata koplak, mehong, atau gondes. Teman saya cantik sering dibilang gondes oleh kawannya ya kalem-kalem saja.

Lantas si cantik kerap membalas dengan kata pekok si kawan ketawa-ketiwi saja tuh.

Sekarang saya baru merasakan kata pekok punya muatan. Bahkan muatan itu sekarang terpampang di depan mata. Ya, orang-orang yang dewasa ini sedang menjadi bahan pembicaraan ramai.

Ibarat panci tidak pandang bulu. Mau panci rombeng, murahan, lama, antik, sedengan, mahal. Kalau panci pekok ya tidak ada lain tetap pekok namanya.

Sungguh keadaan ini tidak membuat saya nyaman. Sebab soal pekok ini bukan masalah panci tapi perkara manusia. Betapa tidak tidak nyaman.

Setiap saya melihat orang-orang itu di televisi saya lihat kening mereka pekok. Dekok masuk ke dalam sebesar bola tenis. Tidak hanya di televisi.

Setiap saya melamun yang terbayang muka-muka mereka dengan kening pekok itu.

Bahkan wajah-wajah pekok itu sering muncul dalam mimpi-mimpi saya.

Ya anda benar: pokoke ngeri thok. [Luk]