Gaya Hidup

Sehari-hari Suka Pakai Bahasa Akademis? Waspadai Dampak Psikologisnya

Anatasia Wahyudi
×

Sehari-hari Suka Pakai Bahasa Akademis? Waspadai Dampak Psikologisnya

Sebarkan artikel ini
kosakata rumit

Studi menemukan orang yang menggunakan kosakata rumit hanya berusaha terdengar lebih pintar alias sok.

BARISAN.CO – Saya memiliki seorang teman yang cerdas. Saat berbicara dengannya, tak jarang saya harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kenapa demikian? Karena terkadang kosakata yang dia gunakan tidak saya mengerti.

Menariknya, sebuah survei terbaru dari Preply menemukan, pandai kata tidak akan mengesankan semua orang yang mereka temui. Itu dikarenakan 43 persen responden berasumsi, orang yang menggunakan kosakata yang terlalu rumit hanya berusaha terdengar lebih pintar daripada yang sebenarnya. Itu berarti mereka dianggap sok.

Dilansir dari Study Finds, Matt Zajechowski dari Preply menyampaikan, memiliki kosakata yang banyak bisa menjadi penting dalam banyak hal. Misalnya, ini dapat membuat orang ingin memperhatikan karena mereka menghargai kecerdasan kita.

“Untuk yang lain, ini dapat memungkinkan untuk menjangkau lebih banyak orang. Jika mengetahui istilah yang mungkin digunakan oleh penggemar olahraga, petugas polisi, dan teknisi komputer, Anda dapat berkomunikasi secara efektif dengan ketiga kelompok tersebut,” kata Matt.

Namun, Matt menyebut, hanya sedikit orang yang memiliki kesabaran untuk membaca atau mendengarkan kosakata rumit.

Survei ini juga menemukan, orang-orang dengan kosakata yang kompleks mungkin ingin menggunakan kalimat yang lebih sederhana saat berbicara dengan teman kencan. Meski begitu, 63 persen mengatakan mereka telah menggunakan kata-kata rumit untuk mengesankan calon pasangan. Sedangkan, 46 persen lainnya menilai, itu adalah kesepakatan kencan untuk tidak perlu menggunakan terlalu banyak kosakata rumit.

Masih dari survei tersebut, banyak orang berpikir kosakata yang kaya membuat seseorang tampak lebih pintar, itu juga dapat menyebabkan beberapa orang kurang memercayai pembuat kata itu. Kenyataannya, satu dari empat orang mengakui, mereka cenderung tidak memercayai seseorang yang menggunakan kata-kata rumit dalam percakapan.

Jauh sebelumnya, seorang profesor psikologi dari UCLA Anderson School of Management, Profesor Daniel M. Oppenheimer telah membahas topik ini melalui makalahnya berjudul, “Consequences of Erudite Vernacular Utilized Irrespective of Necessity: Problems with using long words needlessly“.

Pemenang hadiah Nobel di bidang sastra itu menjelaskan, justru menggunakan kata-kata yang lebih sederhana membuat orang tampak lebih cerdas. Sementara, menggunakan kata-kata yang lebih panjang dan kompleks membuat mereka tampak berpikiran cupet.

Studi ini bahkan dipublikasikan di Applied Cognitive Psychology dan mungkin membuat banyak pengguna kata-kata sulit dipahami merasa tampak sedikit konyol.

Kita semua mungkin berusaha membuat orang terkesan dan terdengar pintar. Seorang wartawan senior pernah menasihati saya untuk tidak menggunakan kata “stereotip”. Menurutnya, orang awam tidak paham maknanya.

Tidak semua orang paham bahasa-bahasa akademik. Dalam kehidupan sehari-hari, menggunakan kata sederhana dan singkat akan lebih membantu ketimbang kata yang ruwet untuk dipahami.

Jangan sampai implementasi interoperabilitas membuat kehidupan organisme manusia terganggu karena tidak memilki relativitas dengan mekanisme sistem linguistik yang ada di masyarakat sehingga membuat sistem ini kurang memiliki efisiensi dan efektivitas jika diaplikasikan. Sekarang paham? [dmr]