Edukasi

Sejarah Nama Jalan di Wilayah Jakarta Pusat

Anatasia Wahyudi
×

Sejarah Nama Jalan di Wilayah Jakarta Pusat

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Banyak nama jalan yang memiliki sejarah dan makna. Mempelajari sejarah dapat membantu memahami dunia.

Berikut ini, empat nama jalan di Jakarta Pusat yang memiliki sejarah dari berbagai sumber:

1. Sumur Batu

Sumur Batu mengalami banyak perubahan. Jika di tahun 1950-an, area tersebut masih teduh karena banyaknya pepohonan besar. Kini, jalan tersebut sudah mulai tersedia bangunan rumah, pasar, sekolah, hingga rumah sakit.

Zaenuddin HM dalam bukunya berjudul 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe menjelaskan kisah terbentuknya nama jalan Sumur Batu. Dahulu, umumnya warga setempat memplester tepi sumur tanah dengan semen serta bebatuan.

Tujuannya tak lain ialah agar bibir sumur tersebut kokoh meski terinjak-injak atau saat hujan turun. Rupanya, cara tersebut menjadi tren di masyarakat.  Sehingga, kemungkinan karena tren bangunan sumur itu menjadi nama bagi wilayah itu.

2. Kebun Kosong

Nama jalan ini berasal dari kondisi wilayah pasca kemerdekaan yang masih banyak kebun kosong. Rumah pun masih jarang.

Rumput liar tumbuh di kebun-kebun itu yang menjadi tempat bermain anak-anak.

Kini, seiring berjalannya waktu. Kebun yang kosong itu menjadi pemukiman padat penduduk. Walau tak lagi kosong, wilayah itu tetap menggunakan nama Kebon Kosong untuk mengingatkan sejarah.

3. Haji Ung

Haji Ung adalah tokoh pejuang Betawi yang tinggal di Utan Panjang, Kemayoran.

Mengutip Poskota.co, kakek dari Benyamin Sueb ini bukan hanya pejuang dan tokoh Betawi, tapi juga guru silat. Konon, kumpeni segan kepadanya karena Haji Ung ini bisa terbang.

4. Tanah Tinggi

Asal-usul nama Tanah Tinggi memiliki dua versi berbeda. Mengutip Jakarta Tourism, versi pertama menyebut wilayah itu memiliki letak dan posisinya yang tinggi jika dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Akibat kondisi geografisnya, Tanah Tinggi tidak pernah banjir.

Sedangkan versi kedua mengatakan jika banyak tuan tanah asal Belanda yang ingin membeli tanah di wilayahitu. Namun, pemilik tanah sering kali mematok harga tinggi.

Tuan tanah dari Belanda itu mengeluh dan membatalkan rencana membeli tanah itu.

Sampai sekarang, jalan yang berada di Kecamatan Johar Baru itu masih disebut Tanah Tinggi.