Gaya Hidup

Seksisme Bukan Candaan atau Perhatian

Anatasia Wahyudi
×

Seksisme Bukan Candaan atau Perhatian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: geldards.com

BARISAN.CO – Mungkin bagi Anda hanya bercanda, tetapi tidak demikian bagi korbannya.

Seksisme seringkali dianggap hanya bercanda oleh para pelaku, namun bagi korbannya adalah bentuk intimidasi yang menyakitkan. Tak jarang bagi yang melawan dianggap berlebihan atau bisa juga ‘tidak asik’.

Jika kalian yang menganggap ini candaan, mari kita tukar posisinya. Apakah pendapat Anda akan tetap sama?

Menurut sejarahnya, seksisme telah muncul pada tahun 1960-an di Amerika Serikat saat Gerakan Perempuan. Pada perjalanannya, seksisme bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan. Sangat menyebalkan!

Kelihatannya memang tidak berbahaya, namun sama halnya dengan minyak, jika dipercikkan api, akan membakar barang-barang di sekitarnya secara menyeluruh.

Berikut ini contoh seksisme yang mungkin Anda dapati dalam keseharian.

1. Dipanggil Sayang

Umumnya, orang yang menggunakan kata “sayang” ke lawan jenis mereka yang tidak memiliki hubungan intim, hanya rekan kerja maupun teman, sering menganggap ini hanya adalah bagian untuk mengakrabkan diri. Namun, bagi mereka yang menerimanya, bisa membuat mereka tidak nyaman.

Sayangnya, jarang yang menganggap ini serius karena minimnya kepekaan terhadap orang lain. Banyak orang yang memilih diam dalam situasi tersebut, namun terkadang mereka menyembunyikan agar tak membuat canggung suasana bagi pelaku.

2. Kapan nikah atau kapan punya anak?

“Kapan nikah?” “Kapan punya anak?” Dua pertanyaan tersebut seringkali masyarakat lontarkan kepada seseorang yang sudah dianggap matang atau sudah menikah. Pertanyaannya yang tak pernah lelah ditanyakan secara berulang-ulang bak kaset kusut.

Anda mungkin bisa saja mengabaikannya, dan berlalu. Namun, jika pertanyaan itu sangat membuat Anda sakit, katakan saja pada mereka begini, “Menikah dan punya anak adalah impian semua orang. Namun, pertanyaan seperti ini tidak harus dilayangkan hanya untuk membuat diri Anda terlihat lebih baik. Karena jika seperti ini, Anda sama saja dengan mereka yang menginjak perempuan atas standar patriarki.”

3. Pulang malam hanya untuk laki-laki

Dalam satu hari ada 24 jam. Tidak semua orang memulai aktivitasnya di luar rumah, di waktu pagi atau siang. Kalau ada perempuan yang pulang malam bukan berarti mereka adalah jalang atau melakukan hal-hal yang melanggar norma aturan.

Bagaimana dengan orang yang hangout pada malam hari? Jam 7 misalnya. Kemudian, acara baru selesai jam 9 malam. Sementara perjalanan ke rumah ‘memakan’ waktu 2 jam, sehingga jam 11 baru tiba di rumah?

Tak jarang label seperti ini membuat sakit karena omongan orang. Mereka menyebarkan fitnah tanpa mencari fakta sebenarnya terlebih dahulu.

Seksisme bukan hanya menimpa kaum perempuan. Laki-laki pun menjadi korbannya. Seperti, laki-laki tidak boleh menangis. Laki-laki harus kuat. Bagaimanapun, laki-laki memiliki perasaan, sama halnya dengan perempuan. Saat mereka menangis artinya ada yang menyentuh perasaan mereka.

Ada juga yang menganggap laki-laki tidak boleh kalah dari perempuan. Laki-laki harus memiliki posisi lebih tinggi. Jika sudah begini, kapan kesetaraan gender akan terjadi? Langgengkan saja patriarki sampai Hulk (tokoh pahlawan fiksi) berubah warna menjadi jingga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *