Scroll untuk baca artikel
Pojok

Sepasar Berapa Hari? Mengenal Tradisi Sepasar Manten dalam Budaya Jawa

×

Sepasar Berapa Hari? Mengenal Tradisi Sepasar Manten dalam Budaya Jawa

Sebarkan artikel ini
sepasar berapa hari
Ilustrasi

Dalam tradisi sepasar manten, biasanya diawali dengan kenduri atau selamatan. Kenduri ini dipimpin oleh tokoh adat, sesepuh desa, atau kyai setempat.

Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas terselenggaranya pernikahan dan harapan agar rumah tangga yang dibangun dipenuhi keberkahan.

Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Momen ini menegaskan nilai gotong royong, kebersamaan, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Bagi masyarakat desa, sepasaran bukan sekadar ritual keluarga, tetapi juga peristiwa sosial.

Tradisi Ketupat Luar dan Prosesi Ngluwari Ujar

Salah satu bagian unik dalam tradisi sepasar manten di wilayah tertentu adalah penggunaan ketupat luar. Anyaman ketupat ini berbeda dari ketupat konsumsi pada umumnya.

Ketupat luar biasanya berisi beras kuning dan uang receh, bukan untuk dimakan, melainkan sebagai simbol.

Beras kuning melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sedangkan janur kuning pada anyaman ketupat dipercaya sebagai simbol penolak bala. Adapun uang receh melambangkan kelancaran rezeki dan kemampuan berbagi.

Dalam prosesi yang dikenal sebagai ngluwari ujar, sesepuh desa atau kyai bersama orang tua pengantin memimpin pembacaan ijab kabul simbolik.

Prosesi ini dimaknai sebagai pengesahan bahwa janji-janji yang terucap saat pernikahan telah “dilunasi” secara adat.

Setelah prosesi selesai, ujung-ujung ketupat ditarik hingga anyamannya terurai (udhar), menyebabkan beras dan uang receh tumpah. Tindakan ini menandakan lepasnya beban, lunasnya janji, dan terbukanya jalan hidup baru bagi pasangan pengantin.

Tujuan Sosial dan Filosofis

Tujuan utama tradisi sepasar manten adalah agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih tenang, bebas beraktivitas, dan tidak lagi dibayangi kekhawatiran adat.

Secara simbolik, mereka telah “diizinkan keluar rumah” untuk bekerja, bersosialisasi, dan membangun masa depan bersama.

Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan nilai kerukunan, berbagi, serta kesadaran bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua individu, melainkan ikatan sosial yang melibatkan keluarga dan masyarakat.

Di tengah perubahan gaya hidup modern, tradisi sepasar manten memang mulai jarang dijumpai. Namun, bagi sebagian masyarakat, terutama di pedesaan, tradisi ini tetap dijaga sebagai warisan kearifan lokal.

Dengan memahami sepasar berapa hari, makna simboliknya, serta nilai-nilai di baliknya, generasi muda diharapkan tidak sekadar melihat tradisi sebagai formalitas, melainkan sebagai cara leluhur merawat harmoni, syukur, dan kebersamaan dalam kehidupan berumah tangga. []