Scroll untuk baca artikel
Terkini

Setelah Crypto, Kartu Grafis Bisa Kembali Langka Akibat ChatGPT

Redaksi
×

Setelah Crypto, Kartu Grafis Bisa Kembali Langka Akibat ChatGPT

Sebarkan artikel ini

Maraknya ChatGPT mengakibatkan kebutuhan akan kartu grafis meningkat dan dapat menyebabkan kelangkaan. Sebelumnya kelangkaan juga terjadi akibat tingginya permintaan dari crypto-mining.

BARISAN.CO – Kartu grafis atau GPU (Graphics Processing Unit) telah menjadi komponen penting dalam sistem komputer untuk mempercepat kinerja grafis dan visual. Akan tetapi, pengguna komputer kembali mengeluhkan kelangkaan kartu grafis akibat maraknya kecerdasan buatan (AI) ChatGPT.

ChatCPT besutan OpenAI menggemparkan dunia dan mampu menjadi trend setter dalam sekejap dan menginspirasi para kompetitor untuk menghadirkan layanan serupa.

Sayangnya dibalik kesuksesan ChatGPT menyihir penggunanya menyisakan masalah baru yaitu kelangkaan kartu grafis (GPU) di industri komputer dunia. Padahal, dunia IT masih berjuang menghadapi krisis semi konduktor yang terjadi beberapa tahun ini.

Saat itu, kelangkaan GPU di dunia dipicu oleh maraknya kegiatan penambangan mata uang kripto (crypto mining). Sama seperti pengembangan AI, pengguna yang melakukan crypto mining membutuhkan banyak GPU.

Tak hanya OpenAI, setiap perusahaan teknologi yang ingin mengembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan masih membutuhkan banyak GPU.

OpenAI dilaporkan membutuhkan 10.000 GPU Nvidia untuk melatih ChatGPT sehingga menghasilkan respons yang menarik dan unik. Dengan raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google yang ingin mengintegrasikan AI ke dalam layanan mereka sendiri, diperkirakan Google sendiri akan membutuhkan 4.102.568 GPU Nvidia A100, yang dapat menggelontorkan biaya perusahaan sebesar $100 miliar (Rp1.520 triliun).

Dilansir dari Gizmochina (16/2), permintaan GPU yang tinggi untuk melatih model AI ini dapat menyebabkan kekurangan kartu grafis. Sebelumnya disebabkan oleh tingginya permintaan dari crypto-mining.

Kekurangan GPU mungkin hanya akan memengaruhi penjualan kartu Nvidia karena mereka memiliki inti AI tercanggih di pasaran. Namun, perusahaan lain seperti AMD dan Intel melihat tingginya permintaan dan potensi keuntungan. Mereka mungkin berusaha lebih keras untuk menyamai Nvidia di arena AI.

Jika Nvidia mengalihkan lebih banyak perhatian ke AI, itu bisa membuka celah bagi AMD untuk mengisi pasar gaming. Kekurangan GPU Nvidia dapat mendorong gamer ke arah AMD. Namun, jika Nvidia berkomitmen untuk memproduksi lebih banyak GPU untuk tujuan pelatihan AI, bisa-bisa harga kartu grafis akan naik lagi.

Hal ini dapat menyebabkan kesulitan bagi para gamer, dan juga dapat berdampak pada industri lain yang mengandalkan GPU, seperti penelitian dan pengembangan, animasi, dan pengeditan video.

Meskipun demikian, kecerdasan buatan yang semakin canggih dengan bantuan GPU akan memberikan kontribusi besar pada kemajuan teknologi di masa depan. Dan sebagai pengguna komputer, kita harus siap menghadapi tantangan apapun yang mungkin terjadi di pasar kartu grafis. [rif]