Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Sifat Seorang Salik dan Laku Puasa

Redaksi
×

Sifat Seorang Salik dan Laku Puasa

Sebarkan artikel ini

Orang salik adalah hamba yang menempuh jalan spiritual sehingga ia mendapati sifat seorang salik yakni menjalankan dan menjauhi perintah-Nya.

BARISAN.CO – Puasa ramadan sebagai upaya jalan spiritual seorang hamba kepada Allah Swt, sebagai perwujudan seorang hamba menjadi orang yang salik. Orang salik adalah seseorang yang menjalani jalan spiritual untuk membersihkan hati dan memurnikan jiwanya.

Sedangkan puasa sebagai salah satu jalan spiritual yakni sebagai laku tarekat dalam pandangan sufisme Islam. Sebab di dalam puasa ada beragam nilai-nilai penyucian jiwa, seperti menahan nafsu baik nafsu jasmani maupun nafsu duniawi.

Jalan spiritual puasa bukan sekadar meninggalkan makan dan minum, serta segala hal yang membatalkan puasa. Akan tetapi lebih dari itu yakni di dalamnya terkandung tarekat laku amalan yang baik seperti memperbanyak tadarus, zikir, dan bersedekah.

Amalan di bukan suci ramadan ini menjadi bagian dari sifat seorang salik, seorang hamba benar-benar menanamkannya ke dalam sikap dan perilaku. Sehingga hidupnya menemukan kedekatan dengan sang Ilahi, senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menghadapi setiap musibah.

Tujuan dari puasa yakni menjadi orang yang beriman, namun bagi laku spiritual atau tasawuf Islam yakni menjadi orang salik. Kitab Khulashah al Tashanif fi al tasawwuf karya Imam Al-Ghazali merupakan kitab jawaban kepada muridnya yang bertanya intisari dari ajaran tasawuf.

Dalam kitab tersebut Imam Al-Ghazali menerangkan kewajiban orang salik untuk menuju kedekatan dengan Allah yakni dengan cara penyucian diri dan jiwa. Tahapan jawaban kepada muridnya ini sebagai tarekat, adapun kewajibannya yakni:

1. Beritikad baik dan jujur

2. Menjalani taubatan nasuha

3. Memohon maaf dan rela, sehingga tidak ada beban atas hak-hak makhluk yang menjadi tanggungan dirinya.

Ramadan ini mengajarkan ketiga hal tersebut, selanjutnya seorang hamba untuk belajar tentang ilmu syariat. Hal ini sebagai upaya seorang hamba memahami ilmu untuk menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya.

Sifat seorang salik menurut para sufi

Sifat seorang salik menurut Al-Ghazali harus menempuh perjalanan dalam 3 hal yakni:

1. Khauf artinya takut kepada Allah Swt.

2. Raja’ artinya berharap hanya kepada Allah Swt.

3. Mahabah atau cinta. Merupakan cabang dari makrifat tanda-tanda sifat seorang salik, memiliki rasa cinta dan mendahuli yang dicintai yakni Allah Swt.

Sedangkan menurut Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menerangkan orang yang salik dalam maqolahnya yang berbunyi:

مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ

Tiada kehendak dan semangat orang salik (yang mengembara menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang gaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.”

Menurut Syekh Ibnu Atha’illah, orang salik adalah seseorang menempuh jalan. Sedangkan yang di maksud orang salik disini usaha caranya bisa wushul kepada Allah. Wushul adalah sampai pada tingkatan merasa selalu berada disisi Allah, di dekat Allah dalam segala kesempatan dan waktu.

Berdasarkan penjelasan di atas sifat seorang salik yakni seorang hamba benar-benar menempuh jalan semata-mata hanya untuk Allah Swt baik dalam keadaan sedih dan bahagia.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Tiada daya dan kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah.”