Scroll untuk baca artikel
Blog

Sorgum: Sumber Pangan, Pakan Ternak dan Energi Masa Depan

Redaksi
×

Sorgum: Sumber Pangan, Pakan Ternak dan Energi Masa Depan

Sebarkan artikel ini

KRISIS pangan dan energi bukan lagi sebagai sebuah prediksi melainkan sudah terjadi dan dampaknya sudah dirasakan sebagian besar penduduk dunia. Badan Pangan Dunia (FAO) dalam Laporan Global Krisis Pangan 2022 melaporkan 193 juta penduduk dunia mengalami kerawanan pangan akut atau setara dengan 53 negara.

Krisis pangan dunia ini diakibatkan karena perang atau konflik, krisis ekonomi, perubahan iklim atau lantaran kombinasi di antara sebab tersebut.

Presiden Jokowi yang menginstruksikan Kementan untuk mengoptimalkan kekayaan alam lokal dalam mengantisipasi kelangkaan pangan pilihannya jatuh pada tanaman serealia berjenis Sorgum, mendapat sambutan petani dan dunia usaha.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian tengah membuat peta jalan (road map) pengembangan Sorgum Nasional hingga 2024 mulai dari hulu sampai hilir. Mulai dari benih, petani, lahan, industri pangan, pakan ternak dan energi hingga pemasaran. Semuanya terintegrasi.

Secara existing tanaman Sorgum yang paling luas di Nusa Tenggara Timur (3.284 hektare) selebihnya hanya ratusan hektare di Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun, kini gairah bertanam Sorgum juga sudah menyebar ke Sumatra dan sekitarnya seperti Riau dan Bangka. Bahkan di Bangka kini tengah dikembangkan di daerah reklamasi bekas tambang timah.

Sorgum Istimewa

Pilihan Presiden Jokowi untuk mengembangkan Sorgum sangat tepat. Karena tanaman yang memiliki multifungsi dan beragam manfaat dari mulai akar, batang, daun hingga bijinya ini sudah melalui riset yang panjang baik di dalam maupun di luar negeri. Kesimpulannya: Sorgum mudah ditanam, menyehatkan, tinggi kandungan gizi serta dapat diproduksi menjadi biomassa dan bioenergi.

Sorgum dapat ditanam di daerah yang memiliki curah hujan rendah atau lahan tadah hujan dan marjinal. Buktinya tujuh penghasil Sorgum terbesar dunia didominasi Afrika.

Di Indonesia tumbuh sangat baik di NTT dan hasil penelitian membuktikan Sorgum juga tumbuh baik di lahan alang-alang. Di Indonesia tercatat ada sekira 10 juta hektare lahan alang-alang dan ini bisa dikembangkan menjadi ladang Sorgum.

Sorgum sangat adaptif untuk semua jenis lahan karena kebutuhan air untuk tumbuh sangat sedikit dibandingkan tebu (1/3) dan jagung (1/2). Tentu di lahan yang ideal tumbuh dan produktivitasnya pasti sangat tinggi.

Dalam catatan Kemenko Perekonomian, hingga 2022 ini realisasi pengembangan Sorgum masih sekira 4.355 hektare dan tersebar di enam provinsi dengan hasil produksi mencapai 15.243 ton atau setara 3,36 ton per hektare.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan musim 2022 ini target sasaran tanam Sorgum sebesar 15.000 hektare, pada 2023 targetnya 115.000 hektare dan pada 2024 diupayakan mencapai 154 ribu hektare.

Dirangkum dari seri bimbingan teknis yang digelar Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Sorgum adalah makanan alternatif pengganti beras atau nasi. Selain menyehatkan karena karena mengandung gizi lebih baik dibanding beras dan gandum, Sorgum juga sangat baik untuk dikonsumsi pengidap diabetes dan autis. Kandungan gizi dalam Sorgum mencakup kalori, protein, lemak, serat, kalium, fosfor dan zat besi.

Menanam Sorgum juga sama halnya menanam jagung. Namun perawatannya sangat mudah karena pupuk yang digunakan lebih sedikit dan dapat dipanen dalam 100 hingga 110 hari. Kemungkinan ganguan hama hanya burung karena bijinya terbuka tidak memiliki pelindung seperti jagung.

Selain itu, daun serta batang juga dapat secara langsung digunakan untuk pakan ternak. Pakan dari Sorgum juga dapat meningkatkan produktifitas ternak. Testimoni ini banyak disampaikan dalam sejumlah diskusi belakangan ini apakah dari peternak skala kecil hingga besar.

Batang Sorgum jenis sweet sorgum juga dapat diolah menjadi bahan gula merah dan gula cair. Bahkan dalam skala industri batang Sorgum. Juga dapat digunakan untuk memproduksi biomassa dan biofuel.

Presiden Mendatang, Lanjutkan!

Sehebat apapun peta jalan, rencana, diskusi dan juga manfaat Sorgum dibandingkan tanaman pangan lainnya tidak ada apa-apanya bila kebijakan yang dibuat saat ini kemudian dianulir pada masa rezim berikutnya. Bila itu terjadi tidak hanya akan membuat petani dan dunia usaha frustrasi tetapi juga masyarakat Indonesia terancam kelaparan dan kesulitan energi.

Karena itu pengembangan Sorgum ini harus berkelanjutan dan menjadi program prioritas atau mungkin masuk ke dalam proyek strategis nasional (PSN). Kenapa tidak? Toh, hilirisasi Sorgum ini memiliki nilai tambah sangat tinggi.

Lahan tidur, lahan milik rakyat, lahan alang-alang, lahan milik Perhutani yang terlantar ataupun yang masih produktif dapat disulap menjadi ladang Sorgum. Antusiasme masyarakat yang menanam Sorgum untuk kepentingan sehari-hari harus tetap tumbuh. Namun, harus dibarengi pertanian massal skala industri.

Karena itu upaya Kementan untuk mengembangkan sentra-sentra Sorgum dalam skala industri yang terintegrasi perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Karena krisis pangan dan energi tidak bisa lagi ditunda dan sedang berjalan tinggal menunggu sampai kapan tiba di Indonesia.

Sorgum sejatinya sudah ditanam di Indonesia sejak zaman Belanda dan dikembangkan baru tahun 70-an. Namun, Sorgum ‘sempat’ dilupakan karena itu Indonesia jauh tertinggal dari Amerika Serikat (11,37 metrik ton), Nigeria (6,8), Etiopia (5,2), Sudan (5) dan Meksiko (4,7). [rif]