Scroll untuk baca artikel
Blog

Stop Anggap Malas Sebagai Hal Buruk

Redaksi
×

Stop Anggap Malas Sebagai Hal Buruk

Sebarkan artikel ini

Malas. Sebuah kata yang sering kali dimaknai sebagai sesuatu yang negatif. Dalam KBBI, malas adalah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Pengertian lainnya adalah tidak bernafsu, tidak suka, segan dan enggan.

Malas juga kerap dituding sebagai penyebab kegagalan seseorang. “Gara – gara malas kamu tidak naik kelas”. “Karena kamu malas makanya nilai kamu jelek.” “Dia belum lulus kuliah karena malas mengerjakan tugas akhir.” “Kamu miskin karena kamu pemalas”.

Organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) bahkan menyebut malas sebagai masalah kesehatan yang serius di dunia. Menurut mereka sekitar dua juta orang dalam setahun mengalami kecacatan dan kematian karena malas.

Negara-negara berkembang disebut-sebut berisiko lebih tinggi terhadap penyakit karena malas berolahraga dan membiasakan hidup sehat. Perkembangan teknologi juga memengaruhi peningkatan rasa malas, karena orang lebih senang di depan gawai mereka sambil rebahan. Kurangnya aktivitas atau gerak mengakibatkan fungsi tubuh menurun.

Tapi, apakah malas seburuk itu?

Menurut aktris muda dan berbakat Maudy Ayunda, malas merupakan indikasi ketidaksukaan seseorang terhadap sesuatu. Hal ini ia ungkapkan lantaran banyak orang yang bertanya “Maudy Ayunda pernah malas enggak sih?” Hal ini wajar ditanyakan sebab Maudy  memiliki prestasi yang gemilang, dari diterima berkuliah di kampus bergengsi dunia hingga melanjutkan studi double degree. Kini ia telah merampungkan kuliahnya dari Universitas Harvard dan Universitas Stanford dengan gelar ganda yakni Magister Bisnis (M.B.A) dan Magister Pendidikan (M.A.).

“Aku melihat perasaan-perasaan negatif ini sebagai sesuatu sinyal bahwa this is not I am supposed to do, this is not I am supposed to be. Hati kita tuh kadang tahu, jadi pada saat malas berarti motivasinya saja yang belum ada dan itu yang harus dicari. Bidang apa sih, pekerjaan apa sih, tempat, situasi, orang yang memang bisa memberikan semangat itu,” kata alumni Universitas Oxford, Inggris ini di kanal Youtube pribadinya Maudy Ayunda.

Sekali lagi, ia menekankan bahwa malas bukan sebuah karakter tapi symptoms atau sinyal bahwa seseorang belum menemukan apa yang benar-benar memberikannya energi. Untuk itu, ia mengajak orang-orang, khususnya generasi muda untuk mengenali diri sendiri seperti apa yang kita suka dan apa kekuatan kita.

“Mengenal diri sendiri itu penting, you can try to get to know yourself too. Kamu tuh hobinya apa, suka kelas apa, dan sebagainya. Dari situ kamu bisa mendapatkan sinyal-sinyal I think I can see my self doing this for while,” ujarnya.

Begitulah sesuatu yang negatif sebenarnya memiliki makna positif, tinggal dari sudut mana kita melihatnya. Dengan memandang malas sebagai sesuatu positif kita bisa menemukan jati diri dan mendapatkan hal yang tepat bagi hidup kita. Yang terpenting adalah tidak membiarkan rasa itu terus menerus. Tanya sama diri sendiri, mengapa malas itu muncul dan apa yang kita mau. Setelah mengetahuinya bangkitlah dan beraksilah dengan segera.

Studi: Orang Malas Cenderung Pintar, Lebih Sukses dan Baik

Selama ini orang malas mendapatkan reputasi buruk, terutama ketika beberapa miliarder paling sukses di dunia memiliki sifat yang sebaliknya.

Richard Branson misalnya. Pendiri Virgin Group ini memiliki kebiasaan bangun jam 5 pagi setiap hari. Dia langsung menjawab email, sarapan bersama keluarganya, membaca berita, menghadiri rapat, dan berolahraga. Ia tidur sebelum jam 11 malam. Branson adalah seorang yang sangat aktif dan berprestasi. Ia menyebut malas sebagai kejahatan.

Itu mengapa sangat mudah menganggap orang malas kurang pintar dan kurang sukses dalam kariernya. Namun menurut sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology membuktikan kemalasan merupakan tanda kecerdasan.