Opini

Suatu Saat Jakarta Mungkin Tak Kebagian Jatah Air dari Sungai Citarum

Yayat R Cipasang
×

Suatu Saat Jakarta Mungkin Tak Kebagian Jatah Air dari Sungai Citarum

Sebarkan artikel ini
Daerah Aliran Sungai Citarum. (Foto: Kementerian PUPR)

MASIH saja banyak yang mengeluh karena Jakarta dan sekitarnya belakangan ini terus diguyur hujan. Bukan mengucap syukur alhamdulillah, justru banyak yang mengeluh dan menggerutu.

Apalagi, akibat drainase yang buruk dan sumur resapan yang belum optimal sejumlah wilayah di Jakarta banyak yang tergenang. Jalanan macet. Semakin sempurnalah penderitaan.

Nun jauh di belahan dunia lain seperti di Eropa dan Amerika Serikat justru pemerintah dan masyarakatnya tengah khawatir karena mereka justru kekurangan air karena curuh hujan yang sangat minim dan salju yang terus menyusut akibat perubahan iklim.

Seperti ditulis BBC dan CNN, sejumlah sungai, bendungan dan waduk di Prancis, Spanyol dan Italia debit airnya terus menyusut. Mereka menginvestasikan lebih banyak dana untuk membangun irigasi dan merehabilitasi sumber air di hulu sungai.

Spanyol misalnya seperti disitat dari CNN Indonesia menginvestasikan sekira US$24 miliar atau setara dengan Rp366 triliun untuk pengaturan air seperti memperbaiki sanitasi dan modernisasi irigasi.

Kabar buruk datang dari kanal-kanal terkenal di kota Venesia, Italia, yang mengering karena kurangnya hujan dan salju selama musim dingin.

Venesia, yang terkenal dengan kanal, jembatan, dan taksi airnya, sedang mengalami pasang surut yang luar biasa, yang mempersulit transportasi.

Sebelumnya kota ini lebih mengkhawatirkan banjir. Namun, belakangan justru yang ditakutkan adalah kekeringan yang memicu kekhawatiran bahwa ambulans dan taksi air akan kesulitan untuk berkeliling. Wahana gondola tradisional juga terpengaruh.

“Fenomena ini tidak biasa,” kata profesor oseanografi dan fisika atmosfer di Ca’ Foscari University of Venice.

Krisis air sungai sebelumnya tidak menjadi kekhawatiran utama di Eropa. Namun setelah terjadi kekeringan yang panjang dan salju tidak terlalu lebat di beberapa negara mengakibatkan debit air di sungai dan danau sangat kritis.

Kondisi serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Sebanyak tujuh negara bagian yang mengandalkan aliran sungai Colorado, terus berunding sangat alot untuk berbagi jatah air.

Dua danau utama yang menjadi sumber aliran Sungai Colorado, Danau Mead dan Danau Powell, debit airnya terus menurun. Sementara tujuh negara bagian itu masing-masing Wyoming, Colorado, Utah, New Mexico, Nevada , Arizona dan California sangat membutuhkan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian dan peternakan.

Enam negara bagian tengah menggugat dominasi California yang yang dilindungi peraturan federal. Peraturan itu yang memungkinkan California memiliki hak penguasaan istimewa atas air di Sungai Colorado.

Perubahan iklim menjadi faktor utama krisis air di Eropa dan Amerika Serikat. Akibatnya curah hujan sangar rendah, kekeringan yang meluas dan kebakaran hutan yang masif semakin menggenapkan dampak krisis air.

Jakarta Terancam

Indonesia sangat beruntung, curah hujan masih tinggi. Air juga masih sangat melimpah terutama di musim hujan.

Sayangnya, air yang berlebih tersebut justru tidak dimanfaatkan secara optimal. Air hujan yang melimpah seharusnya diserap tanah, ditampung di danau, telaga atau empang.

Air yang melimpah itu justru dibuang langsung ke laut tanpa dimanfaatkan terlebih dahulu di hulu dan di sekitar aliran sungai. Akibatnya debit air sungai tidak konstan terutama saat musim kemarau.