Terkini

Tanam Mangrove, Alternatif Lebih Baik Atasi Banjir Rob di Jakarta

Anatasia Wahyudi
×

Tanam Mangrove, Alternatif Lebih Baik Atasi Banjir Rob di Jakarta

Sebarkan artikel ini

Koordinator Ciliwung Institute, Sudirman Asun berpendapat, menggunakan mangrove untuk menahan laju air laut lebih baik ketimbang membangun tanggul raksasa karena akar mangrove dapat menangkap sedimen dan memulihkan ekologi pesisir dan kualitas air Teluk Jakarta.

BARISAN.CO – Tanggul Laut Raksasa (Giant Sea Wall) Jakarta merupakan pengembangan wilayah pesisir Jakarta, yang meliputi konstruksi dinding sepanjang pantai, bangunan penampung air, serta reklamasi lahan.

Tahun 2050, Jakarta diperkirakan akan tenggelam seluruhnya. Dalam upaya mengatasinya, sebuah studi kelayakan untuk membangun tanggul di Teluk Jakarta ini telah dikenal dengan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) master plan atau Giant Sea Wall.

Akhir tahun lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung kembali proses pembangunan tanggul tersebut yang belum juga rampung. Proyek ini diperkirakan akan menelan anggaran Rp1,3 triliun.

Di masa kepemimpinan Anies Baswedan, dia merasa Jakarta tidak terlalu membutuhkan tanggul tersebut. Anies memandang, tanah di Jakarta mengalami penurunan, sedangkan permukaan air laut mengalami naik turun.

Sementara, Koordinator Ciliwung Institute, Sudirman Asun berpendapat, menggunakan mangrove untuk menahan laju air laut lebih baik ketimbang membangun tanggul raksasa karena akar mangrove dapat menangkap sedimen dan memulihkan ekologi pesisir dan kualitas air Teluk Jakarta. Hal itu disampaikan dalam Mimbar Virtual: Penurunan Muka Tanah di Jakarta, Pindah Ibu Kota Bisakah Jadi Solusi?, Rabu (25/1/2023).

“Untuk ketinggian air di NCICD memang cukup mengerikan, tinggi air laut lebih tinggi dari pemukiman sampai 3-4 meter. Hal yang harus kita sadari, bagaimana kita melakukan adaptasinya,” katanya.

Asun menyinggung, nenek moyang kita sebenarnya telah mengajarkan dengan baik cara beradaptasi dengan tinggal di pinggir sungai dan garis pantai, seperti suku bajo dan suku tradisional kampung-kampung di Banjarmasin dan Mahakam.

Dia menilai, arsitektur rumah panggung zaman dulu cukup arif dan orang-orang itu bersedia hidup berdampingan dengan air, meski ada risiko bahwa sewaktu-waktu ada jadwal air pasang laut.

“Mereka sudah menyediakan rumah-rumah panggung yang memang tetap kering. Menyikapi perubahan iklim ini juga kita harus membuat mitigasi bencana dan adaptasinya karena perubahan iklim tidak bisa dielakkan,” jelasnya.

Asun menerangkan, Jakarta berbeda dengan Mikronesia, yang pulau-pulau kecil negaranya akan hilang karena kenaikan permukaan air laut.

“Ketika alam mengambil kembali, kita harus mengikhlasan. Tapi, kita bukan Mikronesia yang akan hilang di peta,” tambahnya.

Begitu pun dengan kenaikan air laut, Asun menilai, menilai kenaikannya tidak signifikan dibandingkan kerusakan di hulu yang mengakibatkan besarnya run-off limpasan air dan laju sedimentasi, ekstrasi air tanah yang tidak terkendali oleh pelaku gedung bisnis perkatoran karena lemahnya aturan penegakan hukum, yang menyebabkan penurunan muka tanah. Sehingga, Asun menyimpulkan, perlu adanya langkah upaya adaptasi, bukan pindah ibu kota.

“Bagaimana jika ada narasi tanding? Jakarta tidak benar-benar akan tenggelam pada 2050 karena karakteristik aluvial kota delta, selalu ada pertumbuhan tanah baru (tanah timbul) oleh sedimen sungai,” urainya.

Asun menegaskan, tanggul raksasa justru berbahaya karena menutup aliran belasan muara sungai yang harus membuang debut air dari hulu dan akumulasi sedimentasi serta pencemaran air limbah dari daratan akan terperangkap, yang mengakibatkan keracunan ekosistem Teluk Jakarta.