Scroll untuk baca artikel
Opini

Tantangan Pekerja Media di Era Kecerdasan Buatan

Redaksi
×

Tantangan Pekerja Media di Era Kecerdasan Buatan

Sebarkan artikel ini

TANGGAL 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Saat ini dunia pers mendapat berbagai macam tantangan. Salah satu tantangan itu adalah aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial inteligent (AI).

Satu aplikasi AI yang sedang ramai dibicarakan adalah ChatGPT. Melalui aplikasi ini, semua informasi bisa disajikan dengan penjelasan yang sangat ‘manusiawi’.

Selain menjawab, ChatGPT juga bisa membuat tulisan yang panjang, bahkan esai, puisi dan lelucon.

Kehadiran teknologi, seperti ChatGPT, menjadi tantangan bagi berbagai bidang pekerjaan, termasuk pers.

Kemampuan ChatGPT yang bisa membuat tulisan panjang, seperti artikel, bukan tidak mungkin akan menggantikan peran pers di masa mendatang.

Tak heran, kerap muncul sebuah pertanyaan “mungkinkah pekerja media akan tergantikan oleh AI?”

Kemudahan yang ditawarkan ChatGPT dalam mencari sebuah informasi menjadikan siapa saja bisa membuat konten dengan mudah.

Bahkan untuk orang yang awam akan sebuah topik. Dan, pastinya fasilitas ini bisa membantu para pelaku media (jurnalis) dalam menjalankan pekerjaannya.

Jurnalis bisa memanfaatkan kemajuan teknologi digital tersebut untuk mendatangkan berbagai peluang besar. Namun, hal itu tentu perlu diimbangi dengan kemampuan kecepatan beradaptasi oleh para insan pers.

Alasan AI Tak Bisa Gantikan Jurnalis

AI hanyalah sebuah robot yang dilatih agar makin pintar. Dia tidak memiliki emosi dan bisa saja salah memberikan informasi. Dia juga tidak bisa bertanggung jawab atau memberikan konsekuensi jika keliru memberikan jawaban.

Seperti media sosial, AI juga berpotensi tercemar oleh berita palsu atau hoaks. Dalam hal ini, pekerja media dengan sumber informasinya yang terpercaya mampu mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh media sosial dan AI.

Jurnalis juga memiliki keterhubungan langsung yang lebih dekat dengan narasumber atau objek informasi. Hal itu tidak dimiliki oleh teknologi seperti ChatGPT.

AI hanya sebuah alat yang bisa membantu tugas awak media, dalam hal ini mempermudah proses riset. Berkolaborasi dengan AI bisa menjadi sebuah opsi walau bukan harga mati.

Insan media harus tetap berpegang teguh pada idealisme, bersikap objektif, dan tidak tergelincir dalam polarisasi menjelang berlangsungnya Pemilu Serentak 2024.

Mengutip pesan Presiden Joko Widodo dalam acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2023, media harus mendorong pelaksanaan Pemilu 2024 agar berjalan jujur dan adil, serta meneguhkan persatuan Indonesia. [rif]