Scroll untuk baca artikel
Kolom

Tasawuf Udud

Redaksi
×

Tasawuf Udud

Sebarkan artikel ini

BAGI masyarakat Muntilan, khususnya yang akrab dengan Pramuka. Nama Marjo sudah jaminan paten sebagai penghafal Dasadarma dan Tri Satya. Bukan cuma hafal, namun juga penghayat sampai di kali. Maklum Marjo bukan jenis spesies yang meyakini bahwa WC adalah satu-satunya syariat menuju kahyangan.

Selain hafal dasadarma pramuka dan trisatya, Marjo yang warga dusun Pulosari Kecamatan Salam Kabupaten Magelang ini sangat bangga dengan pakaian doreng tentara. Nyaris seluruh aktivis pramuka mengenal dan dikenalnya. Ia merasa menjadi alumni di semua sekolah yang memiliki program ekstrakrikuler Pramuka.

Dalam setiap kemah, dari sekolah manapun, ia selalu melantik dirinya sebagai seksi pembantu umum.

“Manusia itu kebahagiannya saat bisa membantu sesama. Seperti dasadarma pramuka ke lima. Iyo to?” katanya suatu saat.

Nah, meski rela menolong dan tabah seperti dasadarma pramuka kelima, kehadirannya ternyata diterima sekaligus ditolak oleh para aktivis Pramuka. Mirip dengan jendral polisi berkumis pengguncang Indonesia, Budi Gunawan.

Bedanya kalau BG ditolak karena dituduh suka menggendutkan rekeningnya dan keluarganya, untuk Marjo ditolak karena dianggap kurang genap alias gila. Barangkali karena hobinya bergendut-gendut itu, BG juga diterima DPR, kalau Marjo diterima memang karena sangat rajin.

“Dasadarma dan trisatya itu tidak untuk dihapalkan. Nggak hapal nggak papa yang penting dilakoni,” katanya saat kemah di dusun Keningar Kecamatan Dukun Magelang.

Saya sendiri tidak dalam posisi menerima atau menolak kehadiran Marjo. Bagi saya Marjo tidak gila, tapi juga tidak waras. Bahkan dia juga berjasa menyampaikan surat cinta kepada Farida Nursinta, yang akhirnya menolak dan sekarang jadi salah satu bos di BNI yogya.

Antara Marjo dan saya hanya berbeda frekwensi saja saat berkomunikasi. Ketika frekwensi sama, klik…nyambung. Khususnya saat diskusi masalah bela negara sambil udut.

Untuk menyamakan frekwensi agar obrolan bisa nyambung sangat gampang. Cukup sediakan Djarum 76. Itupun tak harus sebungkus, bahkan join sebatang berdua juga cukup.

Saya dan Marjo memang penggemar Djarum 76. Kami merokok ada dasarnya, yakni bahwa manusia hidup itu tak melulu butuh yang manis-manis menggembirakan. Namun juga butuh racun, agar semesta dalam diri bisa seimbang.

“Tuhan itu Maha Adil, namun alam tidak. Saya cinta pramuka karena saya gagal jadi anggota ABRI. Nah kegagalan itu juga racun,” kata Marjo berfilsafat.

Ia lalu mengemukakan pendapatnya, bahwa udut merupakan bagian dari penyehatan jiwa seseorang. Dengan udut ia merasa seluruh ototnya yang tegang bisa rileks. Dengan otot yang rileks, jiwa bisa sehat.

“Aku tadi dolan di mbak Mirsha Pucung. Sama mas Danang, suaminya dikasih Djarum Super. Saya terima tapi belum saya udut. Saya masih butuh racun 76, belum yang super,” kata Marjo.

Marjo kemudian mengeluarkan selembar cuilan koran yang membahas asap rokok kretek (bukan rokok putih) yang justru menjadi penyembuh kanker.

Sayang otak saya tak secerdas Marjo dalam mencerna kalimat. Sejauh yang saya tangkap, tulisan itu menceritakan penelitan Prof Dr Sutiman B Sumitro, guru besar biomolekuler dari Universitas Brawijaya Malang.

Dijelaskan bahwa penyakit lebih sering disebabkan radikal bebas. Yakni atom yang memiliki kecepatan reaksi supercepat, sepersekian miliar per detik.

Radikal bebas memiliki elektron yang tak berpasangan dengan inti atom. Karena tak berpasangan, sifatnya menjadi reaktif dan memberikan elektron pada lainnya dan menjadi radikal. Itulah yang menjadi sumber penyakit pada manusia dan mempercepat proses penuaan.

Agar tak radikal, biasanya diberi zat antioksidan agar memberikan pasangan elektron. Antioksidan biasanya berupa vitamin C, E, dan A. Namun meski sudah mengonsumsi vitamin, penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas tak kunjung sirna. Secara kimiawi, radikal adalah bentuk gas yang melarutkan vitamin. Karena larut, saat memberikan elektron, vitamin justru kehilangan elektron dan menjadi radikal.

“Wis rampung mocone? Jadi gini, Vitamin itu ibarat lilin. Ingin menyelamatkan radikal bebas tetapi ia sendiri habis terbakar,” kata Marjo mencoba menerjemahkan.

Agar antioksidan pemberi elektron itu tidak larut menjadi radikal. Harus berbentuk gas.

“Dan ngerti, ternyata itu terdapat pada asap rokok, yang memiliki belasan ribu jenis senyawa kimia. Asap rokok bisa diinisiasi menjadi biradikal yang membentuk nano molekuler kompleks. Karena banyak, ketika memberi elektron pada radikal bebas, tak berubah menjadi radikal bebas sebagaimana vitamin,” kata Marjo.

Dasarnya saya nggak suka Fisika dan Kimia, akhirnya melongo saja.

“Pada prinsipnya asap rokok berbahaya bila kandungan kimia seperti penantrin, nikotin, dan merkuri berbentuk partikel bebas. Namun jika kandungan kimia itu tetap berbentuk senyawa dan berkelompok membentuk polimer, asap rokok tidak berbahaya. Wis ngono wae,” kata Marjo.

Saya lalu berpikir bahwa sesungguhnya kampanye anti rokok itu jangan-jangan didanai produsen rokok luar negeri yang ingin mengambil Indonesia sebagai pasar. Apalagi Indonesia memiliki rokok yang khas, rokok kretek.

“Bener jo. Kretek itu beda sama rokok putih. Dan mayoritas penduduk kita udutnya kretek. Produsen kretek hanya Indonesia,” kataku goblog.

“Nggak usah mikir terlalu dalam, yang penting sekarang kalau udut itu empan papan. Koyo aku, kalau lagi ngobrol sama mas edhie dianggap normal. Aku ngerti kok mas nek dianggep gendeng. Aku nggobloki, yang penting aku bisa udud gratis,” kata Marjo.