Esai

Tegal, Ki Gede Sebayu

Eko Tunas
×

Tegal, Ki Gede Sebayu

Sebarkan artikel ini
ki gede sebayu
Ket gambar: sumber Google

SAYA ingat, di rumah bapak saya di Tegal ada tersimpan Silsilah Ki Gede Sebayu. Disebutkan Mbah saya, M Soegarbo, adalah keturunan pendiri Tegal itu. Penyebutan ‘M’ adalah ‘Mas’, sebagai penanda keturunan dari trah wanita. Kalau dari trah lelaki, disebut Raden Mas.

Di rumah Mbah saya di Kalibuntu Jl Slamet, ada dipasang nama M Soegarbo. Banyak orang mengira M disitu adalah Muhammad. Termasuk saya, belakangan baru tahu arti M itu dari silsilah tersebut.

Saat saya urutkan ke atas, betul, Mbah saya punya nenek buyut bernama Rr Toenis. Saat itu saya terkejut kok mirip dengan nama pena saya, Tunas — awal malah saya tulis Toenas.

Nama Tunas sendiri saya ambil dari kelompok seni ayah saya, Wuryanto, yakni Ikatan Seniman Muda “Tunas” Tegal. Sekaligus untuk mengabadikan marwah orang tua saya yang seorang seniman multi bidang: jurnalis, pelukis, penulis, dan sutradara drama.

Tentang nama Ki Gede Sebayu sendiri ada riwayat politis. Kala Orde Baru, saat maraknya penentuan cikal bakal satu daerah Kota|Kabupaten, Kota Tegal punya tiga calon. Maklum saat itu era orde baru, ada tiga partai politik. PPP, Golkar, PDI.

PPP mengajukan calon Mbah Panggung, Golkar Ki Gede Sebayu, PDI Martoloyo. Mbah Panggung adalah tokoh ulama, yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama desa Panggung. Martoloyo dikenal sebagai perompak laut Utara Jawa, yang direkrut Sultan Agung kala penyerangan Mataram ke Batavia, dan pernah menjadi Akuwu Tetegal (sebelum Bupati|Tegal).

Tentu saja, sebagai parpol single mayoritas, Golkar memenangkan calonnya. Terlebih sesuai dengan visi misi Golkar, diriwayatkan Ki Gede Sebayu adalah tokoh pembangunan. Sebabnya, Ki Sebayu lah yang membangun sistem irigasi. Mengalirkan air dari Kali Prepil untuk kehidupan pertanian sawah, ladang dan tambak.

Lanjut ada tuturan menarik dari Hosie jurnalis dan seniman Semarang yang pernah terlibat dalam penulisan sejarah Ki Gede Sebayu. Dia antaralain bersama Wuryanto ayah saya. Saat itu era walikota M Zakir dari AL, yang dikenal frontal dengan mahasiswa di awal reformasi.

Saat TIM perumus diminta menggambar sosok Ki Gede Sebayu, yang mengerjakan awalnya Wuryanto. M Zakir menolak, sebabnya Ki Gede Sebayu digambar sebagai orangtua. Ujar M Zakir, “Masa Ki Gede kakek kakek kurus miskin begitu?”

Maka Hoesi mengambil alih tugas. Dia gambar sosok Ki Sebayu dari tokoh film Tutur Tinular yang kalau tidak salah ingat diperankan Advent Bangun sang binaragawan itu. Gagah tegap perkasa sesuai hero van Java.

Begitu diajukan, walikota M Zakir tampak suka dan berseri-seri wajahnya. Katanya, “Nah, ini baru Ki Gede Sebayu..!”***