Dalam wawancaranya dengan New York Times, ia mendapat pertentangan dari keluarganya, apalagi ia meninggalkan kampusnya. Orang tuanya pernah bertanya, “Hei Troy, mengapa kamu tidak mendapat gelarmu? Mungkin Anda bisa menjadi insinyur atau guru.” Tapi Troy tetap keras kepala dan terus maju.
“Kedua orang tua saya sudah meninggal, tetapi saya akan mengunjungi mereka di kuburan jika saya memenangkan penghargaan apa pun. Saya akan menunjukkan kepada mereka dan berkata, “Hei, lihat saya sekarang”,” ujar Troy.
Tak hanya mendapat pertentangan dari orang tuanya, Troy bahkan seringkali mendapatkan penindasan dari orang – orang normal karena keterbatasannya itu. Orang – orang itu, sebut Troy, tidak siap bekerja dengan aktor tunarungu.
Sekarang setelah capaian demi capaian ia raih, Troy tampaknya menjadi lebih percaya diri. Dia berharap Hollywood bisa belajar bersabar bekerja dengan orang – orang tunarungu. Sama halnya dengan orang – orang tuna rungu yang bersabar bekerja dengan orang – orang yang bisa berbicara dan mendengar. Karena menurutnya, tunarungu sama seperti manusia pada umumnya yang bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
“Sebagai orang tuli, saya bisa mengemudi, saya bisa memasak, saya bisa berhubungan seks, saya bisa melakukan semua hal. Dalam hal ini, satu –satunya yang menjadi penghalang adalah komunikasi. Hanya itu,” paparnya.
Dan Troy telah berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa keterbatasan tidak bisa menjadi penghalang bagi seseorang mewujudkan impian. Sebelum masuk nominasi, Troy juga pernah memenangkan penghargaan di Gotham Award. [ysn]
