Gaya Hidup

90% Perempuan Mengedit Fotonya Sebelum Diunggah

Anatasia Wahyudi
×

90% Perempuan Mengedit Fotonya Sebelum Diunggah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IG Katrina Yu.

BARISAN.COBerkenalan dengan perempuan di media sosial, rasanya bukan hal yang aneh. Beberapa laki-laki tentu bangga bisa berkenalan dengan perempuan cantik di media sosial, namun tak jarang mereka kecewa setelah bertemu secara langsung. Ada yang tiba-tiba membatalkan atau juga melarikan diri.

Sebuah penelitian dari yang dilakukan oleh Profesor Rosalind Gill dari City University of London menemukan sembilan puluh persen perempuan menggunakan filter atau mengedit fotonya sebelum diunggah. Pada umumnya, subjek yang mereka edit adalah meratakan warna kulit, membentuk rahang atau hidung, membentuk lekuk badan, mencerahkan atau mengilaukan kulit, atau pun juga memutihkan gigi.

Penelitian yang ia publikasi bertepatan hari Perempuan Internasional pada 8 Maret lalu tersebut juga menemukan bahwa perempuan muda sering melihat iklan produk kosmetik terutama pemutihan gigi, pengisi bibir, dan operasi untuk meningkatkan fitur wajah dan tubuh.

Gill mengatakan, unggahan foto di media sosial memang dapat menghasilkan kesenangan yang intens untuk mendapatkan suka dan perhatian, namun juga bisa menjadi sumber kecemasan yang besar bagi sebagian besar perempuan muda.

Rata-rata hampir 100 juta foto diunggah ke Instagram setiap hari. Ada bermacam gaya ditampakkan. Gill mengatakan, “Menghabiskan waktu di media sosial seperti Instagram bisa berdampak buruk untuk menciptakan mental kecantikan serta harapan dari diri sendiri yang tidak realistis.”

Kesulitan untuk membedakan media sosial dengan realita juga menjadi faktor banyak perempuan terdorong mengedit fotonya. “Agar seperti mereka”.

Kenyataannya, para selebriti pun tak semuanya memiliki wajah yang mulus atau pun badan ideal seperti yang dibayangkan. Contohnya ialah Julia Roberts. Ia bahkan sering kali dikritik karena mengedit fotonya agar terlihat sempurna dengan kulit tanpa pori, alis tebal, dan gigi putih. Inilah yang membuat banyak orang pada akhirnya berpikir tidak realistis.

Proses penerimaan diri akan sulit terjadi ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Banyak orang yang berilusi untuk menciptakan visual yang menarik demi like dan komentar.

Baik perempuan maupun laki-laki bertanggung jawab atas hal ini. Perempuan menciptakan standar tidak realistis, dan laki-laki tertarik dengan hal yang tidak realistis tersebut.

Memang banyak yang mengatakan fisik bukan segalanya karena cinta adalah yang utama. Namun benarkah demikian? Lalu bagaimana jika Anda bertemu seorang perempuan yang kurang menarik? Akankah ucapan yang sebelumnya dikeluarkan dapat teguh dipegang? [dmr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *