BARISAN.CO – Relawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sukarelawan, memiliki arti orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela. Merujuk pengertian bahwa relawan melakukan sesuatu hal tanpa ada kewajiban atau dipaksakan.
Dunia kerelawanan merupakan aktivitas individu atau kelompok yang memberikan pelayanan tanpa mengambil manfaat finansial. Ada beragam kegiatan kerelawanan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun ekonomi.
Namun makna relawan makin kabur ketika berdampingan dengan kegiatan politik. Para relawan politik yang seharusnya rela menerima tanpa ada imbalan materi, kekuasaan maupun jabatan. Akan tetapi berujung pada upaya terorganisir untuk mendapatkan keuntungan.
Makna ini semakin menghilangkan filosofi relawan, kerap dipakai kelompok yang mengatasnamakan pendukung politik. Sesungguhnya kata relawan memiliki tujuan suci, luntur membaur jadi tim sukses.
Berbicara politik kerelawanan, seperti kisah Mahabharata. Perang saudara antara Pandawa dan Kurawa yang terjadi di Padang Kurusetra dan dikenal dengan perang Baratayuda. Relawan ini terbagi menjadi 3 kelompok, yakni relawan pendukung Pandawa, relawan pendukung Kurawa, dan tidak memihak keduanya.
Kelompok ketiga dicontohkan tokoh Baladewa yakni kakak kandung Kresna, mengajarkan Duryodana menggunakan senjata Gada dan teknik gulat secara sukarela. Namun Baladewa dalam perang Baratayuda tidak mendukung Kurawa. Berbeda dengan adiknya Kresna yang memihak kepada Pandawa.
Kisah perang Baratayuda mengambarkan politik kekuasaan yang didukung beragam karakter manusia. Mulai dari tokoh yang tidak bisa berperang seperti Sengkuni, tapi memiliki kecerdasan dan kelicikan. Para resi dan maha guru serta para panglima perang seluruhnya terlibat dalam pusaran politik kekuasaan.
Lantas apakah perang Baratayuda merupakan bentuk sukarelawan ataukah relawan politik yang ingin mendapatkan keuntungan? Pada dasarnya Pandawa ingin mengambarkan para relawan tanpa ingin mendapatkan kekuasaan, mereka berkeinginan menegakkan kebenaran. Lain lagi dengan kelompok Kurawa yang memang berambisi mendapatkan kekuasaan.
Berbeda dengan era sekarang, relawan yang mengatasnamakan pendukung politik tertentu memiliki harapan kekuasaan. Menggunakan istilah tersebut bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Tapi relawan menjadi komoditas politik yang bisa diperjual belikan.
Gotong Royong
Beragam kegiatan yang dilakukan relawan menjadi intensitas kelompok. Seperti kelompok relawan saat terjadi bencana maupun kelompok sesuai dengan bidang tertentu baik pendidikan maupun sosial ekonomi.
Menilik perspektif ini dunia kerelawanan memiliki kesamaan dengan istilah gotong royong yakni bekerja secara bersama-sama. Tanpa kebersamaan tentu sangat sulit untuk mewujudkan suatu tujuan. Gotong royong juga diartikan saling tolong menolong atau bantu membantu.
Kerelawanan dalam bentuk gotong royong ini sudah menjadi akar budaya di Nusantara. Seperti di Jawa ada tradisi sambatan yakni bergotong royong membangun rumah atau tempat ibadah maupun bentuk pembangunan lainnya.
Jika saat ini seseorang ingin memiliki rumah, harus beli atau memakai jasa tukang. Dulu tradisi sambatan yakni ketika memiliki hajat untuk membangun rumah, maka warga masyarakat turut terlibat berpartisipasi. Bentuk kerelawanan mereka sesuai dengan kemampuan, jika ia tukang maka membantu proses bangunan. Begitu juga para ibu-ibu mempersiapkan hidangan, baik hidangan untuk istirahat maupun waktunya makan siang.
Tradisi Sambatan di Jawa, gotong royong ada beragam istilah seperti tradisi Marakka Bola di Sulawesi Selatan. Tradisi Maraka Bola yakni gotong royong untuk memindahkan rumah masyarakat Bugis. Di bali ada tradisi Ngayah yakni kegiatan sukarela di bidang sosial kemasyarakatan.
Di Sumatera Utara ada tradisi Marsidapari adalah kegiatan sukarela yang dilakukan di ladang pertanian. Para petani bergotong royong dari Suku Karo ini bergiliran mengumpulkan padi dan memikul bersama sehingga tidak terlalu membebani.
Lain lagi di Kepulauan Riau, masyarakat Melayu ini memiliki tradisi Beganjal. Tradisi ini ketika ada pelaksanaan hajatan pernikahan. Ketika ada pernikahan warga terlibat untuk mempersiapkan pesta perkawinan. Baik itu membuat makanan atau jajanan, memasak untuk keperluan tamu dan mempersiapkan alat pecah belah.
Masyarakat Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam hal gotong royong, jiwa individualisme tidak melekat. Namun sebagaimana tertuang dalam Pancasila terutama sila Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Komunitas
Jiwa gotong royong masyarakat Indonesia tetap tertanam, meski ada badai gelombang individualisme, sekulerisme maupun hedonisme. Jiwa ini mulai menular di kalangan milenial terutama di perkotaan untuk membentuk pos-pos kerelawanan. Seperti Gerakan Turun Tangan yang saat ini sudah ada di 70 daerah.
Para relawan bergerak tanpa didasari pamrih dan mendapatkan keuntungan materi. Sebagaimana Anies Baswedan mengatakan relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai, tapi karena tak ternilai.
Ketua Turun Tangan Muhammad Chozin Amirullah mengatakan, lahirnya turun tangan berawal dari lawan kata Urun Angan, lalu ditambah dengan huruf “T.”
“Sehingga menjadi Turun Tangan. Dengan menambahkan dua huruf T menjadi signifikan perubahannya dan tentunya memiliki makna yang berbeda,” sambungnya.
Pola Turun Tangan bukan model organisasi melainkan movement atau gerakan. Sehingga gerakan kerelawanan di Turun Tangan bergerak sendiri tanpa mengandalkan struktur yang rigid. Turun Tangan memberikan alternatif aktivitas baik indoor maupun outdoor. Mulai dari aktivitas pendidikan, kemanusiaan, ekonomi maupun sosial budaya.
Saat Pandemi Covid-19, relawan Turun Tangan di 70 daerah bergerak memberikan bantuan. Baik bantuan sembako, alat kesehatan, maupun memberikan tunjangan program-program seni dan budaya. “Kita ingin mendedikasikan diri berkontribusi untuk negara. Jika pemerintah memiliki kewajiban konstitusional. Kita memiliki kewajiban moral untuk membayar janji-janji kemerdekaan,” terang Chozin. []
