Oleh: Adib Achmadi
Harapan banyak pihak bahwa pandemi akan segera berakhir dan pendidikan bisa berlangsung normal semakin jauh dari harapan. Situasi pandemi makin memburuk dan mengkawatirkan. Penyebaran Covid-19 dengan berbagai varian makin meluas dan makin tak terkendali. Korban akibat pandemi terus meningkat, bukan hanya mereka yang terpapar, tapi juga yang tak terselamatkan jiwanya. Semua pihak dituntut waspada.
Di sisi lain, apapun kondisinya dinamika pendidikan tak boleh berhenti berdetak. Pendidikan harus terus berjalan dan dituntut bisa mengatasi keadaan. Apapun masalahnya hari ini, seberat apapun beban yang harus dihadapi, bangsa ini tidak boleh kehilangan masa depan. Dan jawaban atas masa depan, salah satunya melalui pendidikan.
Keberhasilan pendidikan hari ini akan berarti kualitas SDM masa depan bangsa. Itu alasan utama mengapa pendidikan hari ini harus bertahan dengan mutu diharapkan terjaga. Pandemi harus disikapi sebagai situasi yang tak terelakkan dan harus menemukan langkah kreatif untuk mengatasinya. Bahkan bila perlu pandemi menjadi momentum untuk melakukan perubahan pendidikan.
Salah satu cara pandang kritis terhadap pandemi adalah memahami wabah ini sebagai bentuk kritik atas pelaksanaan pendidikan selama ini. Berbagai kemacetan luar biasa dalam proses pendidikan bisa ditelusuri bagaimana tata kelola sebelum era pandemi berlangsung. Dasar pemikirannya, andai pendidikan dilaksanakan secara benar, keterpurukan pendidikan tidak separah yang dirasakan saat ini.
Sebelum pandemi, hampir seluruh indikator eksternal pendidikan kita sudah terpuruk. Salah satu di antaranya hasil survei PISA (Programme for Internasional Student Assessment) yang diselenggarakan negara-negara yang tergabung dalam organisasi kerjasama ekonomi (OECD), menunjukkan kinerja buruk dunia pendidikan kita. Selama 20 terakhir capaian pendidikan selalu di bawah rata-rata dunia untuk kemampuan membaca (literasi), sains, dan matematika.
Potret pendidikan vokasi juga belum memberikan hasil yang menggembirakan. Ketika jumlah sekolah vokasi didorong dari sisi kuantitas dengan harapan serapan kerja meningkat. Begitu jumlah sekolah vokasi bertambah, keberadaan lulusan vokasi justru memberi kontribusi pengangguran lebih banyak dari sekolah umum.
Pun prestasi perguruan tinggi Indonesia juga tertinggal. Perguruan tinggi di Indonesia kalah jauh dengan negara tetangga semisal Malaysia.
Keadaan ini menggambarkan ada yang salah dari tata kelola pendidikan kita selama ini. Jika sebelum pandemi saja kinerja pendidikan kita terpuruk maka apalah lagi pada masa pandemi. Hari ini semua pihak, tidak hanya sekolah, menanggung beban berat pendidikan.
Tentu ada banyak faktor mengapa pendidikan kita demikian terpuruk begitu dalam. Setidaknya ada empat faktor penting untuk dicatat dalam tulisan ini, pertama: kepercayaan yang terlalu besar pada institusi pendidikan.
Selama ini banyak pihak, baik itu keluarga, masyarakat, maupun pemerintah menyerahkan kepercayaan penuh pendidikan pada institusi pendidikan. Begitu lama kepercayaan itu diberikan sehingga sekolah sebagai institusi pendidikan menjadi tumpuan utama berlangsungnya pendidikan.
Sebaliknya, tradisi mendidik dan kepedulian terhadap pendidikan menjadi kian pupus di luar institusi pendidikan. Begitu terjadi pandemi di mana hubungan sekolah dan peserta didik tidak berjalan normal, dinamika pendidikan menjadi guncang. Semua pihak tak siap menanggung beban pendidikan. Telanjur pupus tradisi mendidik di keluarga, lingkungan masyarakat, maupun di pemerintahan, sehingga mereka tak tahu harus berbuat apa pada situasi saat ini.
Kedua, tradisi pendidikan di sekolah cenderung menempatkan guru pada posisi sentral (teacher oriented). Kultur pendidikan ini menciptakan ketergantungan besar peserta didik pada guru. Begitu besar ketergantungan peserta didik pada guru dan sekolah, ketika hubungan itu terputus, masalah besar terjadi.
Siswa tak siap dan tidak terlatih untuk mandiri belajar. Pada kondisi ini, kemacetan pendidikan terjadi: peserta didik kehilangan kemandirian dan inisiatif belajar, sementara di rumah dan masyarakat sudah banyak kehilangan tradisi mendidik.
Ketiga, dunia pendidikan kita gagal membangun tradisi pembelajar di sekolah. Peserta didik tiap hari belajar di sekolah tidak membuatnya menjadi pembelajar. Belajar menjadi kegiatan formal dan rutin tapi tidak menumbuhkan elan pembelajar. Dan ketika elan pembelajar tidak tumbuh, hasrat dan motivasi belajar menjadi tidak berkembang.
Kondisi ini yang akhirnya bisa dipahami mengapa literasi jagat pendidikan kita buruk. Bukan soal fasilitas bacaan (baik manual maupun digital), tapi soal mental pembelajar yang tidak tumbuh. Betapapun lengkapnya perpustakaan dan canggihnya media digital, bagi peserta didik yang tidak memiliki elan pembelajar, keberadaan sarana literasi itu menjadi tidak berfungsi optimal, bahkan cenderung disalahgunakan.
Keempat: iklim kreativitas pendidikan kita relatif kering.
Tradisi pembelajaran dan kehidupan sekolah cenderung jatuh pada formalisme dan rutinitas. Selain itu proses pembelajaran juga monoton dari waktu ke waktu serta tak merangsang kreativitas baik guru maupun peserta didik. Sekolah tidak menjadi taman, sebagaimana yang digagas Ki Hajar Dewantoro. Yakni tempat yang indah dan menyenangkan serta menjadi wahana seseorang mengembangkan kreativitas tak terbatas. Sekolah menjadi tempat yang mengekang dan membosankan.
Keempat aspek di atas adalah potret umum pendidikan kita. Bukan hanya saat masa pandemi tapi juga jauh sebelum masa pandemi. Kondisi ini tidak bisa dipertahankan. Perlu ada langkah langkah perubahan yang mendesak agar kondisi pendidikan kita tidak makin terpuruk.
Berkaca pada catatan masalah di atas, beberapa langkah yang perlu diupayakan adalah:
Pertama, menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab bersama. Keluarga, masyarakat dan pemerintah harus memiliki kepedulian besar serta rasa tanggung jawab terhadap pendidikan. Pandemi juga menjadi momentum kembalinya keluarga sebagai ‘institusi pendidikan’ pertama dan utama.
Kedua, pembelajaran mesti berlangsung ‘demokratis’ dengan menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar aktif. Dinamika di sekolah harus menumbuhkan peran yang lebih besar pada peserta didik. Keberadaan guru tidak lagi menjadi pusat belajar. Melainkan menjadi fasilitator yang merangsang pesera didik aktif mengambil peran.
Ketiga, sekolah harus kembali menjadi wahana pendidikan yang menempatkan karakter manusia sebagai yang utama, lebih sekadar transfer pengetahuan. Salah satu karakter itu adalah pembelajar. Elan pembelajar adalah salah satu kunci keberhasilan pendidikan.
Peserta didik yang memiliki elan pembelajar akan menumbuhkan energi belajar disertai inisiatif tinggi untuk mengembangkan diri. Singapura jauh sebelum pandemi telah membuat fasilitas belajar online untuk mewadahi siswa belajar di rumah. Ini terjadi ketika elan belajar siswa tumbuh sehingga belajar tidak hanya berlangsung di sekolah.
Keempat, daya kreativitas harus tumbuh menjadi dinamika sekolah. Kreativitas itu mencakup kegiatan belajar di dalam maupun di luar kelas. Guru tak lagi harus ceramah verbal di depan kelas dengan siswa pasif mendengar.
Kreativitas pembelajaran itu mencakup pendekatan yang lebih komunikatif dan interaktif menggunakan sarana belajar yang inovatif seperti multimedia. Ketika perangkat digital menjadi bagian tak terpisah dari kehidupan guru dan peserta didik, sarana teknologi itu perlu menjadi media pembelajaran yang produktif dan kreatif.
Masa pandemi ini tak bisa lagi menggunakan cara biasa dalam menyelenggarakan pendidikan. Dibutuhkan cara kreatif dengan berbagai pendekatan agar pendidikan tetap menarik dan memacu semangat belajar dalam siatuasi apapun. Itulah jalan perubahan yang dibutuhkan pendidikan kita saat ini. []
Adib Achmadi, Praktisi pendidikan, tinggal di Slatri Brebes
