Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Mencari Pelengkap Puzzle Taktik Mancini

Redaksi
×

Mencari Pelengkap Puzzle Taktik Mancini

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Pada kualifikasi Piala Dunia 2022, Italia harus menelan pil pahit. Menjadi unggulan bakal melenggang menjadi juara grup, mereka justru kesulitan memperoleh kemenangan. Walhasil, mereka harus puas berada di tempat kedua sebagai runner-up.

Untunglah kualifikasi Piala Dunia 2022 belum tamat. Mereka masih punya kesempatan kedua untuk bisa berlaga di Piala Dunia 2022, asalkan mereka berhasil menumbangkan lawannya di babak play-off nanti.

Tentu, itu bukan hal mudah, di mana ada dua tim kuat lainnya yang harus mengikuti laga hidup-mati ini, yakni Portugal dan Belanda. 

Dua tim itu selalunya masuk hitungan di setiap kejuaraan apapun. Sayangnya, bernasib sama seperti Italia, mereka juga harus melewati babak play-off untuk bisa lolos ke Piala Dunia 2022. Dan, tak menutup kemungkinan, di antara mereka bertiga akan saling berhadapan antar satu sama lain.

Sebagai jawara Piala Eropa 2020, kans Italia sejatinya masih besar untuk bisa lolos. Walaupun, dalam suatu kesempatan, melansir dari laman football-italia (17/11/2021), Mancini mengaku tak menginginkan pertemuan dengan Portugal.

“Bila saya harus memilih, saya akan menghindari Portugal,” ungkapnya.

Pasalnya, sebagai juara Piala Eropa 2016, Portugal sejatinya masih sama kuatnya, dan pastinya mereka bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.

Skuat Pasca Piala Eropa 2020

Baru saja menjadi juara piala Eropa 2020, Italia sejatinya diperkuat dengan materi pemain yang bagus. Dari belakang hingga depan, kekuatan mereka hampir terdistribusi rata. Terbukti, mereka tak hanya tak terkalahkan, tapi juga tajam dan rapat.

Tercatat, mereka membukukan 13 gol dan hanya kebobolan 4 gol dalam 7 laga selama perhelatan piala Eropa itu.

Melihat dari kualitas pemainnya, pemain inti dan pemain pelapis Italia juga tak begitu timpang. Misalnya saja ketika melawan Wales di babak kualifikasi Piala Eropa 2020, dengan pemain lapis duanya yang bermain sejak awal, mereka mampu memenangi pertandingan meski dengan skor tipis 1-0. 

Bahkan, Pessina dan Locatelli yang notabene adalah pemain pelapis malah mampu tampil moncer dengan masing-masing telah mengoleksi dua gol di perhelatan itu. Capaian mereka bahkan sejajar dengan pemain inti Italia, Immobile yang juga baru mengoleksi dua gol.

Tentu, penampilan impresif para pemain pelapis itu adalah kabar baik bagi Italia, yang mana sebagian besar dari mereka masih berumur muda. Bahkan, penjaga mistar gawang mereka masih berusia sangat muda, 22 tahun, yakni Gianlugi Donnaruma.

Memang, Roberto Mancini, pelatih Italia, telah berhasil membangun ulang skuat Italia yang banyak berisi talenta-talenta muda.

Nahasnya, pada kualifikasi Piala Dunia 2022, badai cedera melanda skuat Italia. Terhitung, 11 pemain mereka terpaksa absen membela timnasnya. Termasuk di dalamnya terdapat pemain-pemain kunci Mancini, seperti Chiellini, Immobile, dan Verratti.

Akibatnya pun tampak nyata, mereka lebih sering menuai hasil seri ketimbang memetik kemenangan. Walaupun, dari 40 laga terakhir, mereka baru sekali saja menelan kekalahan, tapi hasil itu tak mampu menjadikan mereka keluar sebagai juara grup di babak penyisihan.

Lini Serang yang Mandul

Di tangan Mancini, Italia hadir dengan gaya bermain yang baru dari sebelum-sebelumnya, yakni dengan skema false nine. Skema yang baru untuk mereka yang biasanya menempatkan target man saat bermain counter attack. Nama seperti Christian Vieri, Luca Toni dan Graziano Pelle adalah pemantul bola sekaligus pencetak gol mereka kala itu.

Namun, kini, Italia tak memiliki karakter penyerang seperti itu. Untungnya, Mancini mampu meramu strategi dengan baik, di mana ia justru memperkuat lini tengahnya, sehingga pemecah kebuntuan serta kreasi gol justru datang dari sana. Karenanya, tak jarang gelandang mereka, seperti Chiesa, Pessina, dan Jorginho terpampang namanya di papan skor.

Immobile yang tampil subur bersama Lazio dengan torehan 26 gol di musim perdananya, tak cukup banyak menyumbang gol untuk timnasnya. Walaupun begitu, ia dalam skema Mancini adalah pelengkap kepingan puzzle strategi Mancini.

Bagi Mancini, Immobile dengan bola maupun tanpa bola adalah pembuka ruang untuk laju serangan Italia. Peran ini tentu tidak mudah, namun Immobile mampu memainkannya dengan apik. Kecepatan dan kemauan memberi tekanan saat tanpa bola di lini depan adalah kunci dari perannya sebagai false nine.

Meski kerap diledek oleh tifosi, tapi absennya Immobile dalam skuat Italia meninggalkan lubang besar di lini serang mereka. Terlebih, Italia belum memiliki pelapis yang betul-betul sepadan dengannya.

Sementara itu, hilangnya sosok Verratti juga membuat lini tengah kurang tampil menusuk. Menyusul kemudian Lorenzo Pellegrini dan Marco Barella yang dibekap cedera makin memperlebar lubang di lini tengah mereka.

Ujian bagi Mancini, kini ia terpaksa bertaruh dengan pemain pelapisnya, di babak play-off nanti mampukah ia menemukan kepingan puzzle strateginya? [rif]