Scroll untuk baca artikel
Blog

Deindustrialisasi Prematur Berlanjut

Redaksi
×

Deindustrialisasi Prematur Berlanjut

Sebarkan artikel ini

Ekonomi Indonesia mengalami deindustrialisasi sejak tahun 2003. Sayangnya, itu terjadi secara prematur, ketika perekonomian belum bisa dibilang kokoh.

PEMBANGUNAN ekonomi suatu negara dianggap berlangsung secara baik atau sukses jika terjadi industrialisasi selama beberapa dekade. Ditandai oleh meningkatnya peran industri pengolahan (manufaktur) dalam struktur dan kinerja perekonomian.

Industri Pengolahan meliputi kegiatan ekonomi di bidang perubahan secara kimia atau fisik dari bahan, unsur atau komponen menjadi produk baru. Bahan baku industri pengolahan berasal dari produk pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan atau penggalian, serta produk dari kegiatan industri pengolahan lainnya.

Negara bisa disebut telah terindustrialisasi ketika peran sektor manufaktur menjadi makin dominan. Porsinya dalam Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari sepertiga. Ciri lain berupa penyerapan atas tenaga kerja yang terus meningkat, serta porsi ekspor manufaktur yang bertambah secara signifikan.

Industrialisasi membutuhkan waktu belasan atau puluhan tahun. Prosesnya membuat pendapatan per orang terus meningkat dan mencapai tingkat yang cukup tinggi. Negara tersebut menurut kategori Bank Dunia kemudian termasuk dalam kelompok berpendapatan menengah atas, dan bahkan berpendapatan tinggi.

Selama industrialisasi, porsi sektor pertanian dan atau pertambangan akan berkurang. Sedangkan jasa-jasa sedikit bertambah. Pengertian pengurangan porsi bukan berarti tidak tumbuh, namun dengan laju yang lebih lambat dari rata-rata pertumbuhan ekonomi (PDB). Sedangkan peningkatan porsi memang karena tumbuh dan dengan laju yang lebih cepat.

Pada akhirnya, suatu perekonomian yang makin terindustrilisasi dan berpendapatan tinggi akan berbalik arah menjadi deindustrialisasi. Peran sektor manufaktur perlahan berkurang. Tetap bisa tumbuh, namun melambat.

Sektor yang kemudian melaju lebih pesat adalah jasa-jasa. Dengan catatan, jasa tersebut tergolong modern dan merupakan “kelanjutan” dari industrialisasi. Sebagian besarnya bahkan dapat diekspor. Contohnya: jasa keuangan, jasa manajemen, dan jasa teknologi informasi.

Indonesia sendiri sempat mengalami industrialisasi yang cukup pesat dari tahun 1970an hingga awal tahun 2000an. Namun sejak tahun 2003, berbalik arah menjadi deindustrialisasi. Sayangnya, terjadi sebelum waktunya (premature) atau bisa disebut sebagai industrialisasi yang gagal.

Deindustrialisasi terjadi ketika Indonesia belum mencapai tingkat negara berpendapatan menengah tinggi atau tinggi. Porsi manufaktur juga belum melampaui 30%. Sektor jasa-jasa yang kemudian berkembang terutama bukan yang bisa diekspor. Perkembangan jasa-jasa tidak bisa disebut sebagai lanjutan industrialisasi. Bahkan, cukup banyak yang merupakan “kreativitas” rakyat dan usaha kecil untuk mempertahan kehidupan ekonominya.

Deindustrialisasi terus berlanjut dan terindikasi memburuk selama 7 tahun terakhir. Ditunjukkan antara lain oleh: melambatnya laju pertumbuhan, mengecilnya kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, dan menurunnya porsi dalam total PDB.

Perkembangan porsinya dalam kurun waktu dua dekade dapat dilakukan dengan menambahkan subsektor pengolahan tembakau. Pada data 2000-2009, kedua subsektor masih menjadi satu kelompok. Porsinya pada tahun 2000 sebesar 29,06% perlahan turun hingga 23,14% pada tahun 2006. Meningkat pada tahun-tahun berikutnya, dan makin pesat pada era tahun 2014-2020. Porsinya mencapai 38,88% pada tahun 2020.

Dalam wacana kajian tentang struktur manufaktur dengan tingkat teknologi yang secara umum dipakai dikenal tiga tingkatan. Yaitu: teknologi rendah, teknologi menengah, dan teknologi tinggi. Sektor industri makanan dan minuman serta sektor pengolahan tembakau termasuk memakai teknologi rendah.

Struktur manufaktur Indonesia tahun 2020 didominasi oleh pemakaian teknologi rendah, yang mencapai 54,43%. Selain kedua sektor tadi, terdapat sektor tekstil dan pakaian jadi, sektor kulit dan barang dari kulit, sektor furnitur, dan tiga sektor lainnya.

Deindustrialisasi prematur Indonesia dicirikan pula oleh tidak kuatnya struktur industri pengolahan. Dari 16 subsektor manufaktur pada data BPS, porsi terbesar adalah industri makanan dan minuman. Porsinya terus meningkat pesat dari tahun ke tahun, dan telah mencapai 34,45% pada tahun 2020. Hingga tiga triwulan tahun 2021, porsinya masih 34,68% dari total manufaktur.

Porsi subsektor manufaktur yang cenderung memakai teknologi rendah ini meningkat dibanding tahun 2010 yang baru sebesar 46,51%. Sedangkan yang berteknologi menengah turun signifikan, dari 26,84% menjadi 20,33%. Dan yang berteknologi tinggi sedikit turun menjadi sebesar 26,11%.

Besarnya proporsi industri berteknologi rendah dan kecilnya yang berteknologi tinggi terkonfirmasi pula dalam hal penyerapan tenaga kerja. Meskipun porsi industri pengolahan dalam PDB menurun, namun porsi penyerapan atas total pekerja tetap meningkat. Setelah menurun karena dampak pandemi pada tahun 2020, kembali meningkat pada tahun 2021.

Suatu kajian oleh tim Kementerian Perindustrian tahun 2019 tentang sektor industri tekstil, kimia dan makanan minuman, menambahkan daftar soalan dalam hal teknologi ini. Ditemukan bahwa pabrik-pabrik di ketiga sektor tersebut menggunakan peralatan-peralatan yang berusia lebih dari 10 tahun sehingga dapat dikatakan bahwa teknologi yang digunakan bukanlah teknologi state of the art dan berdampak pada penurunan efisiensi peralatan.

Tentu saja tidak seluruh fenomena sektor industri pengolahan memburuk. Salah satu yang tampak membaik dan menjanjikan perkembangan yang lebih baik adalah sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional.

Sektor itu tumbuh tinggi selama bertahun-tahun dan lebih pesat di era pandemi. Porsinya pada tahun 2020 mencapai 9,39% dan hingga triwulan III tahun 2021 meningkat menjadi 10,09%. Dalam hal teknologi termasuk kategori yang berteknologi tinggi.

Bagaimanapun, deindustrialisasi prematur masih terus berlangsung di Indonesia. Dibutuhkan arah kebijakan ekonomi yang lebih baik dalam industri pengolahan. Kuat dugaan, kondisi ini menjadi salah satu sebab Indonesia masih mengalami “middle income trap”. [dmr]