Ilham menegaskan perlu adanya peranan insinyur untuk membuat Indonesia lebih maju.
BARISAN.CO – Insinyur berperan dalam mengatasi berbagai masalah terbesar dunia, membantu menyelamatkan nyawa, serta dapat menciptakan kemajuan teknologi baru yang kelak akan meningkatkan kemajuan bagi kehidupan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2021, terdapat sekitar 2.600 insinyur per satu juta penduduk di Indonesia. Tentu, angka itu itu menunjukkan Indonesia masih sangat kekurangan insinyur.
Sedangkan, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2021-2024, Ilham Akbar Habibie mengungkapkan jumlah insinyur di Indonesia antara 700 hingga 800 ribu orang. Menurutnya, kekurangan yang terjadi ini, salahsatunya karena kurangnya lapangan pekerjaan bagi insinyur.
“Dan itu, alasanya kenapa struktur industri kita sebagian atau mayoritas industri yang bergerak di bidang manufaktur di Indonesia itu tidak mengembangkan sendiri produknya,” ungkap pria kelahiran tahun 1963 ini kepada Barisanco.
Ilham menyebut, meski Indonesia menjadi pasar sepeda motor terbesar di dunia, namun hingga saat ini belum memiliki satu pun merek sepeda motor sendiri. Sedangkan, negara dengan penduduk di bawah 10 juta seperti Austria memilikinya.
“Jangankan mobil, sepeda motor yang sebetulnya tidak terlalu rumit, tidak ada satu pun merek Indonesia. Semua di tangan asing. Saya tidak katakan tidak boleh begitu, namun ada baiknya kita terbuka seperti itu. Tetapi, buat saya di lain pihak, masa negara besar keempat di dunia ini, tidak ada satu pun merek untuk sepeda motor,” tuturnya.
Pria berdarah Gorontalo ini menyampaikan, Indonesia telah puluhan tahun berdiri, sehingga perlu untuk membangun proyek nasional dan berkomitmen di dalamnya. Jika itu terwujud, Ilham menilai akan membuat banyak insinyur yang ada kembali ke tanah air untuk bekerja dan berkontribusi bagi negaranya.
Meski Pernah Hancur, Korsel Kini Jauh Lebih Maju
Ilham tidak menampik kurangnya lapangan pekerjaan, tak jarang membuat banyak lulusan teknik memilih bekerja di luar negeri. Ia bahkan secara terang-terangan menyebut bahwa negara ini kurang percaya diri karena kurang memiliki keberanian membuat perubahan drastis untuk membangun merek lokal.
Dia kemudian membandingkan Indonesia dengan Korea Selatan. Di tahun 1950 hingga 1953, perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan terjadi. Saat itu, Korea Utara berhasil mendorong Korsel hingga ke Busan.
“Jadi tinggal sedikit lagi, yang lain sempat dikuasai oleh komunis. Kalau Jenderal McArthur tidak datang, negara itu habis. Korsel benar-benar mendapat bantuan Amerika. Jadi di tahun 50-an itu, ini hanya sebagai pembanding, mereka itu parah sekali, tapi kok dia sekarang bisa berkali-kali lipat hebat daripada kita? Satu jawaban, SDM-nya,” papar Ilham.
Perekonomian Korsel memang menjadikan insinyur sebagai profesi fundamental yang bergengsi bagi keberhasilan negaranya. Para lulusan teknik sangat diminati di setiap sektor di sana. Banyak organisasi di sana yang mengembangkan solusi inovasi dan kreatif untuk membuat produk menarik dengan bantuan para insinyur.
Ilham mengatakan selama 50 tahun terakhir, Korea Selatan berinvestasi mendorong lebih banyak insinyur. Pernyataan itu sesuai karena Korea Selatan menempati urutan pertama dalam Indeks Inovasi Dunia Bloomberg 2021 yang mengukur 50 negara teratas dunia menggunakan berbagai kriteria dengan tujuh metrik berbobot sama, termasuk pengeluaran penelitian dan pengembangan, kemampuan manufaktur, dan konsentrasi perusahaan publik berteknologi tinggi.
Maka, tak mengherankan jika Korea Selatan begitu maju. Bahkan, beberapa perusahaan teknologinya mengkhususkan diri dalam teknologi seperti Al, AR/VR, cybersecurity, Fintech, Green Tech, dan IoT.
Dia membeberkan alasan Korsel mengembangkan teknologi, selain memiliki SDM unggul, di sana tidak ada sumber daya alam. Sedangkan kasus di sini, Ilham membeberkan sebab terlalu banyak pilihan SDA yang terkadang justru menghambat insinyur.
Ilham melanjutkan, hanya ada sedikit sekali negara yang benar-benar maju dan sejahtera karena SDA yang melimpah.
“Brunei penduduknya berapa? Atau UEA penduduknya berapa paling cuma 3-4 juta. Memang dia 10 juta tapi banyak expert di situ. Satu negara bisa sejahtera berdasarkan sumber daya alam, itu bisa saja negara kecil. Tapi seperti Indonesia? Jadi kapan pun dan dalam keadaan apa pun, kapan pun kita tidak akan bisa sejahtera dengan struktur ekonomi seperti itu,” lanjut Ilham.
Peranan Insinyur di Indonesia Amat Dibutuhkan
Ilham menegaskan perlu adanya peranan insinyur untuk membuat Indonesia lebih maju. Namun, kenyataannya, dia justru melihat karena keadaannya belum sesuai harapan. Bagi ilham, kebijakan ekonomi saat ini belum memungkinkan untuk menghasilkan industri berkembang lebih baik.
Akan tetapi, Ilham menambahkan bukan berarti kebijakan selama ini tidak berpihak, namun kebijakannya mungkin masih bisa disempurnakan.
“Thailand, Malaysia, dan Vietnam jauh lebih agresif daripada kita. Kalau mau kompetitif, tidak melihat kenyataannya bahwa kita itu sendirian di dunia ini. Kalau kita mau menarik perhatian kapital, orang masuk ke Indonesia sebagai investor, kita harus kompetitif dengan yang lain di dunia ini. Apalagi, yang di sekitar kita,” tambah Ilham.
Dia menyayangkan, struktur industri belum menunjukkan kebutuhan bagi banyak insinyur, yang apabila suatu hari ingin membangun pabrik asing atau domestik, insinyur senior masih kurang sehingga yang terjadi, mereka cenderung keluar dari indonesia.
“Padahal kita, orangnya banyak, tapi, orang dengan tingkat kesenioran seperti itu, mungkin tidak ada. Pada umumnya, saya juga melihat itu salah satu titik lemah kita, rasio insinyur per katakanlah 1 juta penduduk kita, itu masih sangat kecil, di bawah hampir semua negara yang saya tahu Asia Timur dan Asia Tenggara. Vetnam jelas di atas kita, China apalagi, kalau kita lihat berapa ribu insinyur, memang rasio kita itu sangat rendah,” jelas Ilham.
Ilham menganggap ini bisa menjadi indikasi bahwa lebih banyak insinyur yang perlu lebih dididik dan mendapat pekerjaan. Meski demikian, Ilham menilai sektor pembangunan dan infrastruktur yang paling hidup. Hal itu bisa terlihat dalam pemerintahan era presiden Joko Widowo.
“Banyak sekali infrastuktur yang dibangun dan diselesaikan. Walau tol trans Jawa dan tol trans Sumatera belum selesai 100 persen, tapi sudah lumayan memerlukan insinyur yang banyak. Dan, memang ada banyak insinyur sipil, insinyur yang bergerak di bidang konstruksi, itu banyak di Indonesia,” ujar Ilham. [rif]
