Oleh: Agung Wibowo
PAK Tarso lama merenung di dalan pos ronda. Malam ini adalah giliran jaganya. Padahal dia sudah mendapat giliran jaga pada malam sebelumnya. Namun para tetangga tidak mau datang untuk berjaga karena adanya isu teror hantu tanpa kepala yang selalu muncul pada malam Jum’at seperti saat ini.
Teror itu muncul sejak adanya seorang warga yang meninggal terbunuh. Tepatnya pada malam Jum’at tiga bulan lalu. Korbannya adalah Jimin teman Pak Tarso. Pelakunya adalah istri Jimin sendiri, Rini bersama pria simpanannya. Motif pembunuhan itu berlatar belakang perselingkuhan. Dan sang pelaku telah menjadi buron dengan membawa serta harta simpanan korban.
Pak Tarso hanya ditemani Mas Karto seorang pemuda kampung. Mereka berdua duduk di dalam pos ronda sambil menikmati kopi dan merokok.
“Mas Karto, sebetulnya saya heran. Setiap giliran saya jaga ronda, kenapa tidak pernah bertemu dengan hantu tanpa kepala yang katanya datang tiap malam Jum’at begini. Padahal saya sudah pernah jaga pada hari yang sama beberapa waktu lalu,” kata Pak Tarso kepada Mas Karto.
“Pak Tarso, mohon jangan ngomong begitu tho! Saya nanti takut beneran kalau ketemu hantu itu. Bisa-bisa saya mati berdiri jadi hantu penasaran juga. Saya khan belum kawin, Pak. Saya niat menemani jaga karena berpikir sama seperti Bapak. Karena aneh setiap malam Jum’at giliran Bapak jaga nggak ada yang namanya gangguan hantu. Makanya saya berani jaga ronda mewakili bapak saya,” ujar Karto.
“Ya uwis, ya sudah. Saya nggak mau ngomongin hantu lagi. Bisa-bisa kamu malah pulang ndak mau menemani saya jaga,” kata Pak Tarso.
“Saya cuma heran sama si hantu itu. Apa karena katanya hantu itu arwah penasaran si Jimin temanku, sehingga tepat giliranku jaga, dia ndak mau nakuti saya,” kata Pak Tarso sambil mengerutkan alisnya.
“Haizzz … Pak Tarso ini semakin membuat saya merinding. Kenapa Bapak malah minta ditemui si hantu itu? Hiiiii …” kata Karto ketakutan.
“Karto … Karto, kamu ini kok takut sama hantu. Kita itu seharusnya khawatir kalau ketemu penjahat yang menyamar jadi hantu. Sudah sana, kamu keliling dulu sebentar! Kalau ada hal yang mencurigakan, kamu pukul kentongan!” ujar Pak Tarso.
“Baik, Pak! Nanti gantian ya!”
Karto berjalan menyusuri jalan kampung yang gelap berbekal senter dan kentongan. Malam ini seperti tidak biasanya karena angin dingin serasa menusuk tembus ke dalam sweater-nya.
Bulan yang bersinar temaram, membantu menerangi jalan sekitar kampung. Rerimbunan pohon dan daun bergesekan, menimbulkan suara karena terpaan angin.
Suasana sepi dengan suara serangga yang bersautan menambah kesunyian malam yang mencekam. Membuat bulu kuduk Karto semakin berdiri semenjak tadi karena takut dengan cerita hantu itu.
Tiba di pinggir sebuah sungai kecil, Karto mampir berniat buang air kecil sebentar. Belum terlaksana niatnya, Mas Karto melihat sesosok pria berdiri di pinggir sungai.
Sambil mengarahkan senternya ke arah rerimbunan pohon yang menghalangi pandangannya, Mas Karto berkata,
“Hoooii, siapa di situ? Mas Panjul, ya? Mas Panjul kenapa di situ? Lagi buang hajat, ya?” teriak Mas Karto.
Tanpa menoleh ke arah Mas Karto, sesosok itu pun tetap diam tak menghiraukan panggilannya.
“Hoooiii, kok diam tho Mas Panjul?” ujar Karto lagi.
Mas Karto pun penasaran dengan sesosok orang itu yang tidak menyahut panggilannya. Kemudian dengan sedikit keberanian, Mas Karto semakin mendekat dengan perasaan jengkelnya.
“Mas, Mas Panjul, hehh!”
Sambil mendekat dan menyapa lagi, Mas Karto mengarahkan senternya ke arah orang itu.
Terhenyak kaget, Mas Karto melihat wajah orang yang berdiri di hadapannya itu.
“M-M-Mas Pan-Pan-Panjul? Haaaaaaa? P-P-Pak J-J-Jimin?! Huwaaaaaa! Hantuuuuuuu …!” teriak Mas Karto sambil lari terbirit-birit.
Seketika wajah orang itu terlihat jelas mengerikan di hadapan Mas Karto. Wajah hitam dan berdarah yang berekspresi sedih menagis, berdiri melayang tidak menapak tanah. Dan ternyata itu adalah arwah Jimin yang mati penasaran.
Dengan langkah berat tak kuasa berlari, Mas Karto pontang-panting terjerembab beberapa kali di areal jalan berlumpur.
Dan sampai di pinggir sebuah empang, Mas Karto beristirahat sejenak terbungkuk kelelahan bertopang lutut. Dengan terengah ketakutan menghela napas tersengal, Mas Karto menggigil gemetaran.
Dalam keadaan masih terbungkuk, Mas Karto melihat di depannya sebuah bayang terkena cahaya senter yang masih dipegangnya.
“Hosss … hosss … siapa, di situ?” tanya Mas Karto kepada sesosok di depannya dengan terengah-engah.
Sambil mendongakkan kepalanya, Mas Karto tertegun melihat sesosok manusia tanpa kepala yang berdiri menunjuk ke arah sungai tadi.
Seketika keletihan yang sejak tadi hinggap, hilang berganti segera.
“Ha-ha-hantuuuuuu …!” teriak Mas Karto sambil berlari lagi.
Dari kejauhan Pak Tarso mendengar suatu teriakan meminta tolong. Sambil berdiri melihat ke arah suara, ia membawa golok yang telah ia siapkan.
Sampailah Mas Karto berlari menuju pos ronda. Dengan menggigil, Mas Karto berdiri di hadapan Pak Tarso.
“P-P-Pak Tarso, di arah sungai sana ada hantu Pak Jimin. Kemudian saya lari dan b-b-bertemu hantu tanpa kepala berdiri di tengah jalan mencegat saya. Hiiiiii …,’ cerita Mas Karto ketakutan tanpa sadar celananya basah oleh air seni yang belum sempat untuk dikeluarkannya tadi.
“Apa, hantu Jimin?” tanya Pak Tarso.
Seketika tanpa dinyana kedua orang itu, hantu tanpa kepala kembali memperlihatkan diri di hadapan mereka.
Dan kembali Mas Karto berteriak ketakutan berlari ke belakang Pak Tarso.
Dengan penuh keberanian, Pak Tarso mengamati tubuh hantu tanpa kepala itu sambil memanjatkan doa perlindungan.
“Hai, hantu sialan! Apa maumu menakut-nakuti semua warga di sini. Siapa sebenarnya kamu!?” bentak Pak Tarso.
Seketika hantu tanpa kepala itu berubah bentuk utuh menjadi sesosok wujud Jimin si korban pembunuhan yang juga teman Pak Tarso.
Dengan wajah penuh darah dan memelas, hantu Jimin menangis seraya bercerita,
“Saya Jimin, Mas Tarso. Saya minta tolong untuk diambilkan kepala saya terjepit di balik batu yang dibuang Rini dan Rudy simpanannya di sungai sana. Tolonglah Tarso, saya memohon, satukan kembali raga saya” kata hantu itu sedih.
Mayat Jimin yang terbunuh itu dikubur tanpa kepala. Mayat tersebut ditemukan di kamar rumah korban. Sedangkan kepalanya terpisah hilang tak ditemukan. Padahal Polisi dibantu warga telah mencarinya lama.
“Kamu tho, Jimin! Hmmm … baiklah kalau begitu. Tapi ada syaratnya, kamu tidak boleh menakuti warga kampung. Dan kembalilah kamu nanti ke alammu!” ujar Pak Tarso.
Dengan mengangguk, hantu Jimin menghilang dari hadapan Pak Tarso dan Mas Karto.
Esoknya, kabar cerita itu tersebar ke penjuru warga kampung. Dan dibantu sebagian warga yang mengenal sungai itu, Pak Tarso memimpin pencarian kepala almarhum Jimin sesuai yang diceritakan.
Tak berapa lama kepala Jimin yang terpisah dari anggota badannya ditemukan telah berupa tengkorak manusia. Tak ayal lagi tepat sesuai informasi yang diberikan oleh si hantu itu.
Dengan dipimpin Ustad Karim, kepala Jimin disatukan lagi ke tubuh almarhum setelah dilakukan pembongkaran makam.
Sejak saat itulah sesuai janji arwah Jimin kepada Pak Tarso. Hantu tanpa kepala itu telah lenyap tak memperlihatkan diri lagi.
Dan para warga pun telah tenang serta lega. Selega almarhum Jimin yang tersatukan lagi raganya bersama tertangkapnya Rini dan Rudy sebagai pelaku pembunuhnya.

Agung Wibowo; Penyair tinggal di Semarang, menulis puisi dan cerpen. Buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul “Jalan Cinta.”
