Scroll untuk baca artikel
Kolom

Surga di Telapak Kaki Pengembang

Redaksi
×

Surga di Telapak Kaki Pengembang

Sebarkan artikel ini

SEBAGAIMANA diriwayatkan oleh sebuah hadits, suatu ketika Nabi Muhammad SAW didatangi Jahimah as-Salami yang minta pendapatnya tentang Jihad. “Apakah engkau masih punya ibu?” tanya beliau, dijawab iya oleh Jahimah. “Hendaklah engkau berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya,” kata Nabi.

Hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan ath-Thabrani itu menjelaskan, betapa Nabi Muhammad SAW sangat memuliakan perempuan. Karena sesungguhnya dari rahim perempuan itu kehidupan manusia dimulai. Kecuali saja mungkin Adipati Karno yang dalam pewayangan Jawa dikisahkan lahir dari telinga Dewi Kunthi.

Namun seiring derasnya pembangunan perkotaan yang memerlukan tempat tinggal, kantor, tempat belanja, tempat hiburan dan seterusnya, surga yang menawarkan berbagai fasilitas kehidupan yang begitu menggiurkan sudah dikangkangi oleh para pengembang.

Ibu memang tetap dihormati. Tapi sudah semakin sedikit orang yang percaya ada Surga di telapak kakinya. Maka makin sedikit pula orang bersimpuh memegang telapak kaki ibunya di hari Lebaran. Karena Surga sudah dikudeta oleh Para Pengembang yang menawarkan kenikmatan hidup, harapan dan lebih pasti dijangkau oleh segelintir orang.

Di jantung-jantung perkotaan bermunculan apartemen yang menyatu dengan hotel, kompleks perkantoran dan mall. Tak jauh dari sana berdiri pusat-pusat hiburan yang menawarkan bidadari-bidadari cantiknya. Semua fasilitas hidup yang serba wah tersedia.

Maka, surga, setidaknya surga dunia, tidak lagi berada di bawah telapak kaki ibu. Melainkan sudah take-over di kaki para Pengembang. Kalau surga sudah diambil-alih oleh para Pengembang terus siapa saja orang-orang yang masuk surga?

Tentu saja bukan jenis manusia yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan berbuat baik kepada sesama sebagaimana yang diperintahkan oleh agama. Bukan pula yang rajin beribadah ke masjid, kuil, kelenteng, sinagog atau gereja. Melainkan orang-orang berkantong tebal tidak peduli apa agamanya dan dari mana asal-muasal harta kekayaannya.

Gus Mus, Buya Syafii Maarif atau Romo Sandiawan tidak akan pernah bisa masuk surga berbintang 5 yang ditawarkan oleh Para Pengembang. Paling mereka hanya bisa masuk ruang lobi atau tritisannya saja.

Sebab Daya beli adalah satu-satunya tiket untuk masuk surganya pengembang. Semakin tinggi daya beli, semakin banyak kenikmatan hidup yang ditawarkan. Bahkan Kekaisaran Roma beserta kolam renang dan bidadari-bidadarinya bisa anda bangun, selama anda mampu membayar semuanya.

Penghuni surganya pengembang setiap melangkah ke lift dengan kartu yang hanya bisa diakses oleh orang tertentu, disambut bak seorang raja. Terlebih bila penghuni itu royal mencipratkan sejumlah tip ke petugas security yang helmnya bertuliskan PKD.

Saat perekonomian diprediksi akan terus bergairah, para Pengembang terus bergerak menciptakan sorga-sorga kehidupan yang baru. Kawasan Pondok Indah yang tahun 1970-an masih perkebunan karet disulap menjadi kompleks permukiman mewah.

Begitu pula dengan Serpong, Karawaci, Cikarang, Cirendeu, dan sebagainya. Hunian yang lebih sederhana dengan daya beli menengah ke bawah juga dibangun di Depok. Singkat cerita, setiap orang dibuatkan sorganya masing-masing yang fasilitasnya tergantung dari daya beli. Bukan iman dan taqwa sebagaimana kita orang-orang beragama.

Bukan itu saja, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, sebuah stasiun televisi swasta gencar menawarkan promosi. “Buruan, hanya Rp1 miliar, tiga hari lagi naik Rp1,2 miliar,” cetus bintang iklannya, tak lupa menampilkan maket-maket kompleks hunian super mewah.

“Hanya satu miliar?” Mungkin itu terdengar muskil bagi mayoritas warga DKI Jakarta yang berpenghasilan di bawah Rp5 juta. Saya saja yang take home pay Rp10 juta, dipotong pajak 10 % x Rp5,5 juta (penghasilan kena pajak), bila menabung separuh dari semua penghasilan tidak sampai Rp60 juta per tahun. Apalagi mayoritas kelas pekerja dengan upah minimum regional yang hanya Rp3,2 juta per bulan.

Tentu pangsa pasar rumah di atas Rp1 miliar adalah 0,5 persen rumah tangga Indonesia yang menguasai 50,3 persen kekayaan nasional, atau setidaknya 10 persen orang terkaya yang menguasai 77 persen kekayaan nasional. Dan saya tidak perlu Ge-eR masuk dalam kriteria itu. Kalau regulasi diubah oleh Pemerintah dan DPR akan menjangkau seluruh orang kaya di muka bumi.

Jangankan Rp1 miliar, Rp100 miliar hingga Rp1 triliun masih dicari orang. Perbedaan Sorga dan Neraka di atas Peta DKI Jakarta, bahkan Pulau Jawa akan semakin terlihat nyata. Kesenjangan sosial bukan lagi masalah angka, melainkan juga terlihat nyata di ruang-ruang publik yang potensial melahirkan kecemburuan dan gejolak sosial.

Orang-orang yang sulit mengakses surganya para pengembang akan sembunyi ke identitas, agama, ras atau asal daerah yang melahirkan pemimpin-pemimpin populis yang berakar dari prasangka dan kebencian. Gejolak ini yang akan disambut sejumlah elite politik untuk tujuan politik jangka pendeknya.

Data Bank Dunia yang dirilis ekonom senior Faisal Basri itu memang menunjukkan ketimpangan sosial yang luar biasa. Tapi bagi pengembang, 10 persen dari 257 juta penduduk adalah potensi pasar yang luar biasa. Terlebih apabila regulasi diubah sehingga orang-orang kaya Guang Zao, Hongkong, Bahrain, dan Qatar bisa membeli properti di Indonesia.

Saat ekonomi menggeliat dengan penuh gairah harga Rp1 miliar dalam 5 tahun bisa naik berlipat-lipat. Maka pengembang semakin militan membangun surga-surga kehidupan di jantung kota Jakarta. Tentu saja dengan bujukan investasi yang menghasilkan keuntungan luar biasa.

Ada sebuah cerita guyon. Seorang bapak 50-an tahun membelikan istri mudanya apartemen seharga Rp2 miliar. Biaya hidup istri mudanya selama 5 tahun, per bulan Rp20 juta adalah Rp1,2 miliar. Setelah 5 tahun bercerai karena ketahuan istri tuanya, rumah itu dijual dengan harga Rp6 miliar.

“Tahu untung gede begini kenapa bapak cuma piara 1 istri muda?” ucap istri tuanya sambil senyum-senyum melihat rekening di tabungannya bertambah Rp1,8 miliar.

Investasi properti tidak selamanya berbuah manis. Sub-prime mortage crisis di negeri Paman Sam mestinya menjadi pelajaran bagi para calon investor. Kebutuhan perumahan, terutama yang tujuannya sekedar investasi, suatu saat pasti mengalami titik jenuh.

Seperti di Amerika, sebelumnya bank-bank gesit menawarkan KPR ke nasabahnya. Setelah semua nasabah (prime mortage) memiliki KPR maka bidikannya diarahkan ke investor (sub-prime). Karena sub-prime gagal bayar, harga properti ikut-ikutan terjungkal.

Surga di kaki Pengembang berubah menjadi neraka yang membuat Bank-Bank dan investor bertumbangan. Sebut saja Lehman Brother, bank investasi yang berdiri sejak Abad 18 bangkrut. Amerika menjadi paceklik. Karyawan gedung putih sempat shut-down karena pemerintah Amerika tidak mampu membayar gajinya.

Dampak krisis sub-prime mortage itu terasa betul di Indonesia. Harga komoditas yang sebelumnya booming tiba-tiba anjlok. Permintaan ekspor menurun. Akibat yang paling nyata adalah dipenjarakannya sejumlah bankir dan Pejabat Bank Indonesia terkait bail-out Bank Century.

Tampaknya siklus krisis yang akan terus berulang tidak membuat kapok para pengembang. Selain mendirikan apartemen, mall, pusat perkantoran dengan cara mengusir orang-orang miskin dari perkampungan kumuh di jantung kota Jakarta yang membuat jumlah penduduk Jakarta Pusat menurun mereka juga mengincar pantai untuk diurug dan dijadikan pulau-pulau palsu.

Sialnya di tengah tingginya kebutuhan masyarakat akan rumah, drama pengusiran orang-orang miskin oleh para pengembang yang dibantu oleh para mafia tanah, muncul gedung-gedung tinggi dan pulau-pulau palsu yang ruangan-ruangannya dibeli oleh segelintir orang kaya dengan tujuan investasi.

Hingga pergantian Gubernur baru, dari Ahok ke Anies, kita belum tahu apakah proyek reklamasi bakal diteruskan. Kalau proyek yang menguruk perairan di teluk Jakarta itu terus berlanjut, Jakarta akan benar-benar menjadi surga bagi orang-orang kaya, bukan saja asal Indonesia, tapi sedunia.

Untuk memuluskan itu semua, maka regulasi yang menghambat kepemilikan orang-orang asing atas kepemilikan properti di Indonesia harus segera dihapuskan. Dengan begitu, orang-orang kaya Hong Kong, Tiongkok, Singapura, Amerika dan sebagainya bisa memiliki rumah di Jakarta.

Sebaliknya, penduduk pendatang yang berpenghasilan di bawah Rp5 juta akan dicurigai memiliki tuyul atau babi ngepet kalau sampai punya rumah di Jakarta. Paling mungkin mereka akan tinggal di rumah susun atau mengontrak di sisa-sisa permukiman yang luput dari incaran Pengembang.

Jadi, apabila kepemilikan properti boleh dimiliki oleh warga negara asing, sulit dibayangkan betapa mahalnya harga properti di Indonesia nantinya, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Apartemen, rumah susun, atau komplek-komplek hunian yang dibangun bukan menjadi tempat tinggal, melainkan sebagai obyek investasi.

Padahal WNI yang benar-benar membutuhkan rumah mencapai 3,2 juta per tahun, sedangkan pemerintah dan pengembang hanya mampu menjanjikan 1 juta rumah. Artinya akan terjadi backlog (selisih kebutuhan dan pasokan) sebesar 2,2 juta rumah.

Karena gairah pengembang dalam pemenuhan tempat tinggal lebih berorientasi daya beli dengan tujuan investasi, bukan kebutuhan nyata, tidak mengherankan bila suatu saat nanti banyak hunian mewah yang kosong melompong karena jarang didatangi pemiliknya.

Mungkin yang akan tinggal di hunian mewah itu pengontrak rumah, pembantu rumah tangga, karyawan senior atau istri muda. Atau bahkan dibiarkan kosong begitu saja, dihuni gendruwo atau apapun nama makhluk halus lainnya. Sebab pemiliknya menganggap seperti halnya menaruh emas batangan di rumah atau di bank.

Tapi ingat, surga akan seketika berubah menjadi neraka yang menyusahkan banyak orang. Sebut saja kasus sub-prime mortage crisis di negeri Paman Sam yang membuat sejumlah pejabat teras Bank Indonesia masuk penjara.