Tobat adalah kembali dari perbuatan maksiat atau dosa menuju taat kepada Allah, dan menyesali semua perbuatan dosa yang dilakukannya.
BARISAN.CO – Manusia tempatnya salah dan dosa, itulah gambaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Namun salah dan dosa jika terus dikerjakan maka akan semakin menggunung. Akan tetapi jika mendekatkan diri melalui jalan kebaikan tidak dapat dipungkiri bisa menjadi hamba yang sempurna di hadapan Allah Swt. Oleh karena itu perlu penyadaran akan salah dan dosa yakni dengan jalan tobat.
Salah satu tokoh tasawuf yang membicarakan pentingnya seorang manusia mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah Imam Al-Ghazali. Sang Imam membimbing manusia untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri baik dengan ibadah maupun amalan lainnya.
Imam Al-Ghazali dengan karya monumentalnya Ihya Ulumuddin membimbing para pesalik atau hamba untuk melakukan ketundukan. Inilah jalan yang harus ditempuh sejatinya tasawuf yakni membimbing seseorang agar lebih dekat dengan Allah Swt.
Melalui jalan kebaikan terlebih lagi jalan tasawuf sebagai upaya penyucian jiwa untuk lebih dekat kepada sang maha pencipta. Sedangkan tobat adalah jalan pertama dalam pandangan tasawuf yakni maqam pertama yang harus dilalui seorang hambat atau seorang salik.
Lantas apa pengertian tobat itu? Tobat (توبة) merupakan bentuk masdari dari kata (تاب) taba, bentuk masdar lain yakni taubatan (توبا) artinya kembali atau menuju ke jalan Allah Swt. Sedangkan secara terminologi yakni kembali dari perbuatan maksiat atau dosa menuju taat kepada Allah, dan menyesali semua perbuatan dosa yang dilakukannya.
Sendangkan orang yang tobat di sebut atta’ib (التائب) yakni orang yang kemabli dari sesuatu yang dilarang menuju apa yang diperintahkan Allah Swt.
Imam Al-Ghazali menerangkan betapa terminal pertama ini sangat penting yang harus dilalui. Ada dua alasan yang disinggung Imam Al-Ghazali melalui kitab Minhajul Abidin yang dikutip dari terjemahan berjudul Jalan Para Ahli Ibadah yakni Pertama, agar engkau dibimimbing dalam beribadah kepada Allah Swt.
Sebab, perbuatan dosa itu pada akhirnya hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Dosa itu juga mengikat langkah seorang hamba sehingga sulit bergerak menuju jalan ketaatan atau bergegas untuk berkhidmat kepada-Nya.
Kaki menjadi berat untuk melangkah ke jalan kebajikan. Bahkan, perbuatan dosa yang dilakukan terus menerus dan semakin berat iitu, akan membuat hati seorang hamba menjadi hitam pekat dan keras.
Kedua, untuk bertoba adalah karena tobat, ibadah dan ketaatan itu merupaan jalan menuju pengadilan Allah Swt.
Seorang kreditur tidak akan mau menerima hadiah dari pengutangnya (debitur) sebab yang ditunttu seorang kreditur adalah agar si debitur itu membayar hutangnya.
Begitu pula dalam hubungan antara Allah Swt dan para hambanya. Allah Swt tidak mau menerima hadiah berupa ibadah dari para hambanya tanpa si hamba melakukan tobat, sebab tobat itu utama dari seorang hamba yang telah berdosa.
Maka bagaimana Allah swt akan meneriam hadiah ibadahmu, sementara hutangmu (tobat) yang sudah jatuh tempo belum juga engkau bayar?
Begitu juga sang Imam Al-Ghazali menjelaskan betapa pentingnya tobat nasuha. Ada sebuah pertanyaan tentang makna tobat nasuha, adapun pertanyaan tersebut yakni:
“Apakah tobat nasuha ada batasannya dan apa yang harus dilakukan oleh seorang hamba agar ia terbebas dari semua dosanya?”
Imam Al-Ghazali menerangkan tobat adalah salah satu tindakah hati. Seperti dikatakan para ulama, tobat adalah memebrsihkan hati dari perbuatan dosa.
AllahSwt berfirman dalam surah An-Nisa ayat 110:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110).
Allah swt berfirman dalam surah At-Taubah ayat 104:
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?.” (QS. At-Taubah: 104).
Lebih lanjut Imam Al-Ghazali menerangkan tentang empat (4) syarat tobat, yakni:
Pertama, berusaha untuk tidak melakukan dosa lagi. Ia mengikat hatinya dengan kuat dan meninggalkan keinginan bahwa ia tidak akan mebali kepada dosa tersebut sama sekali.
Kedua, ia bertobat dari dosa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Sebab, jika ia belum pernah melakukan dosa tersebut, maka berarti ia menjaga diri darinya, bukan bertobat.
Ketiga, dosa yang disesali oleh seorang hamba sekarang adalah memiliki kedudukan dan derajat yang sama dengan dosa yang pernah ia kerjakan di masa lalu dan ingin ia tinggalkan.
Keempat, bahwa tobat itu dilakukan semata-mata untuk mengagungkan Allah Swt dan menghindari kemurkaan serta siksa-Nya yang pedih. Bukan karena keinginan duniawai dan rasa takut kepada manusia. Juga bukan karena mencari pujian orang lain, mencari nama, kedudukan maupun jabatan.
Imam Al-Ghazali bahkan menjelaskan prasyarat taubat ke dalam tiga prasyarat tobat seorang hamba. Adapun tiga prasyarat tobat tersebut adalah:
Pertama, menyadari betapa buruknya dampak dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap hatinya.
Kedua, ingat atas kerasnya siksa Allah Swt, kepedihan yang bakal ia alami akibat murka dan kemarahan-Nya yang engkau tidak akan sanggup untuk menghadapinya.
Ketiga, seorang hamba mesti menyadari besarnya kelemahan dan kurangnya tenaga untuk bisa menahan diri dari godaan dosa. Sebab, mana mungkin orang yang tidak tahaun panasnya matahari dan tamparan tangan polisi akan sanggup menahan panasnya api neraka, pukulan pentungan berduri dari malaikat Zabaniah, gigitan ula ular yang besarnya seperti leher onta dan kalajengking-kalajengking sebesar keledai yang diciptakan dari apai di Neraka Jahanam?
Semoga Allah Swt melindungi kita dari kesemuanya itu. Dan semoga Allah Swt melindungi kita dari murka serta azab-Nya. Hanya dengan menyesali dosa-dosanya maka ia akan bertobat. Dan penyesalan itu benar-benar merupakan sifat seorang hamba Allah Swt.
Menyesali dosa merupakan sebab dari tobat, dan merupakan sifat orang-orang yang bertobat. Itulah mengapa Rasulullah Saw menamakannya dengan tobat. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.





