SAYA kok belum bisa move on dari perbincangan tentang Fir’aun. Jujur saja, saya salah satu manusia yang tertarik dengan hasil kebudayaan Mesir kuno yang notabene dipimpin seorang Fir’aun.
Fir’aun eksis di muka bumi yaitu dari 3150-30 SM. Mereka yang berjuluk atau bergelar Fir’aun itu tak melulu pribumi Mesir. Ada juga yang dari Yunani dan Persia. Merekalah yang menang perang untuk kemudian berkuasa di Mesir dan mendapat gelar Firaun.
Saya nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan warga Mesir, terutama yang memiliki DNA generasi ke sekian ratus ribu dari salah satu Fir’aun itu, ketika tahu kalau di Indonesia itu Fir’aun adalah simbol kejahatan.
Padahal nggak semua jahat kan?
Begini. Fir’aun memang mendunia karena ada peran antagonis yang harus dimainkan ketika zaman Nabi Musa berdakwah. Peran yang diembannya itu juga diabadikan dalam kitab-kitab agama samawi.
Jangan-jangan Fir’aun ini dengan sadar memilih peran yang diperintahkan Tuhan agar manusia lebih tercerahkan dan bisa belajar hidup darinya.
Yang terjadi saat ini, manusia Indonesia yang melek peradaban etis mengasosiasikan lawan-lawan politik sebagai Firaun.
Dalam berbagai penelitian arkeolog dan sejarawan dunia, Fir’aun yang kejam dan ada di kitab suci kemungkinan besar adalah Ramses I dan Ramses II.
Pada masa Ramses I yang merupakan pendiri dinasti ke-19, ada pengumuman untuk membunuh semua anak laki-laki yang lahir dari keluarga Yahudi.
Ingat ya, keluarga Yahudi. Sebuah bangsa yang saat ini juga sering diasosiasikan dengan negeri jahat dan gerakan jahat zionis.
Konon Ramses I khawatir kalau kebiasaan orang Yahudi yang rajin memproduksi anak dalam jumlah banyak dapat mengganggu keberlanjutan kerajaannya. Sampai disini masih masalah nasionalisme dan stabilitas negeri Mesir ya.
Pada saat itu pula Musa lahir. Agar aman, ia dihanyutkan di sungai Nil. Lha ndilalah ia malah dipungut jadi anak oleh permaisuri Ramses I dan jadi saudara angkat Ramses II.
Ramses I mati. Ramses II diangkat menjadi Fir’aun menggantikan ayahnya. Nah ini soal penguasa yang mewariskan kekuasaannya kepada anak keturunannya ya. Sama sih seperti ketua umum partai mewariskan kepemimpinannya pada anaknya.
Sama juga dengan bupati yang menjadikan anak atau istrinya jadi bupati berikutnya. Atau malah lebih parah, seorang lurah mewariskan kekuasaannya kepada anaknya dengan meniti karier sebagai kepala dusun atau ketua RT dulu.
Kembali ke soal Fir’aun, ketika Ramses II jadi Fir’aun, Musa dijadikan musuh negara. Kira-kira seperti negeri kita yang menjadikan komunis dan bekas pengurusnya sebagai musuh negara juga.
Memang alasannya sangat abstrak dan berada di langit karena ini soal Tuhan. Soal keilahian yang sesungguhnya sangat personal.
Maka Ramses II hanya disebut Fir’aun dan akhirnya menjadi tokoh antagonis karena menolak menyembah Gusti Allah Musa.
Saya curiga jangan-jangan memang Ramses II alias Fir’aun ini memang sedang menjalankan perintah Gusti Allah agar manusia belajar mengelola perbedaan sesembahan secara lebih beradab.
Mari kita lihat kepemimpinan Fir’aun lainnya. Pada 1888, teori bahwa piramida dibangun oleh pekerja Mesir yang merdeka dikonfirmasi. Hal ini dibuktikan oleh penelitian arkeolog Inggris bernama Flinders Petrie di kompleks piramida Kerajaan Senwosert II di Ilahun. Petrie menemukan permukiman yang dikelilingi oleh tembok di Kahu.
Di sana, dia menemukan kota yang direncanakan dengan baik. Kira-kira sama dengan Ibu Kota Nusantara yang juga direncanakan dengan baik, kecuali dalam hal menghabisi berbagai tumbuhan dalam hutan.
Kota yang direncanakan itu, lengkap dengan berbagai fasilitas dan barisan rapi rumah bertingkat bata lumpur menyediakan banyak papirus, tembikar, perkakas, pakaian, dan mainan anak-anak. Semua puing-puing kehidupan sehari-hari yang biasanya hilang dari situs Mesir.
Dalam ekspedisi arkeologis lain yang dikembangkan pada tahun 2000-an ditemukan ada stempel-stempel nama kuno. Hal ini adalah bukti birokrasi pemerintah Mesir Kuno dalam melacak distribusi makan dan rumah para pekerja dalam skala besar. Tulang hewan yang ditemukan di desa tersebut menunjukkan bahwa para pekerja mendapatkan potongan daging terbaik.
Tim arkeolog juga menemukan adanya toples roti ribuan jumlahnya. Disimpulkan itu adalah stok logistik pekerja, yang tidur di asrama lebar yang dibangun khusus.
Dari sini kita lihat bahwa mereka adalah pekerja bukan budak. Budak tidak akan pernah diperlakukan sebaik ini, bahkan lebih baik daripada pekerja sawit atau proyek jalan tol yang ada di Indonesia.
Di sekitar permukiman para pekerja ini juga ditemukan berbagai sisa tulang hewan, gentong makanan, dan grafiti yang menunjukkan mereka diperlakukan layak.
Semakin menulis tentang Fir’aun, saya kok bersimpati padanya. Fir’aun tak butuh Perppu Cipta Kerja untuk menyejahterakan pekerjanya. Fir’aun juga tak menjual negara atas nama investasi untuk kesejahteraan rakyatnya.
Sejahat-jahatnya Ramses II yang membunuh bayi-bayi Yahudi, ia tak membunuh rakyatnya, termasuk dengan aneka pajak yang mencekik leher.
Yang diusir dari Mesir adalah orang Yahudi yang dianggap mengancam kedaulatan Mesir, meskipun ini sangat subyektif. Sama subyektifnya dengan tenaga kerja China di Morowali.
Bedanya, yang bentrok di Morowali itu sampai sekarang tak jelas penyelesaian kasusnya. Tapi saya bisa memahami karena memang investasi sangat penting, bahkan kepala daerah juga akhirnya diminta merem jika ada yang mau investasi, meski banyak aturan dilanggar.
Malah melebar kemana-mana. Kembali ke soal Fir’aun.
Kita anggap dan kita yakini bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang sadis. Tapi masa hanya karena Ramses II seorang rusak seluruh Fir’aun sedunia?
Miriplah dengan gelar khalifah yang diberikan kepada semua penguasa kekhalifahan Umayyad, Abbasiyah, atau Ottoman misalnya. Kan kita nggak mungkin juga mengatakan khalifah itu semuanya jahat hanya karena Muawiyah sang pendiri kekhalifahan Umayad membunuh Hasan dan Husein yang cucu Nabi?




